PENDIDIKAN DAN KEJUJURAN

Suatu ketika saya pernah berseloroh kepada seorang kepala sekolah begini “kelompok orang yang pertama masuk neraka adalah para penegak hukum korup (Hakim, Jaksa, Polisi, Pengacara), diurutan berikutnya adalah para kepala sekolah korup sedangkan diurutan terakhir adalah guru-guru sertifikasi yang tidak layak dan datanya berbohong”. Lho kok kepala sekolah?. Ya, banyak kepala sekolah menanamkan ketidakjujuran pada anak didik, banyak kepala sekolah yang pintar bikin kuitansi palsu untuk ngakali dana BOS, ngembat uang sekolah dan menjadikan sebagai uang pribadinya, ngakali proyek bangunan, memberi upeti (bahasanya KPK : Gratifikasi) pada pejabat diatasnya karena diberi proyek kelas baru, laboratorium, ruang multi media, perpustakaan dll.
Setiap orang percaya dan menyukai jika orang lain jujur, persoalannya menjadi lain jika kita diminta berbuat jujur. Padahal, Seorang pejabat yang jujur sangat dikagumi rakyat. Seorang polisi yang jujur akan dihormati tetangganya. Seorang kepala sekolah yang jujur akan disegani oleh guru-gurunya.
Kejujuran menjadi kata kata indah dalam setiap pidato para politisi, nasehat guru kepada siswa, atau menjadi bait-bait sajak kerinduan saja. Padahal kejujuran adalah tindakan, bukan ucapan atau sekedar kata-kata. Kejujuran diuji ketika anda mengikuti ujian nasional, ketika anda dipercaya orang lain mengelola keuangan atau kepemimpinan.
Mahalnya kejujuran sangat terasa ketika Ujian Nasional. Tengoklah peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Ujian Nasional SMA yang hari ini akan berakhir. Banyak upaya-upaya jahat dan tidak jujur dengan melalui jual beli soal dan jawaban. Itu yang parah. Yang paling dimaklumi adalah membiarkan anak-anak bertukar jawaban, memberi fasilitas kepada siswa untuk memungkinkan saling contek jawaban, mengacak nominasi peserta ujian nasional agar dalam satu ruangan terdiri dari anak-anak yang pandai dan bodoh, tentunya kita tahu maksud acakan itu. Mengatur tempat duduk sedemikian rupa sehingga memudahkan anak. Dan seterusnya. Seorang pengawas ujian nasional yang bekerja sesuai kaidah pasti akan dibenci siswa dan juga dibenci oleh sekolah tersebut. Peristiwa tahun lalu di Jawa timur, dimana ada seorang guru yang menegur anak mencontek malah hendak dikeroyok oleh siswa.
Potret pendidikan yang demikian jelas tidak menguntungkan bagi masa depan bangsa kita. Apa jadinya generasi ini jika perilaku itu terus menerus dipertahankan dan menjadi budaya disekolah-sekolah ?.
Banyak persoalan bangsa kita tidak terselesaikan karena krisis kejujuran. Peringkat kita didunia sebagai negara yang terkorup meski menurun tetapi tidak terlalu signifikan dengan besaran biaya yang dikeluarkan untuk memberantas korupsi dan rentangan waktu yang digunakan untuk memberantas korupsi selama 12 tahun ini. Pemberantasan korupsi yang merupakan agenda mendasar era reformasi sejak tahun 1998 sampai sekarang berjalan tertatih tatih.
Maka untuk memutus mata rantai korupsi yang sangat akut dinegara kita adalah dengan melahirkan generasi-generasi baru yang lebih jujur dan amanah. Kita tidak bisa lagi berharap pada generasi sekarang, generasi saya, atau generasi diatas saya. Barangkali sudah terlalu banyak orang pintar dinegeri kita. Bahkan pada tataran akademik, siswa-siswa SMA kita adalah salah satu terbaik didunia. Buktinya setiap olimpiade mata pelajaran, Matematika, IPA, kita langganan juara dan mampu mengalahkan negara-negara yang lebih maju pendidikannya seperti amerika serikat, India, Eropa, Australia dll. Sayangnya, pemimpin yang jujur adalah sesuatu yang langka.
Memutus mata rantai korupsi itu tentu dimulai dari pendidikan yang lebih menghargai kejujuran ketimbang sekedar berlomba-lomba mengejar nilai akademik. Seorang guru yang baik akan memberi apreasiasi yang kuat terhadap siswa yang bekerja sendiri meski nilainya tidak terlalu bagus ketimbang siswa yang nilainya bagus tetapi hasil kecurangan. Tapi pendidikan yang selalu berorientasi hanya pada prestasi akademik akan berbenturan dengan kenyataan bahwa tidak semua anak mampu berkompetisi menuju puncak piramida belajar. Tanpa menjadikan kejujuran sebagai ikon sekolah, sulit rasanya kita meyakini kalau prestasi yang diperoleh anak adalah hasil karyanya sendiri, hasil sebuah kejujuran...

CITRA POLRI KITA SEPERTI MANTAN PACAR; DICINTAI SEKALIGUS DIMAKI

Percayalah polisi itu seperti mantan pacar kita. Dibenci sekaligus dirindukan. Dipuji sekaligus dihujat. Dicintai sekaligus dimaki. Polisi itu hebat di urusan kriminal dan terorisme tapi lemah diurusan duit. Hebat, karena dalam kasus kasus yang paling ekstrem seperti kasus pembunuhan mutilasi dan pembunuhan berantai, Polisi sanggup mengungkap sampai detail seperti kasus Babe dan banyak kasus lainnya. Apalagi urusan terorisme, Densus 88, yang sampai hari ini merupakan divisi yang paling bersih dan berwibawa ditubuh POLRI, kehebatan dan sikap heroik mereka tak diragukan lagi (banyak murid-murid saya mengidolakan menjadi anggota Densus 88). Bahkan urusan kriminal dunia maya, sekarang jangan coba-coba, polisi sudah tidak gaptek lagi.

Gambar dikutip dari : Metro TV, 22 Maret 2010


Tapi kalau urusan duit lain lagi ceritanya. Polisi dijalan raya yang membuat wajah polri sampai saat ini sulit dibersihkan dari pandangan negatif masyarakat. Kasus Susno Duaji melawan jenderal-jenderal ditubuh Polri menunjukkan bahwa urusan duit selalu menimbulkan masalah-masalah didalam tubuh Polri.
Belum habis ingatan kita tentang Susno di DPR yang menangis dan bersumpah segala bahwa ia tidak menerima uang sepersen pun dari Pengusaha Budi Sampoerna. Sekarang justru Susno menuduh rekan-rekan sesama jenderal sebagai makelar kasus yang ujung-ujungnya tetap urusan duit. Siapa yang benar ? hanya Susno dan Para Jenderal Polisi itu sendiri yang tahu. Tapi dari kasus itu menunjukkan ada yang tidak beres ditubuh POLRI.

POLRI ORGANISASI YANG PALING GEMUK
Barangkali lembaga pemerintah yang paling gemuk adalah POLRI. Ini karena besarnya tugas dan tanggung jawab yang harus diemban. Dari urusan nangkap maling, pembunuhan, urusan kendaraan bermotor, ngurusi SIM, urusan pengawalan dan pengamanan ujian nasional, mengendalikan fanatisme suporter sepakbola, terorisme, perlawanan sparatisme, mendamaikan masyarakat yang bertikai, demonstran yang sering anarkis sampai memburu koruptor.
Beban pekerjaan yang begitu besar membuat seorang pimpinan sekelas Kapolri sekarang justru kesulitan mengendalikan perilaku anak buahnya yang sering berseberangan dan saling menyerang satu sama lain. Tidak ada sebuah organisasi pemerintah yang begitu terbuka dan saling serang antar pimpinan selain POLRI. Berseberangan dalam sebuah organisasi adalah hal wajar. Sangat menjadi tidak wajar ketika masalah itu mencuat dan menjadi konsumsi publik. Akibatnya mereka saling membela diri. Sehingga yang terbaca dimasyarakat adalah bau busuk yang menyengat itu diperebutkan oleh orang-orang yang sebesarnya sama busuknya.
Berangkat dari ketika polisi dipisahkan dari induknya yaitu ABRI diera reformasi

Gambar dikutip dari TV One, 22 Maret 2010

Sementara, TNI kita dikandangkan dan dimasukkan ke barak tanpa banyak kewenangan lagi selain antisipasi keamanan dari ancaman negara luar. Tugas tugas TNI dibidang lain diera Orde Baru telah diambil alih oleh Polisi seperti urusan sparatisme dan terorisme. Polisi dengan organisasi yang masih muda harus berdiri sendiri, akan selalu mendapat hempasan cobaan baik dari dalam tubuh polri maupun dari luar.
Citra polisi dihitung hari. Hari ini polisi disanjung dan dihormati karena prestasinya besuk dihujat dan dimaki karena urusan intern ditubuhnya. Hari itu Kapolri tersenyum bangga karena keberhasilannya menangkap terorisme besuknya menghiba di DPR karena citra POLRI berada dititik nadir seperti kasus “cicak lawan buaya”. Baru kemarin, rakyat membanggakan polisi karena mampu membunuh Dulmatin cs hari ini para jenderal bertengkar dan dicibirkan rakyat.
Hal ini diperparah dengan kecenderungan polri kita yang selalu defensif ketika menghadapi persoalan intern. Jarang sekali terungkap akar persoalan yang menyebabkan tubuh polri oleng dan terkadang hampir rubuh. Maka jika polisi ingin memperbaiki citranya, yang harus dilakukan adalah setiap persoalan sekecil apapun ditubuh organisasinya harus dicari akar permasalahan tanpa perlu banyak defensif dan mencari-cari alasan membela diri. Tidak ada bau busuk menyengat kalau tidak ada bangkainya. Maka yang harus dicari adalah bangkainya juga, jangan hanya mencari siapa yang membuang bangkai itu saja.

UJIAN NASIONAL OH UJIAN NASIONAL.....

Ketika anda menjadi guru di kelas 9 SMP atau kelas 12 SMA, maka anda bukan lagi seorang guru, anda hanyalah tukang mengajar. Sebagai seorang tukang, tugas anda hanyalah menyelesaikan bangunan materi pelajaran, tugas menilai apakah pekerjaan yang anda lakukan itu berhasil atau tidak itu tergantung mandornya yaitu pemerintah. Sebagian besar kewenangan anda telah dirampas oleh negara. Kewenangan menilai, kewenangan menentukan kelulusan siswa dan kewenangan menilai kepribadian siswa.
Melalui Ujian Nasional, kewenangan itu telah menjadi milik negara. Kita tidak lagi memiliki hak apapun terhadap kewenangan penilaian. Tentu saja penilaian model begini masih perlu diperdebatkan. Pertama, karena asumsi dasar yang dipakai pemerintah untuk menjalankan kurikulum 2006 adalah penilaian berbasis kelas. Sebuah sistem penilaian pendidikan yang tidak memperbolehkan penggunaan hukum distribusi kurve normal untuk mengukur keberhasilan belajar apalagi membandingkan anak dalam satu kelas sebab setiap anak adalah unik dan memiliki kecepatan belajar yang berbeda-beda. Alih-alih menggunakan hukum kurve normal, penilaian didasarkan pada kemampuan dan kecepatan masing masing siswa menyelesaikan suatu materi pelajaran.
Hukum kurve normal adalah hukum dimana setiap penilaian yang benar adalah penilaian yang mendekati bentuk gunung (baca : distribusi normal) dimana ada minimal tiga sisi yang harus ada. Sisi satu berisi anak-anak bodoh, rendah dan sampah sisi ekstremnya adalah anak-anak cerdas dan sisi tengahnya adalah anak-anak normal. Pengelompokan ini mampu mendistribusikan anak kedalam 2 katagori, lulus dan tidak lulus. Konstruksi soal ujian akan dianggap valid jika selalu ada anak yang tidak lulus dalam setiap ujian, ada anak yang lulus dan ada anak yang mencapai nilai tertinggi (nilai sempurna). Pembandingnya bisa satu kabupaten, satu propinsi atau satu pulau, satu negara sesuai dengan persyaratan-persyaratan ilmu psikometri. Inilah aplikasi hukum kurve normal yang dipakai dalam Ujian Nasional selama ini.
Kedua, Ujian Nasional telah bergeser fungsi dari sekedar alat ukur keberhasilan belajar siswa, menjadi satu-satunya alat penentu kelulusan siswa, alat ukur keberhasilan pendidikan suatu daerah, alat ukur kinerja guru dan kepala sekolah. Meskipun validitas dan reliabilitas alat ukurnya (baca; soal ujian nasional) masih mengundang banyak tanya. Toh, setiap daerah yang memiliki kelulusan rendah akan dianggap sebagai daerah yang pendidikannya tidak maju, rendah dan kurang berkualitas. Sedangkan daerah yang memiliki kelulusan tinggi dianggap sebagai daerah yang tingkat pendidikannya bagus, berkualitas dan maju.
Makanya tidak heran, jika dibulan-bulan seperti ini, mulai Gubernur, Bupati sampai walikota sibuk bergandengan tangan dengan kepala dinas pendidikannya untuk membujuk bahkan kalau perlu memaksa sekolah-sekolah mencapai kelulusan 100%. Kejadian tahun kemarin di kabupaten di Jawa Timur dimana ada kepala sekolah sampai tega mencuri naskah soal ujian nasional merupakan bentuk keterpaksaan karena hebatnya tekanan yang dialami oleh mereka (sebuah kontradiksi dari naluri dasar seorang pendidik yang mengutamakan kejujuran dan usaha yang rasional). Gengsi daerah ditentukan oleh kelulusan ujian nasionalnya. Tentu saja ini sudah keterlaluan. Pendidikan telah disederhanakan hanya pada tataran nilai yang dicapai dalam ujian nasional.
Ketiga, dampak psikologis ujian nasional sedemikian hebatnya, sehingga mulai orang tua, siswa, guru, kepala sekolah, kepala dinas, Bupati, walikota, gubernur dan seterusnya, mampu melahirkan kecemasan luar biasa terhadap apakah akan berhasil atau tidak dalam ujian nasional nanti. Setiap sekolah selalu menghabiskan energi, biaya yang besar, untuk mensukseskan ujian nasional. Mulai melaksanakan pelajaran tambahan untuk Ujian Nasional jauh-jauh hari, melaksanakan istighosah, doa bersama, bagi sekolah mapan; mendatangkan tokoh-tokoh motivator untuk membangkitkan semangat belajar anak. Sampai pada tindakan yang irasional dan bertentangan dengan dunia pendidikan seperti ada yang mencari dukun, atau kyai memberi jampi-jampi pada anak didiknya agar lulus semuanya.
Sementara pelajaran yang bukan diujikan secara nasional, tidak dipikirkan, dianggap angin lalu, asal jalan okelah kalau begitu.... Tidak ada hingar bingar seperti pelajaran ujian nasional.

Kelulusan siswa adalah sebuah proses penilaian yang panjang
Kelulusan siswa dalam sebuah mata pelajaran adalah melalui proses penilaian panjang dan beragam bentuknya. Dalam kurikulum 2006 ada banyak model-model penilaian yang dipakai ; penilaian unjuk kerja, penilaian proyek, penilaian tes tulis, portofolio, penilaian diri dsb. Model-model penilaian ini diakumulasikan oleh guru, diramu diolah dan dijadikan dasar untuk menentukan kelulusan siswa dalam semester itu. Proses yang panjang itu memberikan kesempatan pada peserta didik untuk terus menerus mengulang-ulang materi yang belum tuntas agar dapat dinyatakan lulus. Model penilaian ini dipakai pada siswa kelas 7,8 di SMP atau 10,11 di SMA. Pada akhir tahun pelajaran, maka hasil penilaian akademik dan non akademik (penilaian sikap dan kepribadian) akan dijadikan dasar menentukan kenaikan kelas. Ada siswa naik kelas dan ada yang harus tertinggal jika tidak sesuai kriteria kenaikan kelas. Adalah hal yang wajar................(maaf tulisannya disambung nanti.......)

E-MAIL SAMPAH, E-MAIL SAMPAH YAHOO....

“Your e-mail has won you the Microsoft e-mail lottery……”. Lainnya “My name Santos Palocci, the son of Mr. Antonio Palocci, minister of finance Brazil….bla….bla…I will like you to assist me to invest the money in your country. The amount my father money is US$ 4.4 million (Kalau uang 4.4 juta rupiah sih hanya cukup beli laptop. Tapi kalau 4.4 juta dolar amerika ?, bisa-bisa buat beli pulau)…..

Salah satu kutipan e-mail spam yang lebih lengkap adalah sebagai berikut :

NEED YOUR URGENT ASSISTANCE!!!
Dear Friend,

How Are You? I Know That This Mail May Come To You Almost A Surprise As We Never Met Before, Well I Saw Your Contact Email From Burkina Faso Chambers Of Commerce, After Much Consideration I Decided To Write You Since I Cannot Be Able To See You Face To Face, At First I Strongly Believed That Any Information Received From The Chambers Of Commerce Office Is Correct And Trusted. But Never Mind, I Am From (Burkina Faso West Africa) Mr. Maswell Dagani By Name, An Auditing Debt Manager In Our Bank Here (Bank Of Africa), I Have An Opportunity To The Sum Of Ten Millions, Five Hundred Thousand United States Dollars (US$10.500, 000.00), To Transfer Into Your Nominated Bank Account (The Owner Of The Money) Is An. IRAQ. Who Died A Long With His Entire Family During The Iraq War, Upon Your Reply And Interest To Receive This Fund On My Behalf; I Will Kindly Send You More Details On The Execution Of This Transaction Will Commence Or Delete It Off If You Are Not Interested.
You May View The Website:
http://www.cnn.com/2006/WORLD/meast/10/11/iraq.deaths/
If You Accept This Offer To Work With Me, And You Find This Proposal Suitable For You Do Furnish Me With The Following Information.

Your Full Name...................
Your Country................
Your Private Telephone...............
Your Age and Sex....................

I Will Appreciate It Very Much, If This Proposal Is Acceptable By You, Do Not Make Undue
Advantage Of The Trust I Have Bestowed On You, And I Assure You We Can Achieve It Successfully.

Reply me through this email maswelldagani@sify.com

This Is My Private Phone Number 00226 78 49 50 05.You Can Call Me For More Explanation.

Mr. Maswell Dagani
Foreign Remittance Manager (Bank Of Africa).B.O.A


Saya menerima banyak sekali e-mail spam yang seringkali sangat mengganggu. Bahkan jejaring social baru http://www.eyari.com/ dari India mencari anggota baru, masuk melalui pintu spam. Begitu rapuhnya pertahanan Yahoo (@yahoo.co.id) sehingga ribuan e-mail yang tidak memiliki keterikatan dan kepentingan dengan saya mengalir deras ke account saya.
Dari e-mail sampah itu dapat saya katagorikan :
a. kebanyakan menawarkan sejumlah uang yang sangat besar dan tidak rasional. Dengan cara mentransfer uang tersebut ke Bank Account saya dan akan mendapat imbalan kisaran 20 – 40 % dari total jumlah uang yang mau ditransfer (bayangkan berapa besar komisi saya jika yang ditransfer antara US$ 4 million sampai 15 million). E-mail itu mulai dari Nigeria dan Negara-negara afrika lainnya, Inggris, Australia, Irak, Afganistan, Belanda, Swiss, Swedia, Brazil dll. Alasan yang dipakai untuk mentransfer jumlah uang diantaranya :
1. Sakit yang tak kunjung sembuh dan vonis dokter akan meninggal dunia dalam waktu dekat sehingga ingin menyumbangkan uangnya kelembaga social di Indonesia
2. Ingin menginvestasikan uangnya dalam bisnis property, asuransi, kesehatan dan untuk pendidikan anaknya
3. Krisis politik dinegaranya sehingga tidak memungkinkan untuk pergi keluar negeri
Anak atau keluarga dari pejabat sebuah Negara yang meninggalkan uang besar dan ingin ditransfer kenegara lain karena krisis politik, kecelakaan atau terbunuh dalam sebuah kudeta dinegara tersebut.
4. manager bank yang mengetahui dana besar dari pemilik yang meninggal dunia dan tidak memiliki ahli waris
5. Mantan tentara Amerika yang bertugas di Irak dan afganistan memperoleh keuntungan dari ketidakstabilan politik dinegara tersebut.
Menenangkan berbagai lotere e-mail di sejumlah Negara seperti Australia, Belanda, swiss, Inggris yang dilakukan oleh berbagai pihak



b. Menawarkan berbagai kegiatan konferensi tingkat dunia di Negara maju seperti US



Yang membuat saya heran adalah, meski tak pernah saya respon e-mail itu terus mengalir sejak tahun 2008 hingga hari ini. Dari semua orang yang mengirim e-mail itu tak satupun saya kenal sama sekali. Karena tidak logis maka tidak pernah saya respon.

MENDIKNAS BARU : BEBAN MUH. NUH DIDUNIA PENDIDIKAN



Selalu ada ungkapan yang sudah akrab didunia pendidikan ; “ganti menteri ganti kurikulum…!”. Apakah ini akan terjadi diera Muh. Nuh sebagai Menteri Pendidikan Nasional yang baru ?. Jawabannya tergantung dari apa yang akan dirancang oleh Muh. Nuh didunia pendidikan kita. Idealnya kurikulum pendidikan dijalankan selama 10 tahun. Kalau kurikulum 2004 yang kemudian disempurnakan menjadi kurikulum 2006 dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, maka baru ditahun 2014 kurikulum tersebut berganti.
Tapi saya kira, Muh Nuh sebagai orang yang memiliki pengalaman yang panjang didunia pendidikan tentu akan berpikir panjang implikasi dari penggantian atau revisi sebuah kurikulum. Justru menurut saya, beban utama Muh. Nuh selama lima tahun kedepan adalah reformasi birokrasi didunia pendidikan. Sebab diera kepemimpinan Bambang Sudibyo, reformasi birokrasi berjalan tertatih tatih, kalau tidak disebut jalan ditempat.
Harus diakui sejak Indonesia merdeka, baru diera kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dunia pendidikan menjadi primadona. Ini karena besarnya anggaran pendidikan yang mencapai angka 20 % dari APBN kita. Perjuangan panjang mengoal-kan anggaran 20 % APBN untuk dunia pendidikan berujung dikepemimpinan SBY. Dengan anggaran pendidikan yang besar tersebut, seharusnya dunia pendidikan mulai bergeliat menata dirinya.
Memang upaya kearah itu sedang dilakukan yaitu diantaranya program sertifikasi guru dan pemberian dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk SD dan SMP. Program sertifikasi guru memberikan jaminan kesejahteraan yang lebih layak bagi guru sebagai lokomotif dunia pendidikan. Sebab, pengalaman bertahun-tahun menunjukkan bahwa pergantian kurikulum seolah-olah berhenti dilaci meja guru tanpa disertai dengan kualitas guru yang profesional. Meningkatkan kesejahteraan guru akan menjadi awal babak baru dunia pendidikan kita yang akan dirasakan paling tidak sepuluh tahun kedepan.

KORUPSI DUNIA PENDIDIKAN MASIH AKUT

Persoalan yang paling serius didunia pendidikan saat ini adalah masih akutnya korupsi didunia pendidikan. Paling tidak 20 % dari anggaran yang dikucurkan bocor. Ini diperparah dengan sistem manajemen berbasis sekolah yang diterapkan setengah-setengah tanpa pengawasan yang ketat. Dengan sistem manajemen berbasis sekolah misalnya, proyek-proyek pengadaan barang dan jasa dikelola penuh oleh sekolah sesuai spesifikasi yang dibutuhkan. Karena pejabat setingkat sekolah merupakan unsur terlemah dari birokrasi didunia pendidikan maka, sekolah menjadi sapi perah bagi birokrat-birokrat diatasnya. Contohnya, ketika sekolah mendapat dana grant untuk membangun Laboratorium Bahasa disekolah, maka otomatis para pejabat ditingkat diknas kabupaten, propinsi dan tentu kepala sekolah meminta jatah yang akumulasinya mencapai 20 % dari anggaran yang diberikan oleh pemerintah. Sebuah angka yang sangat besar. Ungkapan jawa “wohe nek gak disinggek ora bakal ceblok (buahnya tidak akan jatuh jika tidak disogok dari bawah – bantuan tidak akan turun jika tidak diberi sogokan/pelicin) masih saja berlaku saat ini. Meskipun pemerintah pusat telah berupaya dengan mengirim dana grant tersebut langsung kerekening sekolah, justru itu sangat mempermudah pejabat atasan untuk meminta jatah upeti. Tentu saja korupsi sedikit sekali meninggalkan bekas, hanya bau busuknya yang menyengat. Dan orang-orang terdekat saja yang tahu bahwa anggaran telah bocor kemana-mana. Sulitnya mengungkap korupsi didunia pendidikan karena, adanya orang tua siswa sebagai back up anggaran yang kurang. Artinya bisa ditebak, orang tua harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk menutupi kebocoran anggaran tersebut. Itulah sebabnya, ketika KPK dan BPK mengaudit keuangan sekolah, seringkali tidak menemukan kesalahan yang berarti selain kesalahan administrasi kecil yang tidak berarti. Korupsi yang masih kuat dilevel bawah merupakan persoalan serius yang saya pesimis, Muh Nuh dapat menyelesaikannya. Mencari kepala sekolah yang jujur saja saat ini, seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Tetapi harapan itu selalu ada betapapun kecilnya harapan tersebut dan kini ditumpukan kepada Mendiknas baru, M. Nuh. Ketika KPK telah ditelanjangi dan dicabut taringnya, maka pemberantasan korupsi didepartemen sangat tergantung pada kekuatan menteri yang memimpin departemen itu untuk membersihkan dapurnya sendiri. Jarene wong Jawa Timuran : Resik ono pogone, sing akeh sawang lan anguse. Ning sing ati-ati ati aja sampek malah keblekan pogone........ *) seperti yang dialami oleh Mantan Ketua KPK yang terdahulu (Antasari, Bibit W, Chandra H).
SEKOLAH GRATIS HANYA KEBOHONGAN ?

Gagasan ideal tentang sekolah gratis yang dimotori oleh Bambang Sudibyo, Mendiknas yang lama, bermula dari dikucurkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk tingkat SD dan SMP sederajat. Dengan asumsi bahwa dana BOS ditambah dengan Dana Bantuan dari Pemerintah Daerah, maka sekolah setingkat pendidikan dasar dapat digratiskan. Lihatlah dibanyak sekolah, spanduk dan baliho yang menyatakan bahwa sekolah gratis hampir merata disemua sekolah-sekolah negeri. Pada kenyataannya, sekolah gratis itu tidak ada. Banyak bahasa politis yang dipakai sekolah untuk meyakinkan masyarakat bahwa yang gratis hanya ini..... sedangkan yang itu.... tetap harus ditanggung orang tua. Kenyataannya tidak ada sekolah gratis dinegeri ini. Inilah kebohongan terbesar yang dilakukan birokrat era Bambang Sudibyo kepada rakyatnya. Bahkan sampai diiklankan di televisi nasional yang tentu saja memakan anggaran yang sangat besar.
Persoalan justru muncul dilevel bawah dimana orang tua berhadap-hadapan dengan sekolah yang harus mencari rasionalisasi untuk meyakinkan masyarakat bahwa sebenarnya tetap saja mereka harus membayar dengan berbagai istilah yang dipakai sekolah, apakah iuran, sumbangan sukarela yang tidak mengikat dan lain sebagainya.
Pembiayaan pendidikan sesungguhnya sangat relatif. Satu sekolah bisa menghabiskan dana milyaran rupiah untuk menjalankan manajemen sekolah selama satu tahun sedangkan sekolah lain bisa hanya menghabiskan puluhan juta saja. Ini sangat tergantung pada visi dan misi sekolah tersebut dan orientasi kemana sekolah tersebut akan dibawa. Sekolah dengan basis teknologi kekinian akan lebih banyak membutuhkan biaya pengadaan dan perawatan ketimbang sekolah yang cukup bermodalkan kapur dan papan tulis saja. Sekolah dengan fasilitas yang super lengkap akan lebih mahal pembiayaannya ketimbang sekolah yang memiliki fasilitas sangat terbatas. Kenyataan disekolah kita, disparitas antar sekolah sangat mencolok bahkan ditingkat kecamatan saja, tiap sekolah akan berbeda ukuran biaya yang dibutuhkan. Baik ditinjau dari fasilitas yang dimiliki baik software maupun hardwarenya. Karena itu, menyamaratakan dana BOS akan membuat sekolah yang memiliki cost besar akan terseok-seok perjalanannya. Sebaliknya sekolah yang cost operasionalnya relatif sedikit dapat berlenggang kangkung menikmati kucuran dana BOS tersebut. Sampai hari ini tidak ada ukuran tentang besaran biaya manajemen sekolah yang standar.
Pendidikan dasar 9 tahun harus digenjot untuk segera dituntaskan. Dana BOS sebenarnya hanya meringankan orang tua, tapi tidak sanggup untuk menggratiskan seluruh biaya-biaya pendidikan khususnya pada sekolah-sekolah yang potensial dan memerlukan pembiayaan yang besar.
Muh. Nuh sangat perlu untuk meluruskan hal tersebut. Apakah menurunkan spanduk-spanduk disekolah yang bertuliskan sekolah gratis atau mencukupi seluruh kebutuhan pendidikan suatu sekolah sehingga tidak ada alasan lain bagi sekolah selain menggratiskan.

PUSAT – SEKOLAH : PEMBANGKANGAN BIROKRASI

Kasus sekolah gratis menunjukkan bahwa komunikasi birokrasi yang dilakukan berjenjang pada akhirnya terputus dan tidak dihiraukan ditingkat bawah. Betapapun menghabiskan dana milyaran rupiah hanya untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat tentang sekolah gratis, pada akhirnya itu tidak dipatuhi oleh sekolah-sekolah negeri yang notebene dibawah kendali langsung Diknas. Bentuk pembangkangan birokrasi ini, bila dibiarkan akan terus menerus menggerogoti kinerja dan kewibawaan departemen. Belum lagi dana sharing untuk BOS yang diharapkan dapat membantu mencukupi kebutuhan sekolah seringkali sangat tergantung dari kemurahan hati Bupati/Wali kota. Jadi proses pembangkangan sebenarnya dimulai dari tingkat kabupaten/kota, dari Bupati atau walikotanya.
Bentuk pembangkangan lain adalah tentang buku sekolah. Adalah aneh jika sekolah tidak boleh menjual buku atau Lembar Kerja Siswa, sementara pemerintah sendiri tidak menyediakan buku yang cukup untuk proses belajar mengajar. Saat ini paling banter satu buku untuk dua anak didik, itupun untuk mata pelajaran tertentu. Karena itu, meskipun Mendiknas yang lama, melarang sekolah menjual buku dan LKS apakah lewat koperasi sekolah atau guru, tetap saja tidak dihiraukan oleh sekolah. Mau jadi apa anak didik, kalau buku saja tidak punya ?. Buku yang disediakan pemerintah masih terbatas. Tengoklah buku-buku yang ada di http://bse.depdiknas.go.id, yang dapat diunduh oleh masyarakat. Lebih dari satu tahun pemerintah pusat meluncurkan program BSE (Buku Sekolah Elektronik), yang tersedia hanya beberapa mata pelajaran saja seperti PKn, IPA, IPS, Bhs. Indonesia, Bhs. Inggris, Matematika, sementara pelajaran lain tidak ada seperti Agama, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Seni Budaya, Pendidikan Jasmani, Ketrampilan, Pengembangan diri, Muatan Lokal. Padahal usia buku untuk kurikulum 2004 yang disempurnakan menjadi kurikulum 2006 hanya sampai tahun 2014 saja, artinya pemerintah harus mengejar target untuk segera melengkapi buku-buku disekolah-sekolah sehingga setiap anak mendapat satu buku. Sayangnya, belum cukup tuntas BOS Buku untuk melengkapi kebutuhan akan buku disekolah sekarang dihentikan atau diintegrasikan kedalam Bantuan Operasional Sekolah. Sehingga, saya kira tidak akan tuntas penyediaan buku-buku bagi siswa bila tidak dipercepat. Kalau buku saja tidak dimiliki siswa, jangan pernah tanya tentang kualitas pendidikannya.





*) Resik ono pogone, sing akeh sawang lan anguse. Ning sing ati-ati ati aja sampek malah keblekan pogone........ artinya bersihkan dapur/pogo (tempat menaruh alat dapur) dan berjelaga. Tapi hati-hati jangan sampai kejatuhan pogo.
Pogo adalah tempat menaruh alat-alat dapur. Orang Jawa biasanya membuat tempat alat-alat dapur seperti kukusan, Panci dll diatasnya. Terbuat dari rangkaian bambu dan berada diatas/agak tinggi dari tempat berdiri dan biasanya dekat dengan tungku api dari tanah liat. Tempatnya didapur.

KELAPARAN DI YAHUKIMO

APA KABAR YAHUKIMO ?

Dengarkan pengakuan Sibet Nabiyak, penduduk Yahukimo, “Kalau ada makanan kita makan, kalau tidak, dari pagi sampai sore kita tidak makan. Tidak ada makanan disini”.Sebuah pengakuan yang menyentak kita tentang keadaan saudara kita di Papua. (selebihnya dapat dilihat dikutipan video yang bersumber dari berita TV One, 5/9/2009). Akibat kelaparan yang menimpa rakyat di Yahukimo, setidaknya 113 orang meinggal dunia. Sebuah keadaan yang kontras dengan peristiwa gempa bumi yang terjadi di Tasikmalaya dimana bantuan berdatangan dari seluruh penjuru negeri. Bahkan salah satu stasiun tv swasta indonesia membuat acara live penggalian dana. yang menghebohkan ada seorang Donatur secara pribadi yang memberi bantuan sebesar 1 milyar rupiah untuk korban gempa bumi. Sebuah angka yang sangat besar untuk ukuran Indonesia.
Sementara di Yahukimo ratusan orang mati kelaparan. Sungguh sebuah cara mati yang setiap orang tidak ingin membanyangkan pun tidak mau. Tidak ada gebyar donasi. Yang mungkin tersisa disana saat ini adalah saat saat menunggu ajal ditengah sulitnya jalur komunikasi antar daerah.
Yahukimo, merupakan wilayah Indonesia yang sering dilanda kelaparan dan berakibat kematian. Kegagalan panen dan hama bukanlah alasan bagi pemerintah untuk membiarkan rakyatnya mati kelaparan.

Barangkali, salah satu wilayah Indonesia yang selalu terpinggirkan adalah Papua. Kecuali jika terjadi kasus-kasus perlawanan dari kelompok separatis OPM. Atau menyangkut Freeport. Wilayah yang kaya raya tetapi rakyatnya miskin. Wilayah yang memiliki sumber daya alam yang luar biasa, tetapi banyak penduduknya yang masih tidak berpakaian. Otonomi khusus yang diberikan di wilayah Papua nampaknya belum benar-benar dirasakan oleh mereka. Akses jalan trans Papua belum terbangun. Kebanyakan kekayaan alam dikeruk asing dan Jakarta, dicuri dan dibawa ke luar negeri. Sedangkan rakyatnya tetap saja miskin. Sedemikian miskinnya mereka masih hanya pakai koteka. Ini bertolak belakang dengan pulau-pulau lain. Bahkan bila dibandingkan dengan Jawa, papua sangatlah tertinggal. Didunia pendidikan, sekolah-sekolah di pulau jawa telah memasuki era digital. Dimana mulai anak usia SMP telah akrab dengan berbagai teknologi salah satunya internet.

Apa yang salah dengan Papua ?. Dengan kekayaan alam yang dimiliki seharusnya papua telah mencapai kemajuan layaknya pulau Jawa. Minimal seperti Kalimantan yang telah membangun infrastruktur jalan trans Kalimantan. Adalah sangat tragis bila ada rakyat, dinegara manapun, sampai meninggal dunia karena kelaparan. Maka yang paling bertanggung jawab adalah pemerintah. Ya pemerintah Daerah ya Pemerintah Pusat. Karena tugas pemerintah adalah menjamin ketersediaan pangan, kesehatan dan pendidikan rakyatnya..
EARTHQUAKE IN INDONESIA :
GEMPA LAGI, GEMPA LAGI

Innalillahi wa inaillaihi rojiun. Sejak 2005 gempa bumi besar menghabisi banyak rakyat Indonesia. Paling parah adalah peristiwa kelabu bulan Desember 2004 yaitu Gempa bumi diikuti Tsunami di aceh dan Nias. Lebih dari Dua ratus ribu orang meninggal dunia dan hilang ditelan laut. Ditahun 2006, gempa bumi di Yogyakarta dan Bantul menelan korban lebih dari enam ribu orang. Tahun 2007 gempa di Lampung menelan korban 13 orang. Hari ini, 2 Sept 2009, di Jawa Barat, gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter, sedikitnya telah tercapat 64 orang meninggal dunia. Cakupan wilayah gempa bumi di Jawa Barat sangat luas meliputi Tasikmalaya, Cianjur, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Bandung, Jakarta.

Berikut ini kutipan video gempa yang terjadi di Indonesia : Aceh 2004, Bantul dan Yogyakarta, 2006 dan Jawa Barat, 2009.