Tari Soyong


Nah. lho..ada yang tahu tari soyong ?..kalau nggak nih tak kasih videonya. saat pentas pelepasan siswa kelas 9 SMPN 1 Kasembon

BANGSA ARAB (ARAB SAUDI) : MENJADI BANGSA/NEGARA PEMERAS BANGSA LAIN…?

Hari-hari ini bangsa Indonesia dikejutkan dengan tuntutan diyat (uang tebusan) dari keluarga majikan Satinah yang mencapai 21 milyar. Lebih terkejut lagi, pemerintah Indonesia menyanggupi pembayaran diyat tersebut. Ini bukan lagi diyat. Ini adalah pemerasan berkedok diyat. Pemerasan berkedok dalil aplikasi hokum Negara arab Saudi. Anehnya, kerajaan Arab Saudi sepertinya tuli. Membiarkan pemerasan terjadi.  Andai saja  Satinaah jadi dipancung karena tidak sanggup membayar diyat-pun tidak masalah. Sebab Negara Indonesia, juga menerapkan hukuman mati bagi pembunuh semacam itu.
Kasus pemerasan terhadap pembunuh mulai Darsem sampai Satinah yang bertopeng pada pembayaran diyat sangat lah melukai  perasaan orang Indonesia. Pertama karena pemerintah Indonesia sendiri saat ini kelihatan bodohnya. Kedua, di Indonesia saja, kasus pembunuhan semacam itu banyak terjadi. Banyak juga yang dihukum mati. Ketiga, adalah salah Negara mengirim TKI ke Negara Barbar.
Hari ini Pemerintah Indonesia kata Joko Suyono, Menteri Pertahanan dan Keamanan Indonesia bahwa diyat (denda) atas pembunuhan yang dilakukan Satinah di Arab Saudi akhirnya dibayar oleh Negara. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, 21 Milyar. Ini pemerasan. Bagi kebanyakan orang di Indonesia, menebus diyat pembunuh dengan bayaran yang luar biasa mahalnya adalah kebodohan dari pemerintah yang berkuasa sekarang. SBY seharusnya hanya perlu menjelaskan kepada keluarga Satinah dan Keluarga pembunuh lainnya yang terancam hukuman mati di Arab Saudi dan Negara lain, bahwa konseksuensi hokum dari perilaku harus ditanggung oleh yang bersangkutan bukan oleh Negara. Negara hanya memiliki kewajiban melakukan pendampingan terhadap rakyatnya yang mengalami masalah hokum dinegara lain. Sementara kerajaan Saudi Arabia menjadi cukong bagi pemerasan ini. Sebuah angka pemerasan yang akan terus meningkat, jika pemerintah Indonesia memanjakan rakyat Arab Saudi memeras kita. Nah, sekarang, ternyata kita masih terlalu mudah dikibuli oleh orang Arab Saudi…..

Atau kah ini mencari simpati public menjelang pemilu 9 april nanti ?. percayalah bahwa rakyat membenci cara Negara menangani kasus Satinah…………..

Google translate : Indonesia - Arab

العرب (المملكة العربية السعودية): أمة / دولة أخرى تابعة للأمم الابتزاز ...؟


في هذه الأيام صدمت الأمة الإندونيسية من قبل الدية المطالب ( فدية ) من أسرة صاحب العمل Satinah التي وصلت إلى 21 مليار . أكثر بالدهشة، تتعهد الحكومة الإندونيسية دفع الدية . لم يعد السعديات . فمن الابتزاز تحت ستار السعديات . الابتزاز تحت ستار حجة تطبيق دولة القانون السعودي . من المستغرب، المملكة العربية السعودية بدا الصم . دعونا حالة الابتزاز. إذا أن المفروم فقط Satinaah حالا إذا لم يتمكنوا من دفع الدية ليست مشكلة. لأن دولة إندونيسيا ، وأيضا عقوبة الإعدام على القتلة من هذا القبيل.
حالة الابتزاز ضد قاتل بدء ملثمين Darsem Satinah حتى تم دفع الدية مشاعر الأذى جدا الشعب الإندونيسي . أولا لأن الحكومة الإندونيسية نفسها تبدو الآن غبية. الثانية ، في إندونيسيا وحدها ، وقعت العديد من عمليات القتل هذه الحالات. تم وضع العديد أيضا إلى الموت. الثالثة ، هي واحدة من دولة لإرسال العمال إلى البربرية الدولة.
وقال اليوم ان الحكومة الاندونيسية جوكو سويونو ، وزير الدفاع الاندونيسي السعديات ( الغرامات ) ل ارتكابه جريمة قتل Satinah في المملكة العربية السعودية دفعت في نهاية المطاف من قبل الدولة . الأرقام ليست نصف القلب، 21 مليار . انها الابتزاز. بالنسبة لمعظم الناس في إندونيسيا ، تخليص السعديات قاتل المدفوعة الرائع هو التكلفة العالية لل جهل الحكومة التي في السلطة الآن . SBY يجب أن يكون فقط لشرح لأسرة و عائلة القاتل Satinah الأخرى التي تواجه عقوبة الإعدام في المملكة العربية السعودية وغيرها من البلدان ، أن النتيجة القانونية ل سلوك يجب أن تتحملها المعنية وليس من قبل الدولة. الدولة واجب توفير التوجيه لل أشخاص الذين لديهم مشاكل قانونية في بلدان أخرى فقط. في حين أن المملكة العربية السعودية ل يصبح بارونات الابتزاز. يظل أرقام الضغط في الارتفاع، و اذا كانت الحكومة الاندونيسية شعب المملكة العربية السعودية الضغط إفساد لنا. حسنا، الآن، اتضح نحن لا يزال من السهل جدا لخداع من قبل المملكة العربية السعودية .....
أو أنها لا تسعى التعاطف الشعبي قبل انتخابات 9 أبريل في وقت لاحق ؟ أعتقد أن الناس يكرهون الطريقة التي يعالج الحالات Satinah الدولة

LANGKAH – LANGKAH EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE : MENGHENTIKAN KECANDUAN ROKOK

(Disarikan dari video tutorial Hipno Emotional Freedom Technique - Adi W. Gunawan)
 TAHAP 1  : PERSIAPAN
-          Klien diminta minum air putih satu gelas
-          Pertanyaan pada klien (membangun hubungan dan perencanaan tujuan konseling) :
       a. Intensitas ketergantungan klien pada rokok, kecanduan pada rokok  : rentang 0 – 10
       b. sudah berapa lama mengalami masalah dengan ketagihan rokok ?
        c. bagaimana kualitas hidup anda sejak ketagihan rokok ?
        d.  apakah anda benar-benar ingin melepaskan diri dari ketergantungan/kecanduan rokok ?
       e. Jika EFT berhasil menghilangkan ketergantungan atau kecanduan rokok, bagaimana kualitas hidup anda dimasa depan ?
      f. hal-hal positif apa yang dapat anda rasakan, anda alami apabila ketergantungan pada rokok ini bisa hilang ?
         g. siapa saja yang dapat memetik manfaat dari hilangnya ketergantungan atau kecanduan rokok ini ?
(kalau digunakan untuk self terapy maka pertanyaan itu dapat diajukan pada diri sendiri dan dijawab. ini menjadi kunci masuk 

 TAHAP 2 : THE SETUP
-          Menemukan sore spot : pegang bahu 45 derajat. Tarik tangan sesuai sudut. Tekan pada titik
yang ada. Biasanya terasa sakit. (dalam pelaksanaan konseling, konselor tidak diperkenankan memegang tubuh klien… hanya memberikan perintah saja)

Membuat dan mengucapkan kalimat afirmasi  sambil mengurut titik sorespot (posisi sorespot diatas putting susu) :
Meskipun saya ketagihan pada rokok dan segala sesuatu yang berhubungan dengan rokok, saya menerima dan menghargai diri saya seutuhnya dan memutuskan untuk melepaskan semua emosi negative yang berhubungan dengan ketagihan rokok. Sekarang dan sekaligus demi kebaikan dan kemajuan hidup saya… (lakukan sebanyak 3 kali)
Lepaskan tangan kebawah dan tarik nafas panjang 3 kali.
Ceck intensitas emosinya…..

Ø  TAHAP 3 : THE SEQUENCE (TAPPING PADA TITIK TERTENTU)
-          Dimulai dari mengetuk pangkal alis. Pilih salah satu kiri atau kanan. Ketuk 5 – 7 kali.
-          Kemudian berpindah kesamping mata. Ketuk 5 – 7 kali
-          Kemudian dibawah mata diketuk 5 – 7 kali
-          Ketuk dibawah hidup 5 – 7 kali
-          Ketuk di dagu 5 – 7 kali
-          Ketuk ditulang 2,5 cm pada tulang dada atas 5 – 7 kali
-          Ketuk disamping tubuh. Untuk pria sejajar dengan putting susu. Gunakan 4 jari. Untuk wanita letaknya ditengah-tengah tali bra disamping tubuh. Kiri atau kanan sama saja 5 – 7 kali ketukan.
-          Dilanjutkan dengan mengetuk jari dimulai dari ibu jari, telunjuk, jari tengah dan kelingking
-          Ketuk titik samping bawah telapak tangan
Tahap ini masalahnya/emosi/gangguan dapat diungkapkan atau hanya dibatin saja

Ø  TAHAP 4 : 9 GAMMUT PROCEDURE
-          Mengetuk titik gamut. Titik gamut berada dijari manis kebawah. Diketuk 5 – 7 kali tanpa berbicara apapun
-          Sambil mengetuk titik gamut. Mata melihat kedepan. Kepala tidak boleh bergerak. Gerakan pertama adalah menutup mata dengan keras. Gerakan kedua adalah membuka mata dengan melotot. Ketiga adalah melirih kanan bawah dengan keras. Keempat melirik kiri bawah. Kelima putar mata searah jarum jam. Keenam putar mata berlawanan dengan jarum jam. Ketujuh lihat kedepan dan bergumam “happybird day”. Hitung dengan keras 1 2 3 4 5
-           

Ø  TAHAP 5 : MENGULANG TAHAP 3

SBY MANTU - SEKOLAH LIBUR ?

Adalah sesuatu yang berlebihan ketika seorang Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono ngunduh mantu, sekolah disekitar tempat berlangsungnya acara akad nikah, Istana Cipanas, diliburkan. berlebihan karena, lembaga pendidikan di Indonesia tidak mengenal libur khusus semacam itu. bahkan, pengalaman saya sebagai seorang guru, ketika ada teman guru yang meninggal dunia karena kecelakaan, sekolah saja tidak libur. apalagi yang nggak ada kepentingannya sama sekolah dengan dunia pendidikan. apapun alasannya, nggak ada hubungannya antara sekolah dan pernikahan Ibas - Allya.


saya kira gagasan meliburkan sekolah ini bukan dari pak SBY, justru mungkin dari dinas pendidikan setempat maupun kepala sekolah, entah dengan motif apa.....?




Nazarudin Case: GOOGDBYE Anas Urbaningrum , GOODBYE DEMOCRAT PARTY!

 
When the 2009 elections ago, I was even giddy with existing political parties, as most political parties is rotten, evil and a liar, yet still, like most people of Indonesia, had to choose among many political parties that exist at the time. Especially as PPS (Voting Committee) in the village, I was obviously impossible to "vote".

So behind the bustle and clutter of the 2009 election (read my article about the complexity of the elections and the 2009 election in East Java), I am as a person must choose. Various political campaigns on television I follow. I am also looking for candidates didapil least I know my track record. So there are two candidates that I remember for a legislative candidate from district Parliament (Constituency) 6 East Java that tickles my heart; there Anas Urbaningrum of the Democratic Party and there Pramono Anung of PDIP (to this day I still sympathize with Pramono Anung). Anas, my knowledge is the first member of the Commission who did not come to jail because of corruption body the Commission in 2004 and long I know it when I was in college in Surabaya, when Anas still be chairman of HMI. Pramono Anung, the more I know on TV when accompanying Megawati in the PDIP. Pramono Anung and Anas Urbaningrum for me is the figure of a loyal, polite in speaking and mature. For me no matter what the background of his political party.
Because in the election,  this time I can select people.

Both became interesting for me because they were both still young, and has the potential to become future leaders of the two major parties. If yet I finally chose Anas Urbaningrum because the Democratic party's campaign carries the assertive anti-corruption in this country (yells that I still remember is SAY NO TO CORRUPTION). Craze and the corruption that has been pervasive in the joints and the nation. Corruption that I feel every day of my work environment, tribute to the people of Education district office when I received the allowance when filing the certification of teachers and the disbursement of allowances, corruption and extortion that I felt when the streets the police to be street thugs. Although I know, the promise of political parties are mostly junk, at least this is my rationale why I ultimately chose Anas Urbaningrum than Pramono Anung from PDIP.

And my choice is not alone, in my village, Anas Urbaningrum of the Democrat gets the most votes followed by Pramono Anung of PDIP and Vena  Malinda   of the Democrats. I've forgotten how many votes Anas because my computer's hard disk that contains the data of the 2009 election has been damaged. As I recall about 3000 (three thousand) people choose Anas Urbaningrum of about 6900 voters.

And when Democrats in Congress in 2010 entrusted the leadership of the Anas Urbaningrum, then I think this is the future leaders. I think this is a replacement candidate for president SBY. My assumption was wrong. when the storm menghujam Democrat and finish my trust in this party-induced Nazarudin, I came to the conclusion, all the same political party, given garbage on people.


Nazarudin CASE REMOVING MY TRUST IN DEMOCRAT

Initially when Mahfud MD, chairman of the Constitutional Court to report to Mr. Beye about the behavior of attempts to bribe Nazarudin general secretary of the Constitutional Court, I found out that the Democratic party that there are people named Nazarudin; are young, wealthy, owner of several companies, has a beautiful wife, stately homes and has a strategic position in the party that I choose is as treasurer of the Democratic party. And when Nazarudin go to Singapore for medical treatment, and most others I know that the mode of illness and medical treatment abroad is the most powerful way for the corrupt to escape from arrest by KPK and the police. Sure enough, Nazarudin blurred and began to open ulcers himself and his friends through the tv and other social media from his hiding place. In the end I hear when Nazarudin caught, dozens of corruption cases ready to imprison him in a long time.

Nazarudin case this is the starting point where I no longer believe in the party that I selected and included in Anas Urbaningrum, people I admire and I have chosen in the 2009 election. Initially when Nazarudin on the run accused his party of friends as a thief, I like many others, regard as rubbish, take it as the ravings of a frantic and confused just because police hunted and KPK (I prefer to call as a paranoid delirium).

But anything as stupid as I am, finally succumbed to the fact that there can be a treasurer to work alone, stealing all alone, enjoying the loot alone. No way. The simplest logic minds I was always under the control of the organization's chairman. Any treasurer of the organization was chairman of the right hand to raise funds, manage funds for the survival of the organization. That is, there is no fund-raising activities by the organization's treasurer who is not known by its chairman. So, if Nazarudin robbing state funds to the value of trillions of rupiah, either to the needs of the party and of course to enrich himself, then ideally Anas Urbaningrum as chairman of the Democratic party knew the ins and outs of funding sources from Nazarudin. Anas know if Nazarudin actually a thief, much longer than the KPK and the people most like me. If Anas do not know, it does not deserve a Anas Urbaningrum, became chairman of the big party. Because it's too stupid to fool his men.

If morality be the reference every politician, should have been declared backward Anas Urbaningrum well as members of Parliament and as chairman of the Democratic Party's General. As a form of moral responsibility for the embarrassing incident at the party that worships honesty and anti-corruption. Not about whether or not legally involved. in this time, who does believe in the law in Indonesia ?............ For the law itself can be lied. It's just such a tradition is not uncommon among our politicians. The tradition of moral responsibility has not (not) known in Indonesia's political system. Most of them use every effort to take refuge behind the rule of law in Indonesia. While the law in Indonesia is still as easy perverted.

Syafii Ma'arif True also said that most leaders in our country have been broken joint venture between the heart and speech. When Nazarudin fled to Singapore, people who come to persuade the Democrats to say that Nazarudin Nazarudin ill and lost weight 18 kg. in fact, when seized, Nazarudin physically fit but it is very likely mentally ill and it's only fair. Such a lie that makes me no longer comfortable with my choice in the democrat party. Although in the speeches of Mr. Yudhoyono as the Democratic adviser, always revealing about the eradication of corruption, yet it was regarded then by those who own party. And tragically, I believe, Anas Urbaningrum know very well that the vortex decay ...
Unfortunately, the contract has been made for 5 years when I chose mencontreng Anas Urbaningrum in 2009. like it or not they are the people I pick. I can not sue people like Anas more than just writing this. At least now I can say goodbye Anas Urbaningrum, Goodbye Democrats ... ... ... ... ... ... !!!!!!


 Nazarudin Psychological : FEAR AND LIES

Before Nazarudin captured by Colombian police, Nazarudin like young age of 30; loud, confident, daring to drag her friends who come to enjoy the fruits of corruption seemed never afraid of anything as a consequence of his behavior. Despite efforts to reveal the rottenness of the Democratic party and many politicians in Senayan he did no more than a form of "defance mecanisme" (defense mechanism) due to psychological fear or anxiety about the problems it faces. Defance mechanisme is a psychological reaction if someone feels threatened both psychologically and physically existence itself. Anything will do if someone threatened him. Lying, blaming others for the case that happened to him, when should sink, then it will be done by not alone. The properties of such defense mechanisms: first, always refused, forge or interfere with the second fact, work with do not realize that the person did not realize what was happening to him. While the forms of self-defense mechanism that is; suppression (repression), projection, reaction formation, fixation and regression, isolation, introjection, turning on ourselves, justification (rationalization, kausalisasi, trankulpasi) (explanation of the forms of defense mechanisms can be read in the book of : Sumadi Suryabrata, Personality Psychology, Jakarta; p. 1988. 167-172).

So if getting out of psychoanalytic understanding of the actual change in attitude during the flight, during arrested in Colombia until it is brought to Jakarta that occurred in Nazarudin can be explained using the theories of Freud Sigmound. Changes in the attitude of outspoken, attacking here and there, making the rationalization of the arguments of his corrupt behavior while still a fugitive (it can be seen from an interview with journalist Iwan Piliang Nazarudin hiding place). Then a shock, helpless when his pride was stripped naked by the Colombian police when arrested, handcuffed and peak at a press conference in which the Colombian police Nazarudin shown to the TV media with a worn face, head down, handcuffed like a criminal (KPK supposed to catch criminals while also treating them like Colombian police Nazarudin treated because it will have very drastic effects for the dignity of nakedness as a corrupt moral condemnation, not as now, criminals if caught wet KPK ashamed open it instead becomes an impromptu celebrity rationalizing them as innocent at all). Check the last time early in the Commission, admitted Nazarudin forget everything. There are attempts to deny the reality of psychological Nazarudin due irrational fears they experienced.

I think the Commission is not easy to lied by people like Nazarudin. Mental changes is actually very easy to recognize for the therapists and counselors. There are several techniques such as use of psychotherapeutic techniques of psychoanalysis with a "free association" and "dream interpretation techniques" analytic psychology of Carl Gustav Jung. This technique is believed to be able to reveal the true state of Nazarudin. Free association is a method of recalling past experiences and release the emotions associated with traumatic situations in the past known as catharsis. The technique of free association conducted with the therapist asks the client to clear his mind of thoughts and musings of daily and as much as what I might say that came to mind, however painful, stupid, trivial and irrelevant sounds .. During the process of free association takes place, the task of the therapist is to identify materials that are repressed and kept in the unconscious nature (read: Gerald Corey, Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy, p. 1988. 41).

Thus, the Commission will be able to uncover a web of corruption Nazarudin further, whether he was alone or corruption corruption in congregation ... ... .. no longer fixated on the phrase Nazarudin "I forget everything ... ..!!!!".

ANAS AKHIRNYA DITAHAN JUGA

10/01/2014 Pukul 20.40 WIB

Malam ini (Jum'at, 10 Januari 2014) akhirnya Anas Urbaningrum, ditahan juga oleh KPK. Sebelumnya sejak kasus Demokrat mencuat dengan perburuan Nazarudin, Anas setali tiga uang dengan Nazarudin (baca tulisan saya dibawah).
                           Foto : Anas Urbaningrum saat mengenakan tahanan KPK (Gimana kalau pakaian itu dipakai saat mau gantung diri di MONAS, sesuai janjinya....?????)


KASUS NAZARUDIN : SELAMAT TINGGAL ANAS URBANINGRUM, SELAMAT TINGGAL PARTAI DEMOKRAT !




Kediri (19/08/2011) : Ketika pemilu 2009 lalu, saya meski gamang dengan partai politik yang ada, karena kebanyakan partai politik itu busuk, jahat dan pembohong, toh tetap saja seperti kebanyakan rakyat Indonesia, harus memilih diantara banyak partai politik yang ada waktu itu. Terlebih sebagai PPS (Panitia Pemungutan Suara) di desa, saya jelas tidak mungkin untuk "golput".

Maka dibalik kesibukan dan keruwetan pemilu 2009 (baca artikel saya tentang keruwetan pilkada dan pemilu 2009 di jawa timur), saya sebagai pribadi harus memilih. Berbagai kampanye politik lewat televisi saya ikuti. Saya juga mencari-cari caleg didapil saya yang minimal saya ketahui track recordnya. Maka ada dua kandidat yang saya ingat untuk Caleg DPR RI dari Dapil (Daerah Pemilihan) 6 Jawa Timur yang menggelitik hati saya ; ada Anas Urbaningrum dari Partai Demokrat dan ada Pramono Anung dari PDIP (Saya sampai hari ini masih menaruh simpati pada Pramono Anung). Anas setahu saya dulu adalah anggota KPU yang tidak ikut masuk bui akibat korupsi ditubuh KPU tahun 2004 dan lama saya mengetahuinya ketika masih kuliah di Surabaya, ketika Anas masih menjadi ketua HMI. Pramono Anung, lebih banyak saya ketahui lewat televisi saat mendampingi Megawati di PDIP. Pramono anung dan Anas Urbaningrum bagi saya adalah sosok yang setia, santun dalam berbicara dan matang. Bagi saya tidak penting apa latar belakang partai politiknya. Karena dipemilu kali ini saya dapat memilih orang.

Keduanya menjadi menarik saya karena mereka sama-sama masih muda, dan memiliki potensi untuk menjadi pemimpin masa depan dari dua partai besar. Kalau toh akhirnya saya memilih Anas Urbaningrum karena kampanye partai Demokrat yang tegas mengusung anti korupsi dinegeri ini (yel-yel yang masih saya ingat adalah KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI). Korupsi yang telah menggila dan merasuk dalam sendi-sendi bernegara dan berbangsa. Korupsi yang saya rasakan setiap hari dilingkungan kerja saya, upeti ke orang-orang dinas Pendidikan kabupaten saat saya menerima tunjangan sertifikasi guru maupun saat pengajuan pencairan tunjangan tersebut, korupsi dan pungli yang saya rasakan ketika dijalan para polisi menjadi preman jalanan. Meski saya tahu, janji partai politik kebanyakan adalah sampah, minimal inilah rasionalisasi saya kenapa saya pada akhirnya memilih Anas Urbaningrum ketimbang Pramono Anung dari PDIP.


Dan pilihan saya tidaklah sendirian, di desa saya, Anas Urbaningrum dari Demokrat memperoleh suara terbanyak disusul Pramono Anung dari PDIP dan Vena Malinda dari Demokrat. Saya sudah lupa berapa perolehan suara Anas karena hard disk komputer saya yang berisi data pemilu 2009 telah rusak. Seingat saya kurang lebih 3000 (tiga ribu) orang memilih Anas Urbaningrum dari sekitar 6.900 pemilih.


Dan ketika partai demokrat dalam konggres tahun 2010 mempercayakan kepemimpinan pada Anas Urbaningrum, maka saya pikir inilah calon pemimpin masa depan. Saya pikir inilah calon presiden pengganti SBY. Asumsi saya salah. ketika badai partai Demokrat menghujam dan menghabisi kepercayaan saya pada partai ini akibat ulah Nazarudin, saya sampai pada kesimpulan, semua partai politik sama saja, memberi sampah pada rakyatnya.


KASUS NAZARUDIN MENGHILANGKAN KEPERCAYAAN SAYA PADA DEMOKRAT


Awalnya ketika Mahfud MD, ketua Mahkamah Konstitusi melaporkan ke pak BeYe tentang perilaku upaya suap Nazarudin ke sekjen MK, saya baru tahu kalau di partai Demokrat itu ada orang yang bernama Nazarudin; masih muda, kaya raya, pemilik beberapa perusahaan, memiliki isteri yang cantik, rumah yang megah dan memiliki jabatan strategis di partai yang saya pilih yaitu sebagai bendahara partai Demokrat. Dan ketika nazarudin pergi ke Singapura untuk berobat, saya dan kebanyakan orang lain tahu bahwa modus sakit dan berobat keluar negeri adalah cara paling ampuh bagi para koruptor untuk melarikan diri dari penangkapan KPK maupun kepolisian. Benar juga, Nazarudin kabur dan mulai membuka borok dirinya sendiri dan teman-temannya melalui tv dan media sosial lainnya dari tempat persembunyiannya. Pada akhirnya saya dengar ketika Nazarudin ketangkap, puluhan kasus korupsi siap untuk memenjarakannya dalam waktu yang lama.


Kasus Nazarudin ini adalah titik awal dimana saya tidak lagi percaya pada partai yang saya pilih dan termasuk pada Anas Urbaningrum, orang yang saya kagumi dan saya pilih dalam pemilu 2009. Awalnya ketika Nazarudin dalam pelarian menuduh teman-teman partainya sebagai maling, saya seperti kebanyakan orang lain, menganggap sebagai sampah, menganggapnya sebagai ocehan orang yang kalut dan kebingungan saja karena diburu polisi dan KPK (saya lebih suka menyebut sebagai igauan paranoid).


Tetapi sebodoh apapun saya, akhirnya takluk pada kenyataan bahwa tidak mungkin seorang bendahara bekerja sendirian, mencuri sendirian, menikmati hasil curiannya sendirian. Tidak mungkin. Logika paling sederhana dibenak saya adalah organisasi selalu dibawah kendali ketua. Bendahara apapun dalam organisasi hanyalah tangan kanan ketua untuk menghimpun dana, mengelola dana demi kelangsungan hidup organisasi tersebut. Artinya, tidak ada kegiatan penghimpunan dana organisasi oleh bendahara yang tidak diketahui oleh ketuanya. Jadi, kalau Nazarudin merampok uang negara dengan nilai trilyunan rupiah, entah untuk kebutuhan partai dan tentu untuk memperkaya dirinya sendiri, maka idealnya Anas Urbaningrum sebagai ketua partai Demokrat tahu betul seluk beluk sumber dana dari Nazarudin. Anas tahu kalau Nazarudin sesungguhnya adalah maling, lebih lama ketimbang KPK maupun rakyat kebanyakan seperti saya. Kalau Anas tidak tahu, maka tak layak seorang Anas Urbaningrum, menjadi ketua Partai besar itu. Karena terlalu bodoh untuk dikibuli anak buahnya.


Seandainya moral menjadi acuan setiap politisi, seharusnya Anas Urbaningrum sudah menyatakan mundur baik sebagai anggota DPR maupun sebagai ketua Umum Partai Demokrat. Sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kejadian yang memalukan di partai yang memuja kejujuran dan anti korupsi. Bukan soal apakah secara hukum terlibat atau tidak. Hari gini, siapa sih yang percaya pada hukum di Indonesia ?............Sebab hukum itu sendiri dapat dikadali. Hanya saja, tradisi semacam ini tidaklah lazim dikalangan politisi kita. Tradisi tanggung jawab moral belum (tidak) dikenal dalam sistem perpolitikan Indonesia. Kebanyakan mereka menggunakan segala upaya untuk berlindung dibalik penegakan hukum di Indonesia. Sedangkan hukum di Indonesia masihlah seperti mudah diputar balikkan.


Benar juga kata Syafii Ma'arif bahwa dinegeri kita kebanyakan pemimpin telah pecah kongsi antara hati dan ucapan. Ketika Nazarudin melarikan diri ke Singapura, orang-orang Demokrat yang datang membujuk Nazarudin mengatakan kalau Nazarudin sakit dan berat badannya turun 18 kg. nyatanya ketika ketangkap, Nazarudin sehat secara fisik tapi sangat mungkin sakit secara kejiwaan saja dan itu wajar. Kebohongan semacam inilah yang membuat saya tak lagi nyaman dengan pilihan saya pada partai demokrat. Meskipun dalam pidato-pidato pak SBY sebagai pembina partai Demokrat, selalu mengungkapkan tentang pemberantasan korupsi, toh itu dianggap lalu oleh orang-orang partainya sendiri. Dan tragisnya, saya yakin, Anas Urbaningrum tahu betul pusaran kebusukan itu….


Sayangnya, kontrak telah dibuat untuk 5 tahun saat saya memilih mencontreng Anas Urbaningrum ditahun 2009. suka tidak suka mereka adalah orang yang saya pilih sendiri. Saya tidak dapat menuntut orang seperti Anas lebih dari sekedar tulisan ini. Paling tidak sekarang saya dapat mengatakan selamat tinggal Anas Urbaningrum, Selamat tinggal Partai Demokrat………………!!!!!!


KEJIWAAN NAZARUDIN : KETAKUTAN DAN KEBOHONGAN


Sebelum Nazarudin tertangkap oleh polisi Kolombia, Nazarudin layaknya anak muda usia 30-an; lantang, penuh percaya diri, berani menyeret teman-temannya yang ikut menikmati hasil korupsinya seolah tak pernah takut terhadap apapun sebagai konsekuensi dari perilakunya. Meskipun upaya mengungkap berbagai kebusukan partai Demokrat dan kalangan politisi di senayan ia lakukan tak lebih sebagai bentuk "defance mecanisme" (mekanisme pertahanan diri) psikologis akibat ketakutan atau kecemasan terhadap persoalan yang dihadapinya. Defance mechanisme merupakan reaksi psikologis jika seseorang merasa terancam baik secara psikologis maupun secara fisik eksistensi dirinya. Apapun akan dilakukan seseorang jika terancam dirinya. Berbohong, menyalahkan orang lain atas kasus yang terjadi pada dirinya, bila harus tenggelam, maka itu akan dilakukan dengan tidak sendirian. Sifat-sifat mekanisme pertahanan diantaranya; pertama, Selalu menolak, memalsukan atau mengganggu kenyataan kedua, Bekerja dengan tidak disadari sehingga orang yang bersangkutan tak menyadari apa yang sedang terjadi pada dirinya. Sedangkan bentuk dari mekanisme pertahanan diri yaitu ; penekanan (represi), proyeksi, pembentukan reaksi, fiksasi dan regresi, isolasi, introyeksi, membalik pada diri sendiri, justifikasi (rasionalisasi, kausalisasi, trankulpasi) ( penjelasan tentang bentuk-bentuk mekanisme pertahanan dapat dibaca dibuku: Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, Jakarta; 1988 hal. 167-172).


Maka jika beranjak dari pemahaman psikoanalisa sebenarnya perubahan sikap selama pelarian, selama tertangkap di Kolombia sampai dibawa ke Jakarta yang terjadi pada Nazarudin dapat dijelaskan dengan menggunakan teorinya Sigmound Freud tersebut. Perubahan sikap dari lantang, menyerang kesana kemari, membuat rasionalisasi atas argumen-argumen dari perilaku korup-nya saat masih buronan (hal itu dapat dilihat dari wawancara Nazarudin dengan Jurnalis Iwan Piliang ditempat persembunyiannya). Kemudian menjadi shock, tak berdaya ketika ditelanjangi harga dirinya oleh kepolisian Kolombia saat ditangkap, diborgol dan puncaknya saat konferensi pers kepolisian Kolombia dimana Nazarudin ditunjukkan ke media TV dengan wajah lusuh, menunduk, terborgol layaknya kriminal lainnya (seharusnya KPK saat menangkap koruptor juga memperlakukan mereka seperti Nazarudin diperlakukan kepolisian Kolombia karena akan memiliki dampak sangat drastis bagi penelanjangan harga diri seseorang sebagai hukuman moral seorang koruptor, jangan seperti sekarang,koruptor kalau ketangkap basah KPK bukanya malu malah menjadi selebriti dadakan yang membuat rasionalisasi seolah mereka tak bersalah sama sekali). Terakhir saat awal di periksa KPK, Nazarudin mengaku lupa semuanya. Ada upaya psikologis Nazarudin untuk mengingkari kenyataan akibat ketakutan-ketakutan irasional yang dialaminya.



Saya kira KPK tidaklah mudah dikelabuhi oleh orang seperti Nazarudin. Perubahan kejiwaan ini sebenarnya sangat mudah dikenali bagi para terapis maupun konselor. Ada beberapa teknik seperti penggunaan teknik psikoterapi psikoanalisa dengan "asosiasi bebas" dan "teknik interpretasi mimpi" psikologi analitik Carl Gustav Jung. Teknik ini diyakini akan mampu mengungkapkan keadaan Nazarudin yang sesungguhnya. Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik dimasa lampau yang dikenal dengan sebutan katarsis. Teknik asosiasi bebas dilakukan terapis dengan meminta klien agar membersihkan pikirannya dari pemikiran-pemikiran dan renungan-renungan sehari-hari dan sebisa mungkin mengatakan apa saya yang melintas dalam pikirannya, betapapun menyakitkan, tolol, remeh dan tidak relevan kedengarannya.. Selama proses asosiasi bebas berlangsung, tugas terapis adalah mengenali bahan-bahan yang direpresi dan dikurung di dalam alam ketaksadaran (baca : Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, 1988 hal. 41).

Dengan demikian, KPK akan dapat mengungkap lebih jauh jaringan korupsi Nazarudin, apakah ia korupsi sendirian atau korupsi berjamaah……..tak lagi terpaku pada ungkapan Nazarudin "Saya lupa semuanya…..!!!!".









KETIKA KEJUJURAN MENJADI KEMEWAHAN DIDUNIA PENDIDIKAN


Kejujuran masih merupakan kemewahan didunia pendidikan. Sebagai seorang guru lebih dari 15 tahun, saya tahu betul, bahwa kejujuran selalu berbenturan dengan tembok raksasa. Tembok itu justru kebanyakan berasal dari para Kepala Sekolah, kepala Dinas Pendidikan , pengawas pendidikan, guru-guru dan paling tragis adalah dari orang tua siswa. Kasus keluarga Siami yang melaporkan model sindikat kebohongan yang lazim dilakukan sekolah-sekolah saat ujian nasional, justru mendapat perlakukan tidak manusiawi, tragisnya dari orang tua siswa lain. Gerakan bawah tanah disekolah-sekolah baik swasta maupun negeri ketika menghadapi ujian nasional ya seperti yang dikeluhkan oleh Alif, siswa SD Gedel Surabaya. Adalah Ibu Siami yang melaporkan sebuah SD Negeri di Surabaya karena telah mendorong contek missal saat ujian nasional tingkat Sekolah Dasar. Tragisnya, Siami, yang merupakan wali siswa dari anak yang disuruh oleh guru dan kepala sekolah untuk berbuat curang tersebut, malah mendapat perlakuan yang sangat memilukan justru dari para wali siswa lainnya. Sampai sampai malah hendak dihakimi sendiri.

Meskipun tidak semua guru brengsek dan busuk, ada sebagian guru yang melakukan itu entah karena kepentingan karirnya, mencari selamat dari kemarahan kepala dinas jika anak didiknya tidak lulus. Dan itu sudah lazim disemua strata sekolah, dan yang paling parah biasanya pada sekolah-sekolah yang masih menumbuh kembangkan dirinya, sekolah yang sangat takut kehilangan harga dirinya hanya karena ada siswa tidak lulus. Bukan soal apakah kelulusan diperoleh melalui jalan yang benar atau kotor dan busuk. Persoalan mendasar adalah, birokrasi kita dibangun dari para birokrat korups dan kotor. Reformasi hanya mampu menyebarkan kebusukan dan kekotoran para birokrat kita pada semua level dari pusat sampai daerah.

Sebenarnya mengajarkan dan melatihkan kejujuran pada siswa sangatlah mudah. Yang paling sederhana buat saja tata tertib sekolah dimana kebohongan tidak dapat ditoleransi, maka yakinlah bahwa kejujuran akan tumbuh dilingkungan siswa. Ini pengalaman saya ketika membuat tata tertib siswa, pelanggaran-pelanggaran lain diskor dengan nilai tidak terlalu tinggi, tetapi ketika anak berbohong, menyontek, mencuri, memalsukan tanda tangan orang tua, guru dll, saya beri skor penilaian yang tinggi, sehingga hanya dengan sekali menyontek maka nilai perilaku siswa menjadi K dan bisa berakibat tidak naik kelas. Didalam proses belajar mengajar, kejujuran seharusnya menjadi ukuran penilaian sikap. Ini penting disaat bangsa ini sedang sakit dan yang lebih parah, justru para pemimpin kita lebih sakit jiwanya dari pada rakyatnya. Lihatlah kasus Nunun, bagaimana seorang Adang Dorojatun, tanpa rasa bersalah, membela mati-matian istrinya yang korup. Padahal Adang adalah mantan Wakapolri. Bagaimana para koruptor tidak merasa malu sama sekali dan selalu mencari rasionalisasi agar rakyat percaya akal busuknya. Kearifan lokal bawaan nenek moyang seperti nilai-nilai kejujuran telah terpinggirkan dan menjadi sesuatu yang aneh di era sekarang ini.

Kalau anda yang saat ini masih kuliah di perguruan tinggi keguruan dan ingin sekali menjadi guru yang idealis, saya sarankan, jangan menjadi guru karena tidak ada tempat bagi idealisme disini. Sekali anda terjebak dikubangan penuh lumpur, percayalah anda tidak akan pernah bisa keluar. Karena anda akan diajarkan banyak kebohongan dan kepalsuan didalamnya. Kalau anda guru biasa dan tidak pernah menjabat apapun di manajemen sekolah, maka paling kecil adalah anda akan "dipaksa" untuk memberi nilai pelajaran diluar kemampuan anak. Terlebih jika anda adalah bagian dari manajemen sekolah dan menjadi orang penting disekolah, maka anda akan tahu betul wajah bopeng dunia pendidikan kita.

Dunia pendidikan sedang dalam kondisi terkapar dan hampir mati rasa. Inilah potret paling nyata dunia pendidikan kita. Gagasan dasar dunia pendidikan untuk membangun karakter manusia yang mulia melalui sekolah seringkali berhenti pada tataran konsep dan omong kosong para pejabat publik. Yang paling aktual adalah gagasan tentang pendidikan karakter dan budaya bangsa yang telah disosialisasikan melalui berbagai kegiatan workshop, pelatihan-pelatihan pada para guru dan kepala sekolah dan tentu saja memakan anggaran kemendiknas yang luar biasa besarnya, kebanyakan berakhir dilaci-laci meja guru.



OPINI

KETIKA PSSI TIDAK DISUKAI SUPORTER BOLA

"Aku pusing mikirnya, Ini negaranya FIFA atau milik kita ?. Lebih baik PSSI sekarang dibubarkan saja, bentuk lagi dan ndaftar lagi ke FIFA sebagai anggota organisasi sepakbola internasional tersebut. Bereslah urusannya" kira-kira seperti itu ungkapan lugas dari monolog Dedy Miswar di Metro TV menanggapi tuntutan Revolusi PSSI.

Hari-hari ini, tuntutan perubahan ditubuh PSSI menggema diseluruh pelosok Indonesia. Anehnya tuntutan itu bukan dari Pengda/Pencab (Pengurus Daerah/Pengurus Cabang) PSSI yang tersebar diwilayah Indonesia dan memiliki hak suara dalam bursa pemilihan ketua Umum PSSI, melainkan malah dari para supporter, para pecinta bola, yang marah terhadap akal-akalan Nurdin Halid cs. Tapi Nurdin Halid tetaplah Nurdin Halid ; licin, penuh intriks, dan penuh percaya diri. Bahkan ketika pemerintah dalam hal ini Andy Malarangeng, Menegpora, menegur PSSI atas akal-akalan dalam menentukan calon ketua umum PSSI yang lolos dan mencoret nama-nama calon yang berseberangan dengan pengurus PSSI sekarang, Nurdin Halid malah menuding balik bahwa pemerintah intervensi terhadap sepakbola. Pertanyaan saya "Lha…. Buat apa ada Negara kalau organisasi hanya sekelas PSSI saja, mbalelo, nggak bisa diatur, seenaknya sendiri, selalu berlindung dibawah ketiak FIFA. Maka benar kata Dedy Miswar bubarkan saja PSSI, bereslah urusannya…..". Tak kurang Riedl, pelatih Timnas, sempat bingung memahami kisruh PSSI. Kata Riedl "Sesuatu yang tak lazim dinegara lain, dan belum pernah saya temui dinegara manapun, dimana para supporter bola, para pecinta bola, menuntut ketua umum Federasi sepakbola mundur".

Maka ketika Komisi Banding PSSI, menolak seluruh hasil seleksi calon ketua/wakil ketua umum PSSI, dan Cipta Lesmana, ketua komisi banding PSSI mengatakan bahwa mendapat tekanan dari segala arah termasuk pemerintah dalam mengambil keputusan, agaknya lengkap sudah kekisruhan di tubuh PSSI. Sumber persoalannya adalah sederhana, para supporter dan pecinta bola, mungkin juga pemerintah, sudah tidak suka pada Nurdin Halid, terutama memuncak saat piala AFF berlangsung kemarin dimana nuansa politisasi sangat kental didalamnya. Anehnya, nurdin masih ngeyel ingin menduduki jabatan ketua umum PSSI untuk periode berikutnya. Maka tidak heran, para supporter yang notebene tidak memiliki sama sekali hak suara dalam konggres di PSSI, melampiaskan dalam bentuk demontrasi dijalanan.

Maka saya kira, lebih baik apa yang dikatakan oleh Dedi Miswar itu yang kita pakai, bubarkan PSSI bentuk PSSI baru lalu mendaftar lagi sebagai anggota FIFA. Bereslah urusannya……


ORMAS ISLAM PELAKU PENYERANGAN AHMADIYAH: " MERASA BENAR DIJALAN YANG SESAT"

(Artikel ini saya buat sesaat setelah terjadi peristiwa Penyerangan Ormas Islam terhadap Ahmadiyah di Manis Lor, Kuningan Jawa Barat Bulan Juli 2010, baru saya postingkan di bulan Februari 2011 ini karena terjadi "pembantaian" terhadap 3 orang pengikut Ahmadiyah di Cikuesik Pandeglang Banten)

Organisasi massa yang membubarkan sebuah kegiatan dan memaksakan nilai-nilainya sendiri, menurut Syafii Ma'arif (mantan ketua Umum Muhammadiyah) sebagai "kelompok orang yang merasa benar dijalan yang sesat". itu diungkap Syafi'i dalam dialog dengan Andy F. Noya dalam acara Kick Andy di Metro TV. Saya jadi teringat akan sepak terjang beberapa ormas Islam – yang semua orang tahu ormas apa itu- selama ini yang membuat saya geleng-geleng kepala. Heran dengan cara-cara syiar agama yang tidak dikenal di pondok-pondok pesantren di desa saya, sekalipun.

Saya sendiri bukanlah pengikut Ahmadiyah apalagi FPI. Di desa saya, memang tidak dikenal Ahmadiyah apalagi FPI. Basis organisasi keagamaan terbesar adalah NU (Nahdhatul Ulama') beserta tariqoh Qodiriyah-Naqhsabandiyah disusul Muhammadiyah dan sedikit kelompok Darul Hadist (LDII) serta orang yang berjubah, orang-orang menyebut "jahullah", saya sendiri tidak begitu kenal dengan organisasi yang terkhir ini karena eksklusifisme dalam penerapan ajaran islam. Saya cari di Ensiklopedi Islam Nusantara juga tidak ada. Bahkan didesa saya tidak ada agama lain yang bisa masuk selama puluhan tahun selain Islam. Sejauh ini tidak pernah ada sedikitpun gesekan ideologi maupun perdebatan terhadap tata cara beribadah. Mereka hidup rukun tanpa pernah mempermasalahkan apa perlu Qunut atau tidak, apa boleh Tahlilan atau tidak, nyekar ke kuburan boleh atau tidak. Semua berjalan dalam tata cara mereka sendiri. Hubungan kemasyarakatan dan kekerabatan dijaga sedemikian harmonis. Ketika kelompok muhammadiyah membangun panti asuhan dilingkungan sebagian besar pengikut organisasi NU, mereka - orang-orang dari NU- menjadi penyumbang terbesar baik dana maupun tenaga. Ketika orang NU mengadakan tahlilan, untuk menghargai tetangga yang Muhammadiyah, untuk menghormati keyakinan orang-orang muhammadiyah, biasanya tidak diundang tetapi tetap dikirimi berkat/makanan. Bahkan ketika kelompok berjenggot dan bersorban "Jahulah" mengeklusifkan diri mereka, masyarakat tidak pernah mengusik mereka sama sekali. Mereka biasanya dibulan Ramadhan berdakwah dengan meminjam musholla milik muhammadiyah, meski mereka memiliki musholla sendiri, ya tetap diberi. Menggunakan musholla NU ya monggo kerso. Tetap saja mereka tidak mampu menarik simpati kelompok Islam tradisional. Barangkali, masyarakat desa lebih paham betul tentang makna "Lakum dinukum waliadiin" – bagimu agamamu bagiku agamaku - ketimbang orang-orang kota.

Maka ketika FPI (Front Pembela Islam) yang merupakan organisasi massa yang lahir dari berkah reformasi tahun 1998, sering berseberangan dan berhadap-hadapan dengan kelompok Ahmadiyah, para pedagang minuman keras, para Waria, pengelola hiburan malam di Jakarta. Saya menjadi heran, ketika FPI merusak dan bertindak brutal terhadap kelompok yang dipandang sesat menurut ukuran-ukuran mereka. Seingat saya, Kelompok ini pernah sekali akan berhadap-hadapan dengan Banser (Bantuan Serbaguna sebuah organisasi paramiliter NU) di Jawa Timur saat ketua FPI, Habib Riziq menghina Gus Dur, sebagai simbol NU, dan ketegangan itu mereda ketika FPI di Surabaya membubarkan diri, disusul dengan pembekuan FPI dibeberapa daerah di Jawa Timur. Kelompok ini memang memiliki cara yang berbeda dalam menerapkan sebagian ajaran islam. Sebuah model penegakan syariah islam yang tidak simpatik dan barangkali tidak pernah dikenal dalam sejarah penyebaran agama islam di Indonesia. Islam yang masuk ke Indonesia dengan metode jalan dakwah, mengakulturasi budaya setempat, menghargai perbedaan-perbedaan pandangan. Sebaliknya, ketika orang berbicara FPI maka yang terbayang adalah sorban, pentungan, kebencian,menolak nilai-nilai diluar dirinya, amarah dan dendam. Kalau anda seorang Konselor atau Psikolog, cobalah anda gunakan tes psikologi "asosiasi bebas" pada sembarang orang, tanyakan tentang FPI maka saya yakin jawaban spontan dan ungkapan bawah sadar akan seperti ini ; sorban, pentungan, islam militan, amarah, kebencian, Habib Riziq.

Maka, adalah mengherankan ketika Fauzi Bowo, Gubernur DKI, menggandeng FPI untuk ikut mengawasi pelaksanaan Perda tentang pelarangan beroperasi diskotik dan tempat hiburan malam di jakarta selama bulan ramadhan. Apa karena penyumbang suara terbanyak Fauzi Bowo waktu pemilihan gubernur DKI berasal dari FPI ?. sehingga sangat akomodatif terhadap organisasi yang banyak melanggar norma sosial dan tatanan bermasayarakat dan berorganisasi.

AHMADIYAH ANTARA KEMASYARAKATAN DAN KEAGAMAAN

Ketika konflik di Manis Lor akhir bulan Juli 2010 terjadi, GP (Gerakan Pemuda) Ansor sebuah organisasi kepemudaan NU akan pasang badan dengan rencana mengerahkan 150 ribu anggotanya untuk melindungi kelompok minoritas Ahmadiyah. Kalau ini benar terjadi maka konflik horisontal antar pemeluk Islam tidak terhindarkan lagi. Sejarah GP Ansor yang pernah berhadap-hadapan dengan kelompok Komunis di Jawa Timur tahun 60-an dengan korban mencapai ratusan ribu nyawa melayang membuat saya merinding bila pemerintah tidak secara tegas menyelesaikan persoalan ini. Ranah organisasi apakah itu FPI, LPPI, NU, Banser, Muhamadiyah, Ahmadiyah atau yang lain harus dibawah kendali pemerintah. Pemerintah yang lemah dan penuh keragu-raguan akan menjadi bulan-bulanan kelompok anak baru kemarin.

Saya yakin bahwa orang-orang NU, para pemuda Anshor tidak pernah setuju dengan aqidah Ahmadiyah tetapi mereka tahu bahwa tidak mungkin membunuh sekalipun seseorang untuk mengubah keyakinannya. Tetapi mereka tidak rela jika organisasi ini, yang lahirnya hampir bersamaan dengan NU dan Muhammadiyah di Indonesia, mendapat perlakuan kasar dan berdarah-darah seperti yang pernah terjadi di Pakistan diawal penyebarannya dan terakhir bulan Februari 2011 di Pandeglang Banten. Dalam hubungan kemasyarakatan NU – Ahmadiyah telah terjalin saling pengertian sejak berdiri ditahun 1924. Meski dalam hal aqidah tentu berseberangan.

Karena Ahmadiyah dikucilkan umat Islam dan tidak diakui sebagai bagian dari Islam, maka Ahmadiyah cenderung atau dirongrong menjadi komunitas tertutup. Namun, komunitas Ahmadiyah juga dikenal sebagai komunitas yang damai, karena doktrinnya mengajarkan perdamaian. Dakwah Ahmadiyah tidak pernah menyinggung, apalagi menyerang mazhab-mazhab Islam lain. Ahmadiyah juga tidak melakukan serangan balik atas para pengritiknya. Dakwah Ahmadiyah didukung program-program kemanusiaan, yang terkenal adalah program "Humanity Firs" yang menolong masyarakat tanpa pandang kepercayaan (Dawam Raharja, artikel : Problem Kebebasan Beragama).

SEKILAS SEJARAH AHMADIYAH DIDUNIA DAN MASUKNYA KE INDONESIA

Ahmadiyah didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad ( 1835 – 1908) dari Punjab India. Mulanya digunakan untuk menentang kegiatan misionari Kristen dan pada tahun 1882 Mirza G. Ahmad menyatakan diri sebagai Mujadid (Pembaharu). Ia mengecam umat Kristen Barat lantaran penindasan ekonomi, politik dan agama. Dan menuduh mereka sebagai perwujudan Dajjal. Mirza menentang barat karena penguasaan mereka terhadap wilayah muslim oleh karena itu ia tampil memimpin perjuangan melawan kekuatan penjajah. Mirza juga mengklaim dirinya sebagai Al Mahdi untuk melawan dajjal yang telah menjelma dalam kekuatan kristen barat. Jadi pada dasarnya , berdirinya Ahmadiyah yang dipimpin Mirza Ghulam Ahmad, dilatarbelakangi tiga faktor. Pertama, kolonialisme Inggris di benua Asia Selatan. Kedua, kemunduran kehidupan umat Islam di segala bidang. Dan ketiga, proses kristenisasi oleh kaum misionaris.

Setelah Mirza Ghulam Ahmad meninggal dunia, Ahmadiyah terpecah menjadi dua cabang yaitu Ahmadiyah Qadiyani dan Ahmadiyah Lahore. Ahmadiyah Qadiyani dinamakan Jami'iyyah al-Ahmadiyah yang menegakkan doktrin pokok antara lain memandang Mirza sebagai nabi. Kalangan sunni menolak doktrin tersebut dengan mengeluarkan pernyataan resmi peradilan agama yang menetapkan bahwa pengikut Qadiyani bukanlah tergolong muslim. Kalangan Qadiyani melancarkan tangkisan bahwa sekalipun Mirza Ghulam Ahmad seorang nabi, namun ia tidak membawa syariat islam yang baru (ghairu tasyri'). Bahkan mereka menyebut Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi bayangan (Zhilli al-nabi) atau sebagai perwujudan nabi (buruz al-Nabi).
Karena ditentang di Pakistan, para pengikut Ahmadiyah mengalami banyak penganiayaan. Mereka dikucilkan, tidak boleh menjadi makmum dalam salat ja'maah atau salat Jum'at, masjid-masjidnya dirusak dan dibakar, bahkan mengalami pembunuhan sangat kejam dari umat Islam fanatik di Pakistan. Karena itu, gerakan Ahmadiyah hijrah ke Inggris dan menyebar ke negara-negara Eropa Barat. Orang-orang Inggris dan Eropa tertarik pada Ahmadiyah karena ajaran spiritualnya memang menyerupai Kristen, tetapi rasional.

Ahmadiyah cabang Lahore justru sebaliknya, memandang Mirza Ghulam Ahmad sebagai mujadid saja atau pembaharu islam yang sangat prihatin terhadap solideritas negara-negara muslim, Awalnya cabang ini dipimpin oleh Maulana Muhammad Ali. Muhammad Ali berhasil menterjemahkan Al Qur'an waktu itu kedalam bahasa Inggris (The Holy Qur'an) dan menulis sebuah buku berjudul The Religion Of Islam. Meskipun kedua cabang ini menentang kaum misionari kristen, mereka dipandang mengambil juga teknik-teknik Misionari Kristen Protestan yakni melalui pendirian masjid-masjid diluar negeri, mempublikasikan propaganda khususnya dengan menggunakan bahasa Inggris. Jauh sebelum kalangan Sunni mengambil cara-cara ini. Hasilnya waktu itu ahmadiyah berkembang pesat di Eropa, Amerika, Afrika Barat dan salah satunya ke Indonesia. Perlawanan mereka terhadap umat kristen disebabkan karena dasar-dasar kepercayaan kristen tidak dapat lagi dikatakan sebagai Ahl Al-Kitab dan karena mereka merupakan kekuatan kafir terbesar didunia.

Setelah pembagian wilayah negara India dan Pakistan tahun 1947, cabang Qadiyani berpindah ke Pakistan dan sekte ini dipimpin oleh seorang yang bergelar Khalifah al-Masih. Kelompok Qadiyani ini secara tiba-tiba kemudian memisahkan diri dari agama Islam dan membuat agama sendiri. sedangkan Ahmadiyah cabang Lahore tetap berada di agama islam, namun kelompok ini dipandang sebagai kelompok ekstrem oleh kalangan sunni karena sikap mereka menafsirkan doktrin islam diluar keterangan hadist, juga mengadakan upacara peresmian agama (layaknya pembaptisan dikalangan Katolik). ( Catatan : meskipun pola pembai'atan bukan hanya monopoli Ahmadiyah, beberapa kelompok toriqoh/tasawuf sunni menggunakan model ini)

Dalam perkembangannya Ahmadiyah menyebar ke Eropa, Afrika, Amerika dan Indonesia. Gerakan ini mulai muncul di Indonesia tahun 1924. Ahmadiyah Lahore dibawa oleh Mirza Wali Ahmad Baiog dan Maulana Ahjmad, lewat kunjungan mereka ke Yogyakarta, 1924. Sementara Ahmadiyah aliran Qadiyani masuk ke Indonesia tahun 1925 atas undangan beberapa orang Indonesia yang pernah belajar di perguruan Ahmadiyah di Pakistan. Masuknya Ahmadiyah di Indonesia ternyata juga disambut para pejuang pergerakan nasional, khususnya Bung Karno, karena mereka mendukung perjuangan Indonesia merdeka. Karena sambutan yang hangat itu, Bung Karno pernah dituduh telah masuk Ahmadiyah, yang kemudian dibantahnya melalui sebuah artikel. Namun ajaran-ajaran Ahmadiyah (khususnya Ahmadiyah Lahore) telah ikut memengaruhi para pemimpin pergerakan Indonesia seperti H.O.S Tjokroamninoto, Agus Salim, dan Bung Karno sendiri, melalui tafsir The Holy Qur'an, buku the Religion of Islam, dan Sejarah Nabi Muhammad Saw. (Dawam Raharjo, Problem Kebebasan Beragama).

Ahmadiyah juga organisasi legal sejak zaman kolonial tahun 1928 (aliran Lahore) dan 1929 (aliran Qadiyani). Oleh Pemerintah RI, Ahmadiyah mendapat status badan hukum berdasarkan SK Menteri Kehakiman No. JA 5/23/13, tertanggal 13 Maret 1953, dan diakui sebagai organisasi kemasyarakatan melalui surat Direktorat Hubungan Kelembagaan Politik No. 75//D.I./VI/2003. Pengakuan legal itu didasarkan pada Pasal 29 ayat 1 dan 2 UUD 1945 bahwa "Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa" dan "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu".

Atas dasar itu, Depag RI maupun MUI mestinya melindungi Ahmadiyah dari serangan pihak luar. Tapi pada 11 Agustus 2002, MUI yang seharusnya melindungi dan mengayomi semua golongan umat Islam, justru menyelenggarakan seminar sehari yang menampilkan pembicara-pembicara yang secara sepihak menghasut agar Ahmadiyah dibubarkan (Dawam Raharjo, dalam artikel : Problem kebebasan beragama). Inilah yang memicu tindak kekerasan umat Islam, antara lain berupa pembakaran rumah-rumah, masjid dan sekolah oleh massa di Manislor, Kuningan Jawa Barat, dan Pancor, Lombok Timur, pengrusakan dan teror atas pertemuan tahunan Ahmadiyah di kampus Mubarok, Parung dan terakhir penyerangan kampung Manis Lor Kuningan Jawa barat akhir bulan juli. FPI dan Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) dituding berada di balik teror itu.

Sumber persoalan itu sebenarnya berasal dari Keputusan Munas MUI No. 05/Kep/Munas/MUI/1980 tentang fatwa yang menetapkan Ahmadiyah sebagai "jemaah di luar Islam, sesat dan menyesatkan". SK MUI inilah yang "menghalalkan darah" jama'ah Ahmadiyah. Diperkuat dengan SKB bersama 3 menteri yang menjadi pelegalan bagi kelompok-kelompok fanatik menghajar Ahmadiyah. Padahal Ahmadiyah menganut rukun iman dan rukun Islam sebagaimana umat Islam lain.

Saya jadi teringat sejarah ketika Nabi Muhammad menaklukkan Mekah dan membersihkan Ka'bah dari segala macam patung dan berhala. Nabi melarang menghancurkan patung Bunda Maria alih-alih menutupi dengan kain. Kata nabi, "biarkan yang ini, karena mereka menyembah Tuhan yang sama dengan kita".

Sebagai akhir tulisan ini, saya mengutip pernyataan Cak Nun (MH. Ainun Najib) dalam acara pengajian jama'ah ma'iyah Jombang "Padhang mBulan" akhir bulan Januari 2011. "Banyak orang tidak lagi mampu membedakan antara religion (Agama) dan religiusity (rasa keagamaan). Agama (religion) itu dari dan wewenang Allah, sedangkan rasa keagamaan (religiusity) adalah produk manusia dalam menafsirkan nilai-nilai agama karena cintanya pada agamanya. Agama adalah produk Allah, manusia tidak memiliki keabsahan untuk membikin agama sendiri. Sedangkan rasa keagamaan melahirkan puisi-puisi, tarian-tarian sufi, tahlilan, Ma'iyahan, dhiba'an. Nabi Muhammad saja sebenarnya tidak memiliki hak mewajibkan orang Islam Shalat. Nabi Muhammad hanya menyampaikan ajaran Islam. Nabi sendiri tidak punya hak karena tidak punya saham atas hidupnya manusia. Karena itu hanya Allah-lah yang punya hak untuk mewajibkan manusia untuk shalat, puasa, zakat. Dan itulah esensi agama yang sesungguhnya......



Sumber referensi ; 1. Dari artikel Dawam Raharjo, Problem Kebebasan Beragama.

2. Ensiklopedi Islam

3. Dhoho TV,Cak Nun dalam Pengajian Rutin "Padhang Mbulan", 3 Februari 2011






TAHUN BARU HIJRIYAH 1432 H : PAWAI TA'ARUF DAN TASYAKURAN


 

Damarwulan (7/12/2010)

Tahun baru Hijriyah di desa Damarwulan dirayakan dengan mengadakan pawai Ta'aruf. Kegiatan yang dikoordinir oleh organisasi kemasyarakatan NU; Gerakan Pemuda Ansor dan Fatayat Desa Damarwulan menempuh rute sejauh 3 km dari Dusun Suwaru dan Finish di dusun Bulurejo. Diikuti berbagai lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan dan dunia usaha. Dimeriahkan beberapa Marching Band dan kesenian tradisional "Bantengan".

Lembaga-lembaga pendidikan yang berpartisipasi diantaranya ; RA/TK sedesa Damarwulan, SD Negeri di Damarwulan, MTs dan MA Islamiyah Bulurejo, MTs Mambaul Ulum Jatirejo, MTs Al Qomar Jatirejo, SMK Wiyata Mandala dan Madrasah Aliyah Negeri Kandangan. Disamping itu juga terlibat seluruh unsur organisasi kepemudaan GP Ansor dan Fatayat, Barokah Cell, klub kesenian bantengan. Ingin mengetahui cuplikan video yang menggambarkan kemeriahan pelaksanaan Pawai Ta'aruf tersebut ?. Klik di link Youtube ini (catatan : video ini diambil dengan menggunakan kamera photo digital dan merupakan dokumentasi pribadi : ADITYA DIGITAL STUDIO)

Sedangkan untuk malam harinya di Gedung Serbaguna Balai Desa Damarwulan dilaksanakan tasyakuran menyambut Tahun Baru Hijriyah 1432 H. tasyakuran yang dikemas secara sederhana dengan acara tumpengan dihadiri oleh Kepala Desa, Drs. Mujahid, perangkat desa, lembaga Desa ; LPMD dan BPD dan tokoh-tokoh masyarakat. Acara diisi dengan pembacaan Tahlil dan diakhiri dengan tumpengan.


MEWAHNYA DAGING QURBAN




Sangat kontras dalam pembagian daging qurban antara masyarakat disekitar desa saya dengan orang-orang perkotaan. Orang-orang kota berebut, berdesak-desakan, saling injak, saling himpit hanya untuk mendapatkan jatah daging qurban. Bahkan masjid Istiqlal, Jakarta, sebagai simbol Islam di Indonesia tidak lepas dari perilaku itu. Anehnya, Istiqlal yang berkali-kali bermasalah dalam pembagian daging Qurban tidak pernah belajar dari pengalaman masa lalu. Tetap saja pola-pola lama; pengumpulan massa disatu tempat, lalu tak terkendali, liar dan tidak mencerminkan nilai-nilai islami sama sekali. Atau mungkin, pengelola masjid Istiqlal, hendak mengirim pesan kepada orang islam di Indonesia, bahwa inilah umat islam, yang masih miskin, rela bertaruh nyawa untuk daging qurban ½ kg. atau mungkin saja pengelolanya yang konyol. Takmirnya yang konyol !.......


Hal itu tidak akan anda temui jika anda berjalan-jalan didesa saya atau dikebanyakan desa lain. masyarakat desa memiliki kearifan lokal dalam hal pembagian daging qurban. Orang desa hanya menunggu dirumahnya, apakah oleh panitia penyembelihan hewan qurban memberi jatah daging qurban atau tidak, sangat tergantung pada penilaian terhadap tingkat sosial ekonomi seseorang. Mereka tidak mengenal data base orang miskin. Karena kemiskinan sangat mudah nyata diukur dari penglihatan dan pola hidup sehari-hari. Meski dimasjid sekitar saya sudah tradisi menjadi tempat penyembelihan hewan qurban, orang-orang desa lainnya memilih menyembelih sendiri hewan kurbannya atau di mushola-mushola sekitar rumah, sehingga distribusi daging kurban lebih merata. Pembagian daging kurban tidak mengenal istilah penggunaan kupon. Bahkan untuk zakatpun, penggunaan kupon menimbulkan banyak masalah. Alih-alih menggunakan kupon, panitia mengedarkan sendiri dari rumah kerumah daging kurban tersebut. Ini telah berjalan puluhan tahun. Sejak sebelum saya lahir hingga kini. Ini lebih manusiawi dan menghormati orang yang diberi daging. Memanusiakan orang miskin adalah esensi pemahaman saya terhadap islam.


Bagi saya dan kebanyakan orang desa, yang membedakan manusia satu dengan yang lain hanyalah baju sosial. Baju sosial tidak memiliki makna apapun dimata keyakinan keagamaan saya bila sudah berinteraksi dengan Tuhan. Status seseorang hanya diukur dari ketaqwaan bukan dari baju sosial. Disamping itu Orang desa masih memegang teguh nilai moralitas, bahwa meminta adalah sesuatu tindakan yang sangat hina dan rendah. Dalam hal qurban maupun zakat, orang desa lebih santun ketimbang orang-orang perkotaan. Semiskin apapun anda, bila anda hidup di desa maka akan sangat malu dan hina jika meminta jatah daging kurban maupun zakat, meskipun itu merupakan hak anda sebagai orang miskin.


Meskipun demikian, antara orang desa dan kota memiliki kesamaan bahwa daging sapi atau daging kambing adalah sebuah kemewahan. Hanya orang kaya raya minimal kelompok menengah saja yang mampu mengkonsumsi daging sapi untuk kebutuhan sehari-hari. Barangkali, konsumsi daging orang desa paling rendah ketimbang orang perkotaan. Mereka makan daging sapi atau kambing kalau hari raya idul adha atau ketika ada hajatan tetangganya; pernikahan, kithanan atau kenduri. Atau jika keinginan terhadap daging sapi dan kambing tak tertahankan, mereka membeli sesekali di penjual kaki lima ; soto, rawon atau sate kambing. Itupun jarang sekali. Kebanyakan hanya menunggu saat hari raya idul adha atau saat kenduri / hajatan saja. Memasak daging sapi juga merupakan kemewahan tersendiri bagi orang kebanyakan. Ini juga berlaku daerah-daerah sentra peternakan. Para peternak, hanyalah kuli untuk membesarkan sapi atau kambing, ketika sudah besar dijual dan yang mengkonsumsi adalah orang kaya atau kalau orang biasa, para penjual makanan kaki lima. Peternaknya hanya makan tahu tempe atau ayam potong atau ayam peliharaan, jika sangat menginginkan daging.


Sementara, ritual-ritual agama seperti zakat dan Qurban hewan bergeser dari penanaman nilai-nilai keikhlasan, melepas kecintaan yang berlebihan terhadap harta benda, berempati pada sesama yang kurang beruntung, dengan tetap menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia itu sendiri bergeser menjadi ajang entertainment televisi; perilaku orang miskin yang saling sikut, saling injak, saling tendang bahkan hanya untuk 2 ons daging qurban sekalipun. Tapi jangan salahkan rakyat miskin !. yang salah adalah mereka yang diberi amanah untuk menyembelih dan mendistribusikan daging qurban. Anehnya dikota-kota, mereka, para panitia, bukanlah orang-orang bodoh, melainkan orang-orang berpendidikan, memiliki kedalaman pengetahuan tentang Islam dan esensinya serta berkecukupan.


Ini adalah ironi sebuah negara yang saat ini dengan bangga, oleh para pengamat ekonomi, sebagai negara berkembang dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi berdampingan dengan China dan India. Bahkan, tak kurang Barack Obama, Presiden Amerika Serikat, kemarin, ke Indonesia dalam rangka misi dagang, menawarkan produk-produk amerika pada masyarakat kelas menengah yang tumbuh sangat cepat. Pada tataran masyarakat kecil seperti saya dan kebanyakan orang yang tinggal didesa maupun barangkali sebagian orang kota, angka-angka pertumbuhan ekonomi tidaklah dimengerti sama sekali. Bahkan juga tidak memiliki makna apapun. Apalah arti pertumbuhan ekonomi 5 %, 6 %, 7 % bagi kebanyakan orang ?. dalam pemahaman awam, ekonomi tumbuh, jika anda memiliki kemampuan membeli kebutuhan primer dan sekunder. Semakin tinggi kemampuan kita memenuhi kebutuhan sekunder maka semakin tumbuh ekonomi kita. Kalau saja urusan makan daging sapi/kambing saja masih merupakan kemewahan bagi kebanyakan orang Indonesia, apakah bisa dibilang pertumbuhan ekonomi memiliki makna bagi kita ?.


Pemerintah memiliki kewajiban pada rakyatnya untuk terus menerus meningkatkan kesejahteraan mereka. Bila kemampuan ini tidak dimiliki, maka keberadaan sebuah pemerintahan tidak juga bermakna, dalam kata lain, ada atau tidak ada pemerintahan, sama saja. Pemerintah kita sampai hari ini, lebih banyak "ngerepoti" rakyatnya ketimbang menyejahterakan. Sesuatu yang lazim bagi pemimpin negeri ini, untuk mengobral janji ketika kampanye presiden, gubernur, bupati. Janji yang cepat dilupakan baik oleh pejabat itu sendiri maupun oleh rakyatnya. Rakyat indonesia memang hebat, sesering apapun mereka dibohongi pemimpinnya, sesering itu pula mereka memaafkan dan melupakannya. Saya terkadang membayangkan, andai saja seluruh rakyat Indonesia sudah sedemikian membenci pemerintahannya dan tidak mau mengikuti semua proses demokrasi yang berjalan, habislah negara kita. Kalau saja 90 persen rakyat kita golput, tidak mau mencoblos dalam berbagai pemilu apakah pemilu legislatif, presiden, gubernur atau bupati/walikota. sisanya 10 persen adalah para politisi dan keluarganya, apa yang akan terjadi. Tapi percayalah, rakyat kita lebih bijaksana, jujur dan sangat toleran terhadap perilaku menyakitkan ketimbang para politisi disenayan, para calon presiden, calon gubernur, calon bupati/walikota. Kalau toh, berbeda adalah para pejabat dan politisi, lebih sering makan daging sapi ketimbang rakyatnya yang hanya menunggu satu tahun sekali. Itupun dengan harus bermandikan peluh dan air mata. Tapi rakyat kita memiliki kesabaran yang luar biasa………..






EKSPLOITASI KEMISKINAN DAN ZAKAT

Adalah Umar bin Khatab, khalifah dan penguasa jazirah arab awal Islam, yang memanggul sendiri sekarung gandum ketika sedang jalan-jalan menemui rakyatnya dan menemukan seorang Ibu yang terpaksa memasak batu (akibat kemiskinan yang tak terperikan) karena anaknya menangis kelaparan. Umar bersusah payah memanggul gandum ke keluarga yang malang itu, bukan memanggil mereka kerumah Umar atau ke kantor Diwan (kantor kas perbendaharaan Negara) untuk mendapatkan hak mereka sebagai kaum miskin.

Maka disaat ramadhan ini, ketika para dermawan, para saudagar kaya, pejabat kaya atau pemerintah daerah yang kelebihan uang, membagi-bagi zakat pada fakir miskin sebenarnya merupakan tindakan mulia. Mulia, minimal setahun sekali mereka mau memikirkan kaum miskin ini. Mulia karena memang itulah yang diperintahkan Islam. Mulia karena harta kita hanyalah titipan dan suatu saat diambil tanpa pernah kita sadari. Mulia karena ketika kesejahteraan belum juga dinikmati kaum miskin mereka mau memberikan uang atau sembako pada kelompok terpinggirkan ini. Betapapun uang atau yang diberikan sangatlah tidak sepadan dengan besarnya kebutuhan, keluarga paling miskin sekalipun. Minimal kaum miskin dapat merasakan sedikit kebebasan dari pertanyaan "darimana lagi saya dapat uang untuk menyambung hidup ?".

Sayangnya, kemuliaan itu dinodai oleh kesombongan beberapa saudagar kaya. Kesombongan bupati kaya. Kesombongan pengusaha kaya. Yang menuntut orang-orang miskin berhimpit-himpitan dan saling injak hanya untuk mendapatkan uang 30 ribu atau sekresek sembako. Sebuah angka yang tidak seimbang. Uang yang mungkin sekedar uang rokok mereka. Atau sekelas uang jajan anak-anak. Setiap tahun, disaat bulan Ramadhan, yang sebenarnya, bulan yang mulia, kita disuguhi dengan kenyataan bahwa rakyat miskin harus berhimpit-himpitan, saling sikut, kalau perlu saling tendang. Orang miskin untuk mendapatkan zakat saja, yang merupakan hak mereka, yang nilainya tidak seberapa, dipaksa untuk berjuang mengalahkan satu sama lainnya. Mereka seperti juga kehidupannya, terlalu berat menjalani kehidupan, tidak memperoleh itu, memperoleh zakat dengan mudah. Mereka harus mencucurkan peluh dan barangkali air mata. Setiap tahun, selalu saja ada orang kaya yang sombong, seolah-olah hendak berkata pada semua orang "mintalah padaku, niscaya akan aku beri kau 30 ribu rupiah".

Zakat yang merupakan salah satu pilar islam dalam hal konsep kesejahteraan sosial, bergeser fungsi sebagai alat untuk mengekslpoitasi kemiskinan. Saya tidak paham jalan pikiran mereka, kelompok saudagar kaya, pengusaha kaya atau pejabat kaya, sehingga mereka sangat tega melihat masyarakat miskin bermandi peluh dan berebutan sesuatu yang tidak terlalu besar nilainya.kelompok ini sebenarnya tidak banyak, tapi sangat melukai hati orang miskin dan kebanyakan orang Islam termasuk saya. Zakat yang dengan itu, menolong orang-orang miskin mengangkat derajatnya menjadi lebih baik kehidupannya, berubah fungsi menjadi sarana menyombongkan diri. Saya yakin, mereka bukannya tidak mengerti tentang zakat. Bahkan ada sebuah pondok pesantren di Jawa Timur yang menurut pemiliknya, sangat menikmati berjubel-jubelnya rakyat miskin berebut zakat hanya karena tradisi itu telah dilakukan secara turun temurun. Pemahaman tradisional pembagian zakat face to face dipahami sebagai mengumpulkan ribuan orang dirumahnya. Meskipun lembaga-lembaga zakat modern telah tumbuh dan berkembang di Indonesia, toh, itu tidak menyurutkan beberapa orang saja, yang menikmati kesusahan orang miskin.

Kalau kebetulan tetangga anda, bos anda, pejabat anda, ada yang membagi zakat dengan cara menghinakan kaum miskin, percayalah mereka hanya sebagian kecil saja orang yang menyombongkan diri karena kekayaannya. ……. Dan Allah sangat membenci orang-orang yang sombong dan menghinakan kaum miskin…………………. Alih-alih, berikan zakat anda ke badan zakat atau anda datang sendiri atau panitia yang anda bentuk untuk datang ke tetangga anda yang miskin, bertamu dan memberikan zakat sebagai hak kaum miskin…… sebagai harta titipan yang diamanahkan Allah untuk disampaikan kepada mereka dengan cara baik dan menghargai mereka. Sebab yang membedakan saya, anda dengan orang miskin hanyalah baju sosial yang melekat pada kita. Barangkali mereka, orang-orang miskin, jauh lebih mulia dihadapan Allah ketimbang kita. Karena ketakwaannya, terkadang jauh lebih bagus ketimbang kita…………………..

Maka RUU Zakat yang sekarang lagi digodok di DPR, harusnya melarang dan memberi sanksi pembagian zakat model pengerahan massa. Kalau saja orang-orang kaya mau membagi zakat sebagai hak orang miskin seperti yang dilakukan Umar Bin Khatab diatas, dengan pemberian yang baik. Dengan ucapan yang baik. Maka kita tidak akan lagi menemui ditahun-tahun berikutnya, saudagar kaya, pejabat kaya, pengusaha kaya yang sombong yang mengeksploitasi kaum papa ini.


ANTARA BUNG KARNO DAN SBY : BEDA DALAM MENGHADAPI KRISIS INDONESIA - MALAYSIA

Tentu saja kita tidak bisa menyejajarkan dan membandingkan antara Bung Karno dan SBY. Bung Karno adalah orator ulung, lugas dan bahasanya mudah dipahami rakyat. Sedangkan SBY adalah tentara intelektual (dengan gelar Doktor sebagai embel-embelnya) banyak menggunakan bahasa diplomatis, normatif dan berbunga-bunga. Hal ini disebabkan karena berbeda latar belakangnya. Bung Karno berada dalam posisi negara yang lagi merdeka dan sangat sensitif terhadap isu-isu kedaulatan negara. Maka ketika Malaysia mengganggu Indonesia, Soekarno membuat pernyataan "Ganyang Malaysia". Sedangkan SBY berada di jaman dimana ukuran-ukuran pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan rakyat menjadi sangat penting melebihi persoalan simbol-simbol negara. Semalam ketika SBY pidato di markas TNI Cilangkap Jakarta, maka karakteristik kepribadian SBY yang muncul sama saja ; diplomatis, normatif dan berbunga-bunga.

Bung Karno, melakukan tindakan-tindakan nyata dimata rakyat dengan mengerahkan sukarelawan sebanyak 21 juta orang untuk dilatih kemiliteran. Menyatakan "ganyang Malaysia". Mengumpulkan dana dari masyarakat untuk mendukung gerakan ganyang malaysia. Dengan bahasa lugas Bung Karno menyatakan "ada seribu serdadu malaysia masuk ke Indonesia, sepuluh ribu sukarelawan akan saya tumpahkan".

SBY dimarkas TNI sebagai simbol pertahanan negara, menyampaikan pidato yang mengutamakan diplomasi dengan menggunakan pertimbangan-pertimbangan ekonomi dan hubungan kesejarahan Indonesia - Malaysia. Seperti 2 juta TKI di Malaysia, 13 ribu Mahasiswa disana, perdagangan ekonomi Indonesia – Malaysia. Tentu rakyat tidak bisa mengubah kepribadian SBY untuk berubah menjadi garang, tegas dan berwibawa. SBY adalah SBY, rakyat adalah rakyat. SBY memimpin Indonesia dengan membawa kepribadiannya dalam mengambil keputusan-keputusan. Setiap isu krusial selalu diakhiri dengan karakteristik SBY yang diplomatis, normatif dan berbunga-bunga. Maka orang bertanya-tanya, kenapa SBY harus menyatakan pidato kenegaraan di Cilangkap, Markas TNI, simbol pertahanan negara, mengapa tidak di Departemen Luar Negeri. Karena apa yang disampaikan SBY hanya cocok disampaikan disana atau di Istana Negara. Atau disampaikan saat memberi arahan kepada para pejabat dibawahnya, menteri luar negeri, para pembantu menteri bukan pada tataran rakyat yang telah lama memendam rasa marah pada Malaysia sebagai akumulasi persoalan-persoalan dengan Malaysia.

Bung Karno menghadapi Malaysia dengan pernyataan perang "ganyang Malaysia". Melibatkan konsep dasar pertahanan negara kita yang menganut sistem Hankamrata (Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta) dimana rakyat terlibat dalam setiap pembelaan dan menjaga kedaulatan negara. Kedaulatan negara bukan hanya urusan TNI tetapi juga urusan rakyat. Ini merupakan konsep dasar sistem pertahanan di Indonesia.

Sedangkan SBY menggunakan perangkat-perangkat negara untuk melakukan diplomasi diberbagai persoalan termasuk yang paling rawan, perbatasan wilayah Indonesia – Malaysia. Rakyat berada dipinggir dan hanya menjadi penonton ketika diplomasi berjalan. Maka rakyat yang marah menyalurkan energinya melalui demo-demo. Apa yang dikehendaki rakyat sebenarnya simpel "pemerintah menyatakan agar Malaysia meminta maaf atas kasus penangkapan simbol-simbol negara, 3 petugas KKP diperairan Indonesia". Sesimpel itu. Maka ketika SBY tidak menyinggung sama sekali kehendak rakyat itu dalam pidatonya, rasanya sikap tegas tidak dimiliki SBY sebagai representasi rakyat Indonesia. Tapi sekali lagi SBY tetap SBY. Beliau tidak bisa dipaksa menyatakan itu karena SBY memiliki pertimbangan lain. Bagi rakyat, perundingan oke, kalau Malaysia telah meminta maaf atas kejadian itu. It's simple problems. Soal Malaysia mau minta maaf atau tidak, itu urusan lain lagi. Suara rakyat telah disampaikan presidennya. Sayangnya, itu tidak dilakukan SBY dalam pidato di Cilangkap. Yang dilakukan adalah menegaskan persoalan perbatasan wilayah harus secepatnya dirundingkan. Hubungan Indonesia – Malaysia harus dipertahankan.

Sebenarnya, dalam urusan dengan Malaysia, SBY telah tercatat pernah melakukan tindakan yang sangat cemerlang dan dipuji rakyat yaitu ketika menyangkut masalah ambalat. Saat itu, SBY, dengan menggunakan seragam militer, berada diperbatasan, diatas sebuah tank, memandang kearah Malaysia seolah-olah hendak berkata "sekali kamu masuk diwilayahku. Aku berada digaris depan". Meski kunjungan SBY di Ambalat tidak menyatakan perang, tetapi tindakan itu, memberi dampak yang kuat dirakyat dan juga Malaysia. Ketegangan urusan ambalat menurun. Meski bukan berarti selesai. SBY sangat cakap dengan urusan bahasa tubuh (gesture) tetapi ketika menggunakan kata-kata dalam pidato, selalu saja kesimpulannya sama "diplomatis, normatif dan berbunga-bunga".

Maka banyak orang kecewa setelah menunggu-nunggu reaksi presiden SBY terhadap penangkapan 3 petugas KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) minimal reaksi balasan atas pernyataan Najib, perdana menteri Malaysia. Apa yang disampaikan SBY tidak lebih dari mengulang apa yang dikatakan Marti Nata Legawa, menteri Luar Negeri. Sikap tegas yang diharapkan rakyat tidak muncul dalam pidato presiden SBY. Rakyat rindu Sikap tegas seorang pemimpin di Indonesia. Sayangnya, sikap itu telah hilang sejak setelah Soekarno lengser. Tegas bukan disederhanakan dengan "ancaman perang". Tegas berarti, menyatakan sungguh-sungguh kemarahan rakyat Indonesia.

Pak SBY hanya berputar-putar diurusan diplomasi yang sebenarnya, sangat lemah. Diplomasi hanya berjalan jika, kedua belah pihak berada diposisi yang sama. Saat ini diplomasi indonesia berada diposisi bawah dibanding Malaysia. Kita tidak bisa meminta SBY menjadi seperti Soekarno. SBY adalah SBY yang diplomatis, normatif dan berbunga-bunga…….


KATA TITAFUL SEMBIRING : SITUS PORNO 80 PERSEN TERBLOKIR ?

This summary is not available. Please click here to view the post.
MENGUNGKAP VIDEO PORNO ARIEL – LUNA DAN ARIEL - CUT TARI



Setiap ada video dokumentasi yang menghebohkan selalu dipertanyakan keaslian video tersebut. Kita masih ingat ketika para teroris merekam persiapan kelompok Nurdin M. Top hendak mengebom hotel Ritz Carlton dalam bentuk video, dan Mabes Polri menampilkan logo Polri di video tersebut, ramailah orang-orang telematika mempertanyakan keabsahan video tersebut. Sama ketika Video porno Ariel – Luna dan Ariel – Cut Tari beredar luas diinternet, banyak orang mempertanyakan keaslian video tersebut meskipun Cut Tari sendiri membantah keberadaannya divideo tersebut.


Gambar : karena kutipan foto di video Luna dan Ariel tidak mungkin saya tampilkan. Maka foto ini diambil dari Wawancara eksklusif dengan TV One


Saya menjadi penasaran untuk mengetahui kandungan materi video yang menghebohkan tersebut, saya coba download. Hasilnya

Gambar : capture foto Cut Tari dalam video Ariel - Cut Tari

setelah saya dapatkan video Ariel – Luna Maya dengan ukuran yang dikompres sebesar 6.8 MB dalam format Mp4 terus saya ubah ke format AVI -Audio Video Interleaved- ( sebuah format khas Microsoft windows dalam menangani pekerjaan video) sebelum mengetahui detail video tersebut. Untuk dapat mengetahui detail sebuah video kita harus mengenal dan membaginya kedalam scene-scene.
Setiap video selalu terdiri dari scene-scene video atau batasan-batasan masing-masing angle baik dibuat otomatis oleh alat perekam maupun hasil pengambilan gambar itu sendiri. Dari Scene tersebut dapat diketahui framenya. Scene video yang dilakukan secara otomatis biasanya mengacu pada setiap pergerakan gambar tersebut. Setiap pergerakan gambar bila diperlambat akan menghasilkan frame-frame dengan jumlahnya sangat tergantung dari gerakan gambar tersebut. Dalam video Ariel – Luna, saya ambil sampel durasi 26 detik diawal dari video tersebut dengan menggunakan tingkat sensitifitas scanning scenenya 100% hasilnya terdapat 753 frame artinya untuk 26 detik video tersebut diperlukan kira-kira seukuran 753 gambar foto statis dengan angle (sudut-sudut) yang berbeda-beda. Artinya kalau anda ingin mengubah video tersebut diperlukan foto-foto sebanyak itu baik jumlahnya maupun sudut gambarnya untuk durasi 26 detik, sebelum diinsertkan didalam video tersebut.

Pertanyaannya menjadi mungkinkah materi video bisa diubah ?. jawabannya sangat tergantung pada jenis video yang dibuat dan siapa yang membuatnya. Kalau jenis-jenis film beranimasi canggih seperti terminator sangat mungkin. Mengubah materi wajah dan posture orang kedalam fitur animasi dapat dilakukan disini. Untuk itu diperlukan animator-animator handal dan mahal yang mampu melakukannya.

Kalau hanya video sekelas Ariel-Luna dan Ariel – Cut Tari. Tidak usah orang sekelas Roy Suryo, para editor video mampu mengatakan bahwa itu adalah asli. Mengapa ?. karena dari angle pengambilan gambar saja nampak sebagai pekerjaan amatiran. Pekerjaan amatiran tidak mungkin mengubah gambar video yang bersifat dinamis dan menginsertkan gambar-gambar statis dalam waktu yang bersamaan. Indikator-indikator diantaranya ;

  1. gambar cenderung tidak fokus ini menunjukkan memang video itu konon merupakan koleksi pribadi yang dibuat asal-asalan saja.
  2. penggunaan teknik-teknik pengambilan gambar video (zoom in-out, pan zoom, close – big close dll) tidak nampak jelas. Upaya big-close misalnya, untuk melihat ekspresi seseorang secara detail dilakukan sekilas sehingga tidak jelas maksud dari big-close tersebut.
  3. Perubahan warna dalam video terkadang nampak kuning dan pecah, kabur dan kadang nampak terang-jelas akibat dari lighting hanya mengandalkan pencahayaan ruangan menyebabkan warna tampilan video yang berubah-ubah sesuai dengan angle gambar dan sumber datangnya cahaya – ini sangat dihindari para pembuat video profesioanl karena rendahnya pencahayaan tanpa dibarengi dengan kamera video beresolusi tinggi yang dipakai hanya melahirkan gambar pecah dan tidak jelas bahkan video yang menggunakan teknologi HD (high Definition) tanpa filter dan lensa peredam masih tidak bagus hasilnya.
  4. video Ariel – Cut Tari diambil tidak menggunakan triport atau alat penopang kamera lainnya melainkan hanya diletakkan diatas meja sedangkan video Ariel – Luna diambil dengan tangan Ariel baik kanan dan kiri secara bergantian akibatnya goyangan gambar sangat terasa
  5. perpindahan sudut pengambilan gambar tidak melalui proses cut recording tetapi dengan langsung menggerakkan kamera tanpa mematikan rekamannya yang menunjukkan sebagai pekerjaan amatiran.
  6. media output yang digunakan berekstensi 3gp dan Mp4 yang merujuk rekaman dari hanphone dan kamera foto digital – jarang sekali para profesional mau menggunakan HP dan foto digital sebagai media pengambilan gambar bergerak karena kualitas audio maupun video cenderung rendah disebabkan keterbatasan pixelnya. Meskipun output dari kamera video seperti handycam maupun video profesional dapat saja diubah dalam ekstensi 3gp maupun Mp4 melalui proses transfer yang sederhana.
  7. Media video yang berasal dari Handycam maupun Video Kamera Profesional pada proses transfer kekomputer banyak dipilih ekstensi AVI (Audio Video Interleaved yang merupakan kekhasan ekstensi sistem Microsoft Windows) dari capture DV –Digital Video- maupun MPEG ( Moving Picture Experts Group) yang biasanya memakan ruang yang sangat besar (MPEG membutuhkan 167 MB perdetik untuk capture resolution 768 x 576 pixel yang artinya ukuran 4-7 GB untuk disk blank DVD hanya sanggup menampung durasi sekitar 4 menit video namun setelah dikompress dalam format keluaran DVD - Digital Versatile Disc - 17 GB akan menjadi sekitar 650 – 780 MB saja. sumber : Manual dari Magix Pro 2005, Manual dari Pinnacle 10 plus dan Manual dari Ulead Video Studio 8). Sedangkan 3gp mapun Mp4 akan langsung dapat ditransfer atau dicopy pastekan kekomputer sekaligus diedit dengan kualitas yang tentunya jauh lebih rendah ketimbang input ekstensi AVI maupun MPEG. Untuk mengubah video dari ekstensi 3gp maupun Mp4 kedalam format MPEG, VCD maupun DVD cukup anda gunakan software editing video pinnacle 10 plus keatas yang mudah pengoperasiannya.