MH. AINUN NAJIB : KEKUASAANKU HANYALAH SECANGKIR KOPI DIPAGI HARI


 

Ketika MH Ainun Najib, Cak Nun, berbicara tentang dirinya, maka dia menyebut "aku ini apa. Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan kyai, bukan da'i, bukan ulama, apalagi pejabat, Aku tidak memiliki kekuasaan apapun. Bahkan urusan rumah tangga, kekuasaanku hanyalah secangkir kopi dipagi hari" (dikutip dari Dhoho TV "Acara Bang-Bang Wetan").

Cak Nun, sebenarnya dikalangan sastrawan dan budayawan, bukanlah orang kemarin, ia merupakan salah satu generasi sastrawan diera 70 - 80-an yang sangat berpengaruh. Sajak-Sajak "Lautan Jilbab" merupakan salah satu sajak religius - sosial Cak Nun, yang mengkritisi kepemimpinan Soeharto dan selalu berurusan dengan pihak berwajib jika dipentaskan. Orang-orang seperti Cak Nun, WS. Rendra, adalah sosok seniman yang paling banyak dikutit intel pada era rezim Orde Baru. Salah satu temannya, Wiji Tukul, penyair yang masih muda dari Yogyakarta, sampai sekarang tak tentu rimbanya bahkan mungkin telah dihapus (seperti dalam film "Eraser") dan dilenyapkan.

Pemikiran keagamaannya sering nyleneh dimata kyai tradisional maupun dimata orang-orang Muhamadiyah. Maka pengakuannya bahwa ia bukan NU, bukan Muhamadiyah, bukan Persis, mengingatkan saya pada seorang intelektual islam dari Madura, Abdul Wahab, seorang intelektual muslim yang mati muda dan sejajar dengan Soe Hoek Gie dari Jakarta. Baik dari pemikiran maupun cara matinya. Sama-sama mati muda. Satu terlindas kendaraan di Jakarta, satunya tercekik gas beracun di gunung Mahameru Jawa Timur. Salah satu ketaklaziman pemikiran Cak Nun seperti "Kalau saya sudah jengkel. Saya pingin sekali-kali mau memberi kutbah jum'at. Meskipun saya tidak pernah mau sebelumnya untuk memberi kutbah Jum'at. Saya akan pakai salib sambil membawakan kutbah jum'at atau berpakaian seperti Bikhu. Dasar mana yang menyebutkan bahwa pakaian merupakan identitas keagamaan?".

Sejarah yang diukir MH. Ainun Najib bersama Alm. Nur Cholis Madjid untuk bangsa ini adalah mediasi Soeharto dengan kelompok anti Soeharto yang pada akhirnya mampu memaksa Soeharto turun dari Jabatan sebagai Presiden ditahun 1998. Satu kalimat Cak Nun, barangkali yang paling terkenal ketika memaksa lengser Soeharto, yang kemudian Soeharto sendiri mengutipnya, adalah "Ora dadi Presiden ora pathek'en". Sebuah ungkapan kekesalan, keputusasaan, kekecewaan orang jawa timur khususnya, ketika berada dititik paling kritis dalam hidupnya. Sebuah ungkapan lugas ketika kita tidak mampu berbuat apa-apa selain menyerah pada keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Sebagai seorang Sastrawan, MH. Ainun Najib tahu betul kekuatan sebuah kata untuk mempengaruhi seseorang.

Nama Cak Nun sudah meredup, mungkin telah dilupakan kebanyakan orang, seiring dengan gegap gempitanya persoalan bangsa yang tak henti-henti mendera negeri kita. Tapi ia tidak tenggelam. Di usia yang telah senja Ia masih telaten ngopeni berbagai komunitas pengajiannya yang tersebar dari Jawa barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Berbagai persoalan bangsa ia bantu pecahkan jika diminta.

Meski sekarang Cak Nun dan Kyai Kanjengnya tidak laku lagi di TV Nasional, Salah satu acara favorit saya, dihari rabu malam adalah nonton TV lokal kediri "Dhoho TV", biasanya direcord dari acara di Menturo Jombang "Padhang Mbulan" atau juga "Bang-bang Wetan" sebuah komunitas maiyah di Surabaya yang dipandegani Suko Waluyo, dosen Unair Surabaya. itu yang mengobati kerinduan ungkapan-ungkapan lugas, khas jombang dan jawa timur, kenakalan pemikirannya, "thok slorok yen ngomong" (berbicara sesukanya), guyonan khas jawa timuran, semangatnya yang masih menggebu-gebu.

Sekarang dimanakah MH. Ainun Najib ?. Ketika Gus Dur meninggal dunia dan para politisi, pejabat mulai menteri sampai Presiden, malah Cak Imin – Muhaimin Iskandar ketua PKB yang mengusir Gus Dur dari PKB - ikut berbondong-bondong ke Cukir Jombang untuk ta'ziah, MH. Ainun Najib, yang malamnya ada di Menturo Jombang mengisi acara rutin Cak Nun ditempat kelahirannya "Padhang Mbulan", paginya malah pergi ke Makasar. Jombang menjadi lautan manusia, Cak Nun pergi ke Makasar. Padahal semua orang tahu, Gus Dur adalah salah satu teman dekatnya. Satu-satunya teman yang menghibur Gus Dur ketika ditelanjangi DPR dan dibuang ke keranjang sampah adalah Cak Nun. Baru di hari ketujuh dalam acara tahlil di pondok tebu ireng, Cak Nun menampakkan diri.

Setelah ikut berperan melengserkan Soeharto, Cak Nun, kembali seperti biasa. Ngopeni Kyai kanjeng dan umatnya yang tersebar dalam berbagai jamaah pengajian. Ia tidak berada dilingkaran kekuasaan, betapapun Gus Dur, sahabat dekatnya, menjadi presiden sekalipun, ia tetap berada diluar kekuasaan. Ini mengingatkan saya pada kisah-kisah heroik para pejuang kemerdekaan disekitar rumah saya, yang setelah selesai berperang dan Indonesia bebas dari penjajah, mereka kembali seperti biasa, yang petani menjadi petani yang kyai menjadi kyai yang kuli menjadi kuli. Tidak ada hasrat meraih kekuasaan apapun. Apalagi ngemis meminta jabatan atau kedudukan. Karena mereka melihat membela negara adalah tugas luhur yang diperintahkan agama. Jihad fi sabillillah. Satu bentuk ketulusan yang paling tinggi dalam hidup seseorang ketika ia memperjuangkan sesuatu bukan untuk mendapatkan apapun melainkan karena keyakinan yang kuat bahwa hal itu patut diperjuangkan.

Posisinya yang berada diluar kekuasaan, memudahkan Cak Nun menjadi jembatan antara rakyat kecil dengan penguasa. Berbagai persoalan besar di Jawa Timur misalnya, tak lepas dari posisi Cak Nun yang berada ditengah-tengah konflik kepentingan. Seperti kasus Lapindo Brantas. Adalah MH. Ainun Najib yang ngeyel dan membujuk rakyat yang kena dampak lumpur lapindo, untuk menerima ganti rugi dari anak perusahaannya Bakrie itu ketimbang memproses ke pengadilan. Sebab, dengan perangkat hukum yang ada sekarang (banyak polisi, jaksa dan hakim korup) hasilnya pasti bisa ditebak. Rakyat pasti akan terkalahkan justru sebelum sidang dimulai. Maka kalau itu terjadi, rakyat tidak akan dapat apa-apa, selain tangisan dan air mata yang barangkali telah mengering. Cak Nun tahu betul bahwa sistem peradilan di Indonesia yang korup tidak memungkinkan rakyat kecil, korban lapindo brantas, menang melawan gurita sekelas Bakrie group. Maka yang dilakukan adalah negosiasi, piye carane rakyat kecil dapat ganti rugi atas lahan mereka yang terkena dampak. Dan meski alot akhirnya berhasil juga. Belum lagi upaya ngrayu Walikota Surabaya dan Wakil Gubernur Jatim untuk kasus penggusuran rumah di sekitar stren kali Jagir Wonokromo. Yang terakhir bersama Dik Doang adalah upaya mediasi perseteruan antara suporter Persebaya "Bonek" dengan Suporter Arema Malang "Aremania", untuk akur dan saling bersahabat.

Ketulusan dan kecintaan pada rakyat kecil, rakyat yang selalu terkalahkan, rakyat yang selalu jadi korban karena diadu sesama, membuat saya menuliskan artikel ini. Kecintaan yang tulus pada rakyat kecil yang terpinggirkan tanpa pernah mengharapkan apapun adalah sesuatu yang sangat langka dinegeri ini. Kebanyakan hanya muncul untuk sekedar mencari popularitas atau menjadi pahlawan kesiangan atas berbagai persoalan yang justru ketika rakyat telah menjadi korban, seperti kasus makam mbah priok, yang memunculkan orang seperti Habib Rizieq, ketua FPI, yang biasanya berpenampilan garang, menggebu-gebu, penuh kemarahan tiba-tiba berubah menjadi lembut dan penuh kearifan.

Meskipun Cak Nun tidak memiliki kekuasaan apapun, ia tetap dicintai rakyat paling tidak dikalangan komunitasnya dan Orang-orang yang pernah ditolongnya seperti rakyat yang menjadi korban jebolnya situ gintung di tangerang, orang-orang yang menjadi korban lapindo brantas, orang-orang disekitar stren kali jagir wonokromo dsb. Meskipun kekuasaannya hanyalah "secangkir kopi dipagi hari".................


 

 

JULIA PEREZ : LEDHEK INGIN JADI RAJA ?

Dalam masyarakat Jawa tradisonal menyebut seorang wanita pekerja seni sebagai ledhek. Orang-orang pesisir selatan seperti Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, tahu betul apa arti ledhek. Ia tak lebih sekedar penghibur yang mengiringi tarian tradisional yaitu Tayub dalam berbagai acara kawinan, sunatan. Dijaman kerajaan dulu, terkadang diundang raja untuk menghibur tamu-tamu. Diberi angpao oleh para lelaki yang menari bersamanya. Bila tidak menari, maka melayani tamu, menuangkan minuman keras atau sekedar bercanda. Karena itu, dalam strata sosial jawa, ledhek jauh lebih rendah martabatnya dibawah buruh tani yang paling miskin sekalipun. Maka ketika Jupe mencalonkan diri menjadi Calon Bupati Pacitan, saya teringat bahwa Jupe tak lebih dari seorang ledhek yang ingin menjadi raja.


Dengan kemampuan politik yang terbilang nol, keberanian Jupe mencalonkan diri sebagai bupati Pacitan menimbulkan banyak keheranan. Apa yang dipunyai Jupe ?. Hanya berbekal sekedar popularitas yang menonjolkan paha dan ungkapan menantang disebuah iklan televisi "mau masukin, pakai sutra dulu dong !" toh Jupe tetap saja ngeyel mencalonkan diri. Apalagi ia bukan orang Pacitan. Jupe tidak salah, yang geblek (bodoh, ngawur) itu partai pendukungnya. Itu menunjukan bahwa Partai Pendukungnya, sudah kehabisan akal untuk memenangkan Pemilukada. Ketika partai politik hanya berorientasi pada hitung-hitungan kemenangan dalam pemilukada, maka segala cara akan ditempuh. Yang paling mudah adalah mencomot artis-artis. Artis memiliki kelebihan dalam hal popularitas. Tapi awam dalam hal kepemimpinan. Memimpin suatu daerah, bukanlah memimpin sebuah sirkus yang penuh akrobat-akrobat politik, melainkan upaya yang sungguh-sungguh membangun daerah menjadi suatu daerah yang mandiri, cerdas dan makmur. Itu diperlukan kepemimpinan bukan sekedar popularitas belaka.


Mau jadi apa Pacitan jika pemimpinnya cuma bisa memamerkan paha dan dadanya saja. Saya kira yang sengsara itu rakyatnya, yang tertawa itu para kepala dinas, para politisi lokal, anggota DPRD, staf-staf kabupaten. Mengapa ?. karena ketika sudah pada urusan teknis dinas, sangat mudah dikibuli. Sangat mudah dibohongi. Disaat generasi saat ini –meminjam istilah Adhi Masardi penyair Jakarta- dikuasai "para bedebah". Generasi korup dan busuk. Maka kehadiran Jupe akan melengkapi dan memudahkan para koruptor bermain. Sebab, Jupe tidak tahu apa-apa. Ia tidak memiliki kemampuan apapun baik diurusan politik maupun urusan teknis. Sangat disayangkan, banyak orang Pacitan yang cerdas dan pintar, politisi ulung, menjadi birokrat dipemerintahan daerah maupun pusat bahkan presiden kita sendiri orang Pacitan, malah akan dipimpin oleh seorang Jupe. Yang hanya seniman populer – orang jawa menyebutnya sebagai ledhek- yang tidak memiliki integritas dan kemampuan sebagai seorang pemimpin.


Inilah ironi demokrasi yang kita bangun. Karir politik tidak dibangun dari bawah dengan setahap demi setahap, melainkan mencari jalan instan. Banyak politisi-politisi dadakan yang karena kekuatan uang dan popularitasnya mencoba keberuntungan menjadi Bupati, gubernur. Sebagian berhasil, kebanyakan nyungsep, gagal. Demokrasi yang dibangun dengan modal uang dan popularitas saja, akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak memiliki visi yang jelas terhadap perkembangan daerahnya. Maka yang menderita, sekali lagi, rakyatnya. Selalu saja, rakyat jadi korban dari pemimpin yang tidak mengerti apapun selain "mau masukin, pakai sutera dulu dong !"........................

BJ HABIBIE : MUTIARA YANG DICAMPAKKAN INDONESIA


Ketika saya masih kecil, ada ungkapan yang sama dari setiap anak ketika ditanya oleh guru, ingin jadi apa nanti kalau sudah besar. Maka jawabannya pasti serempak "ingin seperti Pak Habibie, bisa bikin pesawat terbang".


Habibie diera 80-an adalah idola banyak anak dan remaja karena kecerdasannya, kecermelangan otaknya, dan ambisinya untuk pengembangan teknologi strategis, disaat Indonesia masih miskin, bodoh dan terbelakang, Habibie menjadi mutiara Indonesia. Saya masih ingat betul bagaimana berapi-apinya Habibie ketika dengan logat pelo bilang "high tech". Ambisinya membangun industri pesawat terbang misalnya, dan mendapat dukungan penuh di era Soeharto, pada akhirnya mampu membuat pesawat CN 235, akhirnya terkubur ketika pergantian kekuasaan yang sangat fantastik di Indonesia. Selain itu, kemampuan membangun industri strategis lain seperti PT PAL (berkonsentrasi pembuatan kapal laut baik untuk tujuan militer maupun komersial) dan PT Pindad, sebuah industri persenjataan Indonesia, - jangan heran jika senjata otomatis karya Pindad sangat digemari oleh negara-negara di timur tengah dan afrika- yang tentu saja Amerika ngamuk terhadap kemampuan itu sebab akan membuat industrinya nggak laku. Sumber : gambar dikutip Global TV, 5 April 2010


Kesalahan terbesar Habibie hanyalah karena terjun kedunia politik. Sebagai seorang teknokrat meskipun lebih dari 25 tahun menjadi anak kesayangan Soeharto, diakhir jabatannya, Habibie bermain api dengan menjadi seorang presiden pengganti Soeharto, akibat tekanan politik dalam negeri yang memaksa Soeharto lengser dari jabatannya. Ketika dunia politik masih berisi eforia demokratisasi, Habibie berkecimpung didunia yang sangat asing bagi dirinya. Maka dalam pengakuannya, Habibie sering dibujuki, tidak memahami siapa lawan siapa kawan, dan kubangan lumpur itulah yang pada akhirnya mampu menjerembabkan beliau dengan berakhir tragis. "ditolak pertanggung jawabannya oleh MPR". Hanya karena Habibie adalah kepanjangan tangan Soeharto.


Meskipun harus diakui karya besar Habibie selama lebih dari 500 hari memimpin bangsa kita adalah pertama, meredam gejolak rupiah disaat mampu menembus angka 18 ribu rupiah per dolar amerika akibat krisis moneter dan politik didalam negeri, di akhir jabatannya mampu memompa ke angka 6 ribu rupiah per dolar amerika. Kedua, melepaskan Timor Timur dari Indonesia. Karena wilayah itu akan selalu menjadi duri bagi Indonesia jika tidak lepas. Sejarah menunjukkan bahwa Timor Timur – sekarang Timor Leste – bukanlah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah itu, di agresi di era Soeharto dan dijadikan sebagai salah satu propinsi kita. Tentunya dengan dukungan Amerika Serikat, karena kepentingan amerika dan Indonesia waktu itu adalah membendung laju paham komunisme yang menguasai wilayah timor timur dibawah bendera partai Fretellin ( yang saat ini menjadi penguasa di Timor Leste) yang berafiliasi ke Komunis Uni Sovyet. Ketiga, mampu melaksanakan pemilu pertama, setelah tahun 1955, dengan multi partai, yang rumit bahkan sampai pemilu 2009 saja, kerumitannya masih belum dapat diatasi.


Sayangnya, mutiara itu dicampakkan, dibuang dan pada akhirnya diopeni orang lain. Industri kebanggaannya, PT Dirgantara Indonesia, yang dulu, berisi anak-anak cerdas, cemerlang, berotak berlian, sekarang tinggal kenangan. Hidup malas matipun tak mau. Orang-orang cerdas di PT DI sekarang diambil oleh perusahaan-perusahaan penerbangan asing seperti; air bus, boeing, atau negara-negara lain seperti amerika, Jerman, Turki dll.


Esensi pemikiran Habibie terletak pada peletakan fondasi terhadap pentingnya "high tech" bagi perkembangan sebuah negara. Tanpa menguasai teknologi, kita tidak akan mampu bersaing dengan negara-negara lain. Kesadaran inilah yang dimiliki India ditahun 80-an. Penguasaan teknologi tinggi benar-benar menjadi perhatian pemerintahan disana. Saat ini India, merupakan salah satu negara asia selain China yang memiliki kemampuan teknologi sangat luar biasa. Mampu membuat satelit dan meluncurkan sendiri, membuat rudal jelajah antar benua dengan hulu ledak nuklir, menjadi pesaing kuat Amerika didalam rekayasa piranti lunak didunia komputer. Kalau saja industri persenjataan dan penerbangan kita tidak dihambat oleh IMF dan penguasa kita sendiri, maka seharusnya saat ini kita telah mampu menciptakan banyak hal sehingga tidak tergantung impor dari amerika serikat. Bahkan ketika embargo persenjataan militer oleh Amerika akibat berbagai peristiwa di Timor Timur, kita seharusnya belajar untuk tidak pernah tergantung pada orang lain.


Menjadi keharusan bagi bangsa kita untuk memacu perkembangan teknologi terutama melalui dunia pendidikan. Karena harapan satu-satunya bagi kejayaan bangsa kita adalah penguasaan teknologi dengan dukungan penuh pemerintah yang berkuasa dan tentu saja masyarakat. Maka gagasan dari masyarakat IT seperti menjadikan Indonesia sebagai eksportir terbesar dunia dibidang rekayasa piranti lunak khususnya software edukasi haruslah mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Uji coba LAPAN membuat roket yang saat ini masih mencapai jangkauan 500 km merupakan upaya yang haruslah difasilitasi baik pembiayaannya maupun SDM-nya oleh pemerintah. Bidang-bidang Research and Development di setiap departemen yang saat ini timbul tenggelam, seharusnya menjadi bidang yang paling menentukan pertumbuhan departemen tersebut.. Disaat krisis listrik seperti saat ini, membangun teknologi Pembangkit listrik bertenaga nuklir saja, tentangannya sangat luar biasa. Karya anak-anak SMK yang membuat prototipe mobil nasional karya sendiri dan seterusnya dan seterusnya


Negeri kita kaya. Membiayai pengembangan high tech tidaklah terlalu sulit, jika ada kemauan yang kuat dari pemimpinnya. Ada visi yang kuat bagi bangsa ini kemana akan dibawa. Sayangnya, uang yang banyak. Negeri yang kaya. Uangnya terlalu banyak dimakan para koruptor (bahkan orang sekelas Gayus saja yang meminjam istilah Tesi Srimulat kalau melawak ketika berperan menjadi pembantu rumah tangga menyebut dirinya sebagai "jongos" didepartemennya mampu mengeruk uang negara puluhan milyar rupiah hanya dalam lima tahun bekerja, kita tidak bisa membayangkan betapa besarnya kekayaan para atasan yang menjadi Bos-bosnya Gayus) dan dihambur-hamburkan para politisi senayan, untuk sesuatu yang terkadang absurd dan tidak membawa hasil apa-apa.


Maka mutiara itu sudah tidak mampu bersinar lagi. Karena ia dicampakkan dan juga Ia sudah tua. Menjadi kakek-kakek dan tentu saja tidak sehebat dulu lagi. Meskipun semangatnya masih menyala-nyala, toh tetap saja ia sudah tua……………….. maka bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pendahulunya. Para pemikirnya. Para konseptornya. Kita rindu orang seperti Habibie yang dipuja dan diidolakan anak-anak, remaja dan orang tua karena kecerdasan, kecermelangan, kejujuran dan kereligiusannya…………..

PENDIDIKAN DAN KEJUJURAN

Suatu ketika saya pernah berseloroh kepada seorang kepala sekolah begini “kelompok orang yang pertama masuk neraka adalah para penegak hukum korup (Hakim, Jaksa, Polisi, Pengacara), diurutan berikutnya adalah para kepala sekolah korup sedangkan diurutan terakhir adalah guru-guru sertifikasi yang tidak layak dan datanya berbohong”. Lho kok kepala sekolah?. Ya, banyak kepala sekolah menanamkan ketidakjujuran pada anak didik, banyak kepala sekolah yang pintar bikin kuitansi palsu untuk ngakali dana BOS, ngembat uang sekolah dan menjadikan sebagai uang pribadinya, ngakali proyek bangunan, memberi upeti (bahasanya KPK : Gratifikasi) pada pejabat diatasnya karena diberi proyek kelas baru, laboratorium, ruang multi media, perpustakaan dll.
Setiap orang percaya dan menyukai jika orang lain jujur, persoalannya menjadi lain jika kita diminta berbuat jujur. Padahal, Seorang pejabat yang jujur sangat dikagumi rakyat. Seorang polisi yang jujur akan dihormati tetangganya. Seorang kepala sekolah yang jujur akan disegani oleh guru-gurunya.
Kejujuran menjadi kata kata indah dalam setiap pidato para politisi, nasehat guru kepada siswa, atau menjadi bait-bait sajak kerinduan saja. Padahal kejujuran adalah tindakan, bukan ucapan atau sekedar kata-kata. Kejujuran diuji ketika anda mengikuti ujian nasional, ketika anda dipercaya orang lain mengelola keuangan atau kepemimpinan.
Mahalnya kejujuran sangat terasa ketika Ujian Nasional. Tengoklah peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Ujian Nasional SMA yang hari ini akan berakhir. Banyak upaya-upaya jahat dan tidak jujur dengan melalui jual beli soal dan jawaban. Itu yang parah. Yang paling dimaklumi adalah membiarkan anak-anak bertukar jawaban, memberi fasilitas kepada siswa untuk memungkinkan saling contek jawaban, mengacak nominasi peserta ujian nasional agar dalam satu ruangan terdiri dari anak-anak yang pandai dan bodoh, tentunya kita tahu maksud acakan itu. Mengatur tempat duduk sedemikian rupa sehingga memudahkan anak. Dan seterusnya. Seorang pengawas ujian nasional yang bekerja sesuai kaidah pasti akan dibenci siswa dan juga dibenci oleh sekolah tersebut. Peristiwa tahun lalu di Jawa timur, dimana ada seorang guru yang menegur anak mencontek malah hendak dikeroyok oleh siswa.
Potret pendidikan yang demikian jelas tidak menguntungkan bagi masa depan bangsa kita. Apa jadinya generasi ini jika perilaku itu terus menerus dipertahankan dan menjadi budaya disekolah-sekolah ?.
Banyak persoalan bangsa kita tidak terselesaikan karena krisis kejujuran. Peringkat kita didunia sebagai negara yang terkorup meski menurun tetapi tidak terlalu signifikan dengan besaran biaya yang dikeluarkan untuk memberantas korupsi dan rentangan waktu yang digunakan untuk memberantas korupsi selama 12 tahun ini. Pemberantasan korupsi yang merupakan agenda mendasar era reformasi sejak tahun 1998 sampai sekarang berjalan tertatih tatih.
Maka untuk memutus mata rantai korupsi yang sangat akut dinegara kita adalah dengan melahirkan generasi-generasi baru yang lebih jujur dan amanah. Kita tidak bisa lagi berharap pada generasi sekarang, generasi saya, atau generasi diatas saya. Barangkali sudah terlalu banyak orang pintar dinegeri kita. Bahkan pada tataran akademik, siswa-siswa SMA kita adalah salah satu terbaik didunia. Buktinya setiap olimpiade mata pelajaran, Matematika, IPA, kita langganan juara dan mampu mengalahkan negara-negara yang lebih maju pendidikannya seperti amerika serikat, India, Eropa, Australia dll. Sayangnya, pemimpin yang jujur adalah sesuatu yang langka.
Memutus mata rantai korupsi itu tentu dimulai dari pendidikan yang lebih menghargai kejujuran ketimbang sekedar berlomba-lomba mengejar nilai akademik. Seorang guru yang baik akan memberi apreasiasi yang kuat terhadap siswa yang bekerja sendiri meski nilainya tidak terlalu bagus ketimbang siswa yang nilainya bagus tetapi hasil kecurangan. Tapi pendidikan yang selalu berorientasi hanya pada prestasi akademik akan berbenturan dengan kenyataan bahwa tidak semua anak mampu berkompetisi menuju puncak piramida belajar. Tanpa menjadikan kejujuran sebagai ikon sekolah, sulit rasanya kita meyakini kalau prestasi yang diperoleh anak adalah hasil karyanya sendiri, hasil sebuah kejujuran...

CITRA POLRI KITA SEPERTI MANTAN PACAR; DICINTAI SEKALIGUS DIMAKI

Percayalah polisi itu seperti mantan pacar kita. Dibenci sekaligus dirindukan. Dipuji sekaligus dihujat. Dicintai sekaligus dimaki. Polisi itu hebat di urusan kriminal dan terorisme tapi lemah diurusan duit. Hebat, karena dalam kasus kasus yang paling ekstrem seperti kasus pembunuhan mutilasi dan pembunuhan berantai, Polisi sanggup mengungkap sampai detail seperti kasus Babe dan banyak kasus lainnya. Apalagi urusan terorisme, Densus 88, yang sampai hari ini merupakan divisi yang paling bersih dan berwibawa ditubuh POLRI, kehebatan dan sikap heroik mereka tak diragukan lagi (banyak murid-murid saya mengidolakan menjadi anggota Densus 88). Bahkan urusan kriminal dunia maya, sekarang jangan coba-coba, polisi sudah tidak gaptek lagi.

Gambar dikutip dari : Metro TV, 22 Maret 2010


Tapi kalau urusan duit lain lagi ceritanya. Polisi dijalan raya yang membuat wajah polri sampai saat ini sulit dibersihkan dari pandangan negatif masyarakat. Kasus Susno Duaji melawan jenderal-jenderal ditubuh Polri menunjukkan bahwa urusan duit selalu menimbulkan masalah-masalah didalam tubuh Polri.
Belum habis ingatan kita tentang Susno di DPR yang menangis dan bersumpah segala bahwa ia tidak menerima uang sepersen pun dari Pengusaha Budi Sampoerna. Sekarang justru Susno menuduh rekan-rekan sesama jenderal sebagai makelar kasus yang ujung-ujungnya tetap urusan duit. Siapa yang benar ? hanya Susno dan Para Jenderal Polisi itu sendiri yang tahu. Tapi dari kasus itu menunjukkan ada yang tidak beres ditubuh POLRI.

POLRI ORGANISASI YANG PALING GEMUK
Barangkali lembaga pemerintah yang paling gemuk adalah POLRI. Ini karena besarnya tugas dan tanggung jawab yang harus diemban. Dari urusan nangkap maling, pembunuhan, urusan kendaraan bermotor, ngurusi SIM, urusan pengawalan dan pengamanan ujian nasional, mengendalikan fanatisme suporter sepakbola, terorisme, perlawanan sparatisme, mendamaikan masyarakat yang bertikai, demonstran yang sering anarkis sampai memburu koruptor.
Beban pekerjaan yang begitu besar membuat seorang pimpinan sekelas Kapolri sekarang justru kesulitan mengendalikan perilaku anak buahnya yang sering berseberangan dan saling menyerang satu sama lain. Tidak ada sebuah organisasi pemerintah yang begitu terbuka dan saling serang antar pimpinan selain POLRI. Berseberangan dalam sebuah organisasi adalah hal wajar. Sangat menjadi tidak wajar ketika masalah itu mencuat dan menjadi konsumsi publik. Akibatnya mereka saling membela diri. Sehingga yang terbaca dimasyarakat adalah bau busuk yang menyengat itu diperebutkan oleh orang-orang yang sebesarnya sama busuknya.
Berangkat dari ketika polisi dipisahkan dari induknya yaitu ABRI diera reformasi

Gambar dikutip dari TV One, 22 Maret 2010

Sementara, TNI kita dikandangkan dan dimasukkan ke barak tanpa banyak kewenangan lagi selain antisipasi keamanan dari ancaman negara luar. Tugas tugas TNI dibidang lain diera Orde Baru telah diambil alih oleh Polisi seperti urusan sparatisme dan terorisme. Polisi dengan organisasi yang masih muda harus berdiri sendiri, akan selalu mendapat hempasan cobaan baik dari dalam tubuh polri maupun dari luar.
Citra polisi dihitung hari. Hari ini polisi disanjung dan dihormati karena prestasinya besuk dihujat dan dimaki karena urusan intern ditubuhnya. Hari itu Kapolri tersenyum bangga karena keberhasilannya menangkap terorisme besuknya menghiba di DPR karena citra POLRI berada dititik nadir seperti kasus “cicak lawan buaya”. Baru kemarin, rakyat membanggakan polisi karena mampu membunuh Dulmatin cs hari ini para jenderal bertengkar dan dicibirkan rakyat.
Hal ini diperparah dengan kecenderungan polri kita yang selalu defensif ketika menghadapi persoalan intern. Jarang sekali terungkap akar persoalan yang menyebabkan tubuh polri oleng dan terkadang hampir rubuh. Maka jika polisi ingin memperbaiki citranya, yang harus dilakukan adalah setiap persoalan sekecil apapun ditubuh organisasinya harus dicari akar permasalahan tanpa perlu banyak defensif dan mencari-cari alasan membela diri. Tidak ada bau busuk menyengat kalau tidak ada bangkainya. Maka yang harus dicari adalah bangkainya juga, jangan hanya mencari siapa yang membuang bangkai itu saja.

UJIAN NASIONAL OH UJIAN NASIONAL.....

Ketika anda menjadi guru di kelas 9 SMP atau kelas 12 SMA, maka anda bukan lagi seorang guru, anda hanyalah tukang mengajar. Sebagai seorang tukang, tugas anda hanyalah menyelesaikan bangunan materi pelajaran, tugas menilai apakah pekerjaan yang anda lakukan itu berhasil atau tidak itu tergantung mandornya yaitu pemerintah. Sebagian besar kewenangan anda telah dirampas oleh negara. Kewenangan menilai, kewenangan menentukan kelulusan siswa dan kewenangan menilai kepribadian siswa.
Melalui Ujian Nasional, kewenangan itu telah menjadi milik negara. Kita tidak lagi memiliki hak apapun terhadap kewenangan penilaian. Tentu saja penilaian model begini masih perlu diperdebatkan. Pertama, karena asumsi dasar yang dipakai pemerintah untuk menjalankan kurikulum 2006 adalah penilaian berbasis kelas. Sebuah sistem penilaian pendidikan yang tidak memperbolehkan penggunaan hukum distribusi kurve normal untuk mengukur keberhasilan belajar apalagi membandingkan anak dalam satu kelas sebab setiap anak adalah unik dan memiliki kecepatan belajar yang berbeda-beda. Alih-alih menggunakan hukum kurve normal, penilaian didasarkan pada kemampuan dan kecepatan masing masing siswa menyelesaikan suatu materi pelajaran.
Hukum kurve normal adalah hukum dimana setiap penilaian yang benar adalah penilaian yang mendekati bentuk gunung (baca : distribusi normal) dimana ada minimal tiga sisi yang harus ada. Sisi satu berisi anak-anak bodoh, rendah dan sampah sisi ekstremnya adalah anak-anak cerdas dan sisi tengahnya adalah anak-anak normal. Pengelompokan ini mampu mendistribusikan anak kedalam 2 katagori, lulus dan tidak lulus. Konstruksi soal ujian akan dianggap valid jika selalu ada anak yang tidak lulus dalam setiap ujian, ada anak yang lulus dan ada anak yang mencapai nilai tertinggi (nilai sempurna). Pembandingnya bisa satu kabupaten, satu propinsi atau satu pulau, satu negara sesuai dengan persyaratan-persyaratan ilmu psikometri. Inilah aplikasi hukum kurve normal yang dipakai dalam Ujian Nasional selama ini.
Kedua, Ujian Nasional telah bergeser fungsi dari sekedar alat ukur keberhasilan belajar siswa, menjadi satu-satunya alat penentu kelulusan siswa, alat ukur keberhasilan pendidikan suatu daerah, alat ukur kinerja guru dan kepala sekolah. Meskipun validitas dan reliabilitas alat ukurnya (baca; soal ujian nasional) masih mengundang banyak tanya. Toh, setiap daerah yang memiliki kelulusan rendah akan dianggap sebagai daerah yang pendidikannya tidak maju, rendah dan kurang berkualitas. Sedangkan daerah yang memiliki kelulusan tinggi dianggap sebagai daerah yang tingkat pendidikannya bagus, berkualitas dan maju.
Makanya tidak heran, jika dibulan-bulan seperti ini, mulai Gubernur, Bupati sampai walikota sibuk bergandengan tangan dengan kepala dinas pendidikannya untuk membujuk bahkan kalau perlu memaksa sekolah-sekolah mencapai kelulusan 100%. Kejadian tahun kemarin di kabupaten di Jawa Timur dimana ada kepala sekolah sampai tega mencuri naskah soal ujian nasional merupakan bentuk keterpaksaan karena hebatnya tekanan yang dialami oleh mereka (sebuah kontradiksi dari naluri dasar seorang pendidik yang mengutamakan kejujuran dan usaha yang rasional). Gengsi daerah ditentukan oleh kelulusan ujian nasionalnya. Tentu saja ini sudah keterlaluan. Pendidikan telah disederhanakan hanya pada tataran nilai yang dicapai dalam ujian nasional.
Ketiga, dampak psikologis ujian nasional sedemikian hebatnya, sehingga mulai orang tua, siswa, guru, kepala sekolah, kepala dinas, Bupati, walikota, gubernur dan seterusnya, mampu melahirkan kecemasan luar biasa terhadap apakah akan berhasil atau tidak dalam ujian nasional nanti. Setiap sekolah selalu menghabiskan energi, biaya yang besar, untuk mensukseskan ujian nasional. Mulai melaksanakan pelajaran tambahan untuk Ujian Nasional jauh-jauh hari, melaksanakan istighosah, doa bersama, bagi sekolah mapan; mendatangkan tokoh-tokoh motivator untuk membangkitkan semangat belajar anak. Sampai pada tindakan yang irasional dan bertentangan dengan dunia pendidikan seperti ada yang mencari dukun, atau kyai memberi jampi-jampi pada anak didiknya agar lulus semuanya.
Sementara pelajaran yang bukan diujikan secara nasional, tidak dipikirkan, dianggap angin lalu, asal jalan okelah kalau begitu.... Tidak ada hingar bingar seperti pelajaran ujian nasional.

Kelulusan siswa adalah sebuah proses penilaian yang panjang
Kelulusan siswa dalam sebuah mata pelajaran adalah melalui proses penilaian panjang dan beragam bentuknya. Dalam kurikulum 2006 ada banyak model-model penilaian yang dipakai ; penilaian unjuk kerja, penilaian proyek, penilaian tes tulis, portofolio, penilaian diri dsb. Model-model penilaian ini diakumulasikan oleh guru, diramu diolah dan dijadikan dasar untuk menentukan kelulusan siswa dalam semester itu. Proses yang panjang itu memberikan kesempatan pada peserta didik untuk terus menerus mengulang-ulang materi yang belum tuntas agar dapat dinyatakan lulus. Model penilaian ini dipakai pada siswa kelas 7,8 di SMP atau 10,11 di SMA. Pada akhir tahun pelajaran, maka hasil penilaian akademik dan non akademik (penilaian sikap dan kepribadian) akan dijadikan dasar menentukan kenaikan kelas. Ada siswa naik kelas dan ada yang harus tertinggal jika tidak sesuai kriteria kenaikan kelas. Adalah hal yang wajar................(maaf tulisannya disambung nanti.......)

E-MAIL SAMPAH, E-MAIL SAMPAH YAHOO....

“Your e-mail has won you the Microsoft e-mail lottery……”. Lainnya “My name Santos Palocci, the son of Mr. Antonio Palocci, minister of finance Brazil….bla….bla…I will like you to assist me to invest the money in your country. The amount my father money is US$ 4.4 million (Kalau uang 4.4 juta rupiah sih hanya cukup beli laptop. Tapi kalau 4.4 juta dolar amerika ?, bisa-bisa buat beli pulau)…..

Salah satu kutipan e-mail spam yang lebih lengkap adalah sebagai berikut :

NEED YOUR URGENT ASSISTANCE!!!
Dear Friend,

How Are You? I Know That This Mail May Come To You Almost A Surprise As We Never Met Before, Well I Saw Your Contact Email From Burkina Faso Chambers Of Commerce, After Much Consideration I Decided To Write You Since I Cannot Be Able To See You Face To Face, At First I Strongly Believed That Any Information Received From The Chambers Of Commerce Office Is Correct And Trusted. But Never Mind, I Am From (Burkina Faso West Africa) Mr. Maswell Dagani By Name, An Auditing Debt Manager In Our Bank Here (Bank Of Africa), I Have An Opportunity To The Sum Of Ten Millions, Five Hundred Thousand United States Dollars (US$10.500, 000.00), To Transfer Into Your Nominated Bank Account (The Owner Of The Money) Is An. IRAQ. Who Died A Long With His Entire Family During The Iraq War, Upon Your Reply And Interest To Receive This Fund On My Behalf; I Will Kindly Send You More Details On The Execution Of This Transaction Will Commence Or Delete It Off If You Are Not Interested.
You May View The Website:
http://www.cnn.com/2006/WORLD/meast/10/11/iraq.deaths/
If You Accept This Offer To Work With Me, And You Find This Proposal Suitable For You Do Furnish Me With The Following Information.

Your Full Name...................
Your Country................
Your Private Telephone...............
Your Age and Sex....................

I Will Appreciate It Very Much, If This Proposal Is Acceptable By You, Do Not Make Undue
Advantage Of The Trust I Have Bestowed On You, And I Assure You We Can Achieve It Successfully.

Reply me through this email maswelldagani@sify.com

This Is My Private Phone Number 00226 78 49 50 05.You Can Call Me For More Explanation.

Mr. Maswell Dagani
Foreign Remittance Manager (Bank Of Africa).B.O.A


Saya menerima banyak sekali e-mail spam yang seringkali sangat mengganggu. Bahkan jejaring social baru http://www.eyari.com/ dari India mencari anggota baru, masuk melalui pintu spam. Begitu rapuhnya pertahanan Yahoo (@yahoo.co.id) sehingga ribuan e-mail yang tidak memiliki keterikatan dan kepentingan dengan saya mengalir deras ke account saya.
Dari e-mail sampah itu dapat saya katagorikan :
a. kebanyakan menawarkan sejumlah uang yang sangat besar dan tidak rasional. Dengan cara mentransfer uang tersebut ke Bank Account saya dan akan mendapat imbalan kisaran 20 – 40 % dari total jumlah uang yang mau ditransfer (bayangkan berapa besar komisi saya jika yang ditransfer antara US$ 4 million sampai 15 million). E-mail itu mulai dari Nigeria dan Negara-negara afrika lainnya, Inggris, Australia, Irak, Afganistan, Belanda, Swiss, Swedia, Brazil dll. Alasan yang dipakai untuk mentransfer jumlah uang diantaranya :
1. Sakit yang tak kunjung sembuh dan vonis dokter akan meninggal dunia dalam waktu dekat sehingga ingin menyumbangkan uangnya kelembaga social di Indonesia
2. Ingin menginvestasikan uangnya dalam bisnis property, asuransi, kesehatan dan untuk pendidikan anaknya
3. Krisis politik dinegaranya sehingga tidak memungkinkan untuk pergi keluar negeri
Anak atau keluarga dari pejabat sebuah Negara yang meninggalkan uang besar dan ingin ditransfer kenegara lain karena krisis politik, kecelakaan atau terbunuh dalam sebuah kudeta dinegara tersebut.
4. manager bank yang mengetahui dana besar dari pemilik yang meninggal dunia dan tidak memiliki ahli waris
5. Mantan tentara Amerika yang bertugas di Irak dan afganistan memperoleh keuntungan dari ketidakstabilan politik dinegara tersebut.
Menenangkan berbagai lotere e-mail di sejumlah Negara seperti Australia, Belanda, swiss, Inggris yang dilakukan oleh berbagai pihak



b. Menawarkan berbagai kegiatan konferensi tingkat dunia di Negara maju seperti US



Yang membuat saya heran adalah, meski tak pernah saya respon e-mail itu terus mengalir sejak tahun 2008 hingga hari ini. Dari semua orang yang mengirim e-mail itu tak satupun saya kenal sama sekali. Karena tidak logis maka tidak pernah saya respon.