MENDIKNAS BARU : BEBAN MUH. NUH DIDUNIA PENDIDIKAN



Selalu ada ungkapan yang sudah akrab didunia pendidikan ; “ganti menteri ganti kurikulum…!”. Apakah ini akan terjadi diera Muh. Nuh sebagai Menteri Pendidikan Nasional yang baru ?. Jawabannya tergantung dari apa yang akan dirancang oleh Muh. Nuh didunia pendidikan kita. Idealnya kurikulum pendidikan dijalankan selama 10 tahun. Kalau kurikulum 2004 yang kemudian disempurnakan menjadi kurikulum 2006 dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, maka baru ditahun 2014 kurikulum tersebut berganti.
Tapi saya kira, Muh Nuh sebagai orang yang memiliki pengalaman yang panjang didunia pendidikan tentu akan berpikir panjang implikasi dari penggantian atau revisi sebuah kurikulum. Justru menurut saya, beban utama Muh. Nuh selama lima tahun kedepan adalah reformasi birokrasi didunia pendidikan. Sebab diera kepemimpinan Bambang Sudibyo, reformasi birokrasi berjalan tertatih tatih, kalau tidak disebut jalan ditempat.
Harus diakui sejak Indonesia merdeka, baru diera kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dunia pendidikan menjadi primadona. Ini karena besarnya anggaran pendidikan yang mencapai angka 20 % dari APBN kita. Perjuangan panjang mengoal-kan anggaran 20 % APBN untuk dunia pendidikan berujung dikepemimpinan SBY. Dengan anggaran pendidikan yang besar tersebut, seharusnya dunia pendidikan mulai bergeliat menata dirinya.
Memang upaya kearah itu sedang dilakukan yaitu diantaranya program sertifikasi guru dan pemberian dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk SD dan SMP. Program sertifikasi guru memberikan jaminan kesejahteraan yang lebih layak bagi guru sebagai lokomotif dunia pendidikan. Sebab, pengalaman bertahun-tahun menunjukkan bahwa pergantian kurikulum seolah-olah berhenti dilaci meja guru tanpa disertai dengan kualitas guru yang profesional. Meningkatkan kesejahteraan guru akan menjadi awal babak baru dunia pendidikan kita yang akan dirasakan paling tidak sepuluh tahun kedepan.

KORUPSI DUNIA PENDIDIKAN MASIH AKUT

Persoalan yang paling serius didunia pendidikan saat ini adalah masih akutnya korupsi didunia pendidikan. Paling tidak 20 % dari anggaran yang dikucurkan bocor. Ini diperparah dengan sistem manajemen berbasis sekolah yang diterapkan setengah-setengah tanpa pengawasan yang ketat. Dengan sistem manajemen berbasis sekolah misalnya, proyek-proyek pengadaan barang dan jasa dikelola penuh oleh sekolah sesuai spesifikasi yang dibutuhkan. Karena pejabat setingkat sekolah merupakan unsur terlemah dari birokrasi didunia pendidikan maka, sekolah menjadi sapi perah bagi birokrat-birokrat diatasnya. Contohnya, ketika sekolah mendapat dana grant untuk membangun Laboratorium Bahasa disekolah, maka otomatis para pejabat ditingkat diknas kabupaten, propinsi dan tentu kepala sekolah meminta jatah yang akumulasinya mencapai 20 % dari anggaran yang diberikan oleh pemerintah. Sebuah angka yang sangat besar. Ungkapan jawa “wohe nek gak disinggek ora bakal ceblok (buahnya tidak akan jatuh jika tidak disogok dari bawah – bantuan tidak akan turun jika tidak diberi sogokan/pelicin) masih saja berlaku saat ini. Meskipun pemerintah pusat telah berupaya dengan mengirim dana grant tersebut langsung kerekening sekolah, justru itu sangat mempermudah pejabat atasan untuk meminta jatah upeti. Tentu saja korupsi sedikit sekali meninggalkan bekas, hanya bau busuknya yang menyengat. Dan orang-orang terdekat saja yang tahu bahwa anggaran telah bocor kemana-mana. Sulitnya mengungkap korupsi didunia pendidikan karena, adanya orang tua siswa sebagai back up anggaran yang kurang. Artinya bisa ditebak, orang tua harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk menutupi kebocoran anggaran tersebut. Itulah sebabnya, ketika KPK dan BPK mengaudit keuangan sekolah, seringkali tidak menemukan kesalahan yang berarti selain kesalahan administrasi kecil yang tidak berarti. Korupsi yang masih kuat dilevel bawah merupakan persoalan serius yang saya pesimis, Muh Nuh dapat menyelesaikannya. Mencari kepala sekolah yang jujur saja saat ini, seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Tetapi harapan itu selalu ada betapapun kecilnya harapan tersebut dan kini ditumpukan kepada Mendiknas baru, M. Nuh. Ketika KPK telah ditelanjangi dan dicabut taringnya, maka pemberantasan korupsi didepartemen sangat tergantung pada kekuatan menteri yang memimpin departemen itu untuk membersihkan dapurnya sendiri. Jarene wong Jawa Timuran : Resik ono pogone, sing akeh sawang lan anguse. Ning sing ati-ati ati aja sampek malah keblekan pogone........ *) seperti yang dialami oleh Mantan Ketua KPK yang terdahulu (Antasari, Bibit W, Chandra H).
SEKOLAH GRATIS HANYA KEBOHONGAN ?

Gagasan ideal tentang sekolah gratis yang dimotori oleh Bambang Sudibyo, Mendiknas yang lama, bermula dari dikucurkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk tingkat SD dan SMP sederajat. Dengan asumsi bahwa dana BOS ditambah dengan Dana Bantuan dari Pemerintah Daerah, maka sekolah setingkat pendidikan dasar dapat digratiskan. Lihatlah dibanyak sekolah, spanduk dan baliho yang menyatakan bahwa sekolah gratis hampir merata disemua sekolah-sekolah negeri. Pada kenyataannya, sekolah gratis itu tidak ada. Banyak bahasa politis yang dipakai sekolah untuk meyakinkan masyarakat bahwa yang gratis hanya ini..... sedangkan yang itu.... tetap harus ditanggung orang tua. Kenyataannya tidak ada sekolah gratis dinegeri ini. Inilah kebohongan terbesar yang dilakukan birokrat era Bambang Sudibyo kepada rakyatnya. Bahkan sampai diiklankan di televisi nasional yang tentu saja memakan anggaran yang sangat besar.
Persoalan justru muncul dilevel bawah dimana orang tua berhadap-hadapan dengan sekolah yang harus mencari rasionalisasi untuk meyakinkan masyarakat bahwa sebenarnya tetap saja mereka harus membayar dengan berbagai istilah yang dipakai sekolah, apakah iuran, sumbangan sukarela yang tidak mengikat dan lain sebagainya.
Pembiayaan pendidikan sesungguhnya sangat relatif. Satu sekolah bisa menghabiskan dana milyaran rupiah untuk menjalankan manajemen sekolah selama satu tahun sedangkan sekolah lain bisa hanya menghabiskan puluhan juta saja. Ini sangat tergantung pada visi dan misi sekolah tersebut dan orientasi kemana sekolah tersebut akan dibawa. Sekolah dengan basis teknologi kekinian akan lebih banyak membutuhkan biaya pengadaan dan perawatan ketimbang sekolah yang cukup bermodalkan kapur dan papan tulis saja. Sekolah dengan fasilitas yang super lengkap akan lebih mahal pembiayaannya ketimbang sekolah yang memiliki fasilitas sangat terbatas. Kenyataan disekolah kita, disparitas antar sekolah sangat mencolok bahkan ditingkat kecamatan saja, tiap sekolah akan berbeda ukuran biaya yang dibutuhkan. Baik ditinjau dari fasilitas yang dimiliki baik software maupun hardwarenya. Karena itu, menyamaratakan dana BOS akan membuat sekolah yang memiliki cost besar akan terseok-seok perjalanannya. Sebaliknya sekolah yang cost operasionalnya relatif sedikit dapat berlenggang kangkung menikmati kucuran dana BOS tersebut. Sampai hari ini tidak ada ukuran tentang besaran biaya manajemen sekolah yang standar.
Pendidikan dasar 9 tahun harus digenjot untuk segera dituntaskan. Dana BOS sebenarnya hanya meringankan orang tua, tapi tidak sanggup untuk menggratiskan seluruh biaya-biaya pendidikan khususnya pada sekolah-sekolah yang potensial dan memerlukan pembiayaan yang besar.
Muh. Nuh sangat perlu untuk meluruskan hal tersebut. Apakah menurunkan spanduk-spanduk disekolah yang bertuliskan sekolah gratis atau mencukupi seluruh kebutuhan pendidikan suatu sekolah sehingga tidak ada alasan lain bagi sekolah selain menggratiskan.

PUSAT – SEKOLAH : PEMBANGKANGAN BIROKRASI

Kasus sekolah gratis menunjukkan bahwa komunikasi birokrasi yang dilakukan berjenjang pada akhirnya terputus dan tidak dihiraukan ditingkat bawah. Betapapun menghabiskan dana milyaran rupiah hanya untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat tentang sekolah gratis, pada akhirnya itu tidak dipatuhi oleh sekolah-sekolah negeri yang notebene dibawah kendali langsung Diknas. Bentuk pembangkangan birokrasi ini, bila dibiarkan akan terus menerus menggerogoti kinerja dan kewibawaan departemen. Belum lagi dana sharing untuk BOS yang diharapkan dapat membantu mencukupi kebutuhan sekolah seringkali sangat tergantung dari kemurahan hati Bupati/Wali kota. Jadi proses pembangkangan sebenarnya dimulai dari tingkat kabupaten/kota, dari Bupati atau walikotanya.
Bentuk pembangkangan lain adalah tentang buku sekolah. Adalah aneh jika sekolah tidak boleh menjual buku atau Lembar Kerja Siswa, sementara pemerintah sendiri tidak menyediakan buku yang cukup untuk proses belajar mengajar. Saat ini paling banter satu buku untuk dua anak didik, itupun untuk mata pelajaran tertentu. Karena itu, meskipun Mendiknas yang lama, melarang sekolah menjual buku dan LKS apakah lewat koperasi sekolah atau guru, tetap saja tidak dihiraukan oleh sekolah. Mau jadi apa anak didik, kalau buku saja tidak punya ?. Buku yang disediakan pemerintah masih terbatas. Tengoklah buku-buku yang ada di http://bse.depdiknas.go.id, yang dapat diunduh oleh masyarakat. Lebih dari satu tahun pemerintah pusat meluncurkan program BSE (Buku Sekolah Elektronik), yang tersedia hanya beberapa mata pelajaran saja seperti PKn, IPA, IPS, Bhs. Indonesia, Bhs. Inggris, Matematika, sementara pelajaran lain tidak ada seperti Agama, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Seni Budaya, Pendidikan Jasmani, Ketrampilan, Pengembangan diri, Muatan Lokal. Padahal usia buku untuk kurikulum 2004 yang disempurnakan menjadi kurikulum 2006 hanya sampai tahun 2014 saja, artinya pemerintah harus mengejar target untuk segera melengkapi buku-buku disekolah-sekolah sehingga setiap anak mendapat satu buku. Sayangnya, belum cukup tuntas BOS Buku untuk melengkapi kebutuhan akan buku disekolah sekarang dihentikan atau diintegrasikan kedalam Bantuan Operasional Sekolah. Sehingga, saya kira tidak akan tuntas penyediaan buku-buku bagi siswa bila tidak dipercepat. Kalau buku saja tidak dimiliki siswa, jangan pernah tanya tentang kualitas pendidikannya.





*) Resik ono pogone, sing akeh sawang lan anguse. Ning sing ati-ati ati aja sampek malah keblekan pogone........ artinya bersihkan dapur/pogo (tempat menaruh alat dapur) dan berjelaga. Tapi hati-hati jangan sampai kejatuhan pogo.
Pogo adalah tempat menaruh alat-alat dapur. Orang Jawa biasanya membuat tempat alat-alat dapur seperti kukusan, Panci dll diatasnya. Terbuat dari rangkaian bambu dan berada diatas/agak tinggi dari tempat berdiri dan biasanya dekat dengan tungku api dari tanah liat. Tempatnya didapur.

KELAPARAN DI YAHUKIMO

APA KABAR YAHUKIMO ?

Dengarkan pengakuan Sibet Nabiyak, penduduk Yahukimo, “Kalau ada makanan kita makan, kalau tidak, dari pagi sampai sore kita tidak makan. Tidak ada makanan disini”.Sebuah pengakuan yang menyentak kita tentang keadaan saudara kita di Papua. (selebihnya dapat dilihat dikutipan video yang bersumber dari berita TV One, 5/9/2009). Akibat kelaparan yang menimpa rakyat di Yahukimo, setidaknya 113 orang meinggal dunia. Sebuah keadaan yang kontras dengan peristiwa gempa bumi yang terjadi di Tasikmalaya dimana bantuan berdatangan dari seluruh penjuru negeri. Bahkan salah satu stasiun tv swasta indonesia membuat acara live penggalian dana. yang menghebohkan ada seorang Donatur secara pribadi yang memberi bantuan sebesar 1 milyar rupiah untuk korban gempa bumi. Sebuah angka yang sangat besar untuk ukuran Indonesia.
Sementara di Yahukimo ratusan orang mati kelaparan. Sungguh sebuah cara mati yang setiap orang tidak ingin membanyangkan pun tidak mau. Tidak ada gebyar donasi. Yang mungkin tersisa disana saat ini adalah saat saat menunggu ajal ditengah sulitnya jalur komunikasi antar daerah.
Yahukimo, merupakan wilayah Indonesia yang sering dilanda kelaparan dan berakibat kematian. Kegagalan panen dan hama bukanlah alasan bagi pemerintah untuk membiarkan rakyatnya mati kelaparan.

Barangkali, salah satu wilayah Indonesia yang selalu terpinggirkan adalah Papua. Kecuali jika terjadi kasus-kasus perlawanan dari kelompok separatis OPM. Atau menyangkut Freeport. Wilayah yang kaya raya tetapi rakyatnya miskin. Wilayah yang memiliki sumber daya alam yang luar biasa, tetapi banyak penduduknya yang masih tidak berpakaian. Otonomi khusus yang diberikan di wilayah Papua nampaknya belum benar-benar dirasakan oleh mereka. Akses jalan trans Papua belum terbangun. Kebanyakan kekayaan alam dikeruk asing dan Jakarta, dicuri dan dibawa ke luar negeri. Sedangkan rakyatnya tetap saja miskin. Sedemikian miskinnya mereka masih hanya pakai koteka. Ini bertolak belakang dengan pulau-pulau lain. Bahkan bila dibandingkan dengan Jawa, papua sangatlah tertinggal. Didunia pendidikan, sekolah-sekolah di pulau jawa telah memasuki era digital. Dimana mulai anak usia SMP telah akrab dengan berbagai teknologi salah satunya internet.

Apa yang salah dengan Papua ?. Dengan kekayaan alam yang dimiliki seharusnya papua telah mencapai kemajuan layaknya pulau Jawa. Minimal seperti Kalimantan yang telah membangun infrastruktur jalan trans Kalimantan. Adalah sangat tragis bila ada rakyat, dinegara manapun, sampai meninggal dunia karena kelaparan. Maka yang paling bertanggung jawab adalah pemerintah. Ya pemerintah Daerah ya Pemerintah Pusat. Karena tugas pemerintah adalah menjamin ketersediaan pangan, kesehatan dan pendidikan rakyatnya..
EARTHQUAKE IN INDONESIA :
GEMPA LAGI, GEMPA LAGI

Innalillahi wa inaillaihi rojiun. Sejak 2005 gempa bumi besar menghabisi banyak rakyat Indonesia. Paling parah adalah peristiwa kelabu bulan Desember 2004 yaitu Gempa bumi diikuti Tsunami di aceh dan Nias. Lebih dari Dua ratus ribu orang meninggal dunia dan hilang ditelan laut. Ditahun 2006, gempa bumi di Yogyakarta dan Bantul menelan korban lebih dari enam ribu orang. Tahun 2007 gempa di Lampung menelan korban 13 orang. Hari ini, 2 Sept 2009, di Jawa Barat, gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter, sedikitnya telah tercapat 64 orang meninggal dunia. Cakupan wilayah gempa bumi di Jawa Barat sangat luas meliputi Tasikmalaya, Cianjur, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Bandung, Jakarta.

Berikut ini kutipan video gempa yang terjadi di Indonesia : Aceh 2004, Bantul dan Yogyakarta, 2006 dan Jawa Barat, 2009.

KEBENCIAN RAKYAT INDONESIA PADA MALAYSIA :PERANG ATAU DIPLOMASI ?

Dalam lima belas tahun terakhir, Malaysia telah menjadi sebuah negara tetangga yang sering menimbulkan kemarahan rakyat Indonesia. Kemarahan begitu hebat, setelah rakyat Indonesia dicengangkan dengan diambilnya pulau Ligitan dan Sipadan, berbagai produk kebudayaan dicuri dan diklaim sebagai milik Malaysia, Ambalat terus di incar untuk dicaplok. Belum lagi kasus-kasus penganiayaan TKI di Malaysia yang terus bermunculan tiap waktu di Televisi. Ini adalah bom waktu, yang cepat atau lambat akan menimbulkan gerakan yang kuat dari rakyat untuk melawan Malaysia. Lihatlah di situs http://www.malingsia.com/ daftar kebencian orang-orang Indonesia terhadap Malaysia.
Logo Malingsia dikutip dari www.malingsia.com


Sumber kebencian rakyat Indonesia terhadap Malaysia dapat ditelusuri sejak Malaysia menyatakan merdeka. Presiden Soekarno, melihat bahwa Malaysia merupakan ancaman yang serius terhadap kedaulatan Indonesia. Maka slogan “ganyang Malaysia” menjadi sangat populer bagi rakyat Indonesia bahkan sampai hari ini. Setiap muncul permasalahan dengan Malaysia, slogan “ganyang Malaysia” selalu menjadi ikon dalam setiap gerakan rakyat.
Di Era Kepemimpinan Presiden Soeharto, dimana hubungan Indonesia – Malaysia begitu mesra, persoalan dengan Malaysia hampir tidak muncul. Pertama karena kuatnya pengaruh Soeharto di wilayah ASEAN. Kedua secara pribadi Soeharto, Mahathir Muhammad (Malaysia), Ferdinand Marcos (Philipina) serta Lee Kuan Yu (Singapura), memiliki kedekatan hubungan pribadi. Ketiga, secara ekonomi, Indonesia sebelum reformasi, merupakan macan Asia dengan tingkat pertumbuhan diatas 7 % tiap tahunnya. Kekuatan ekonomi Indonesia membuat siapapun berpikir dua kali untuk bermasalah dengan Indonesia. Dengan kekuatan ekonomi, dominasi kekuatan militer dan militansi rakyat terhadap negaranya, maka tidak ada negara-negara tetangga yang berani usil.
Sayangnya, ketika hantaman krisis ekonomi tahun 1996 menghajar Indonesia dan hampir semua negara di Asia, hanya Malaysia, China dan Thailand yang bertahan dari hantaman krisis ekonomi. Indonesia terjun bebas ketitik nadir. Krisis itu berakibat fatal yaitu kehancuran ekonomi – diperparah dengan pengaruh IMF- sekaligus porak porandanya kondisi politik didalam negeri. Pergulatan politik era reformasi di dalam negeri, membuat Indonesia semakin lemah dimata internasional. Kekuatan diplomasinya rendah. Pemerintahan produk reformasi mulai dari BJ. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati sampai Susilo Bambang Yudhoyono, sangat lemah dalam diplomasi internasional. Indonesia tidak memiliki lagi diplomat – seperti diera Soeharto - sekelas Muchtar Kusuma Atmaja atau Ali Alatas yang mampu meredam gejolak internasional di forum PBB berkaitan dengan masalah timor timur misalnya.
Pengusiran besar-besar TKI Indonesia dari Malaysia dan direbutnya Sipadan dan Ligitan oleh Malaysia diera kepemimpinan Megawati mengingatkan kembali sejarah tentang “ganyang Malaysia”. Sejak saat itu, berbagai kasus penganiayaan TKI, blok ambalat, kasus Manohara, pencurian kebudayaan Indonesia seperti batik, wayang, lagu, angklung, reog ponorogo dan yang terakhir tari Pendet dari Bali serta plesetan lagu Indonesia Raya. Munculnya silih berganti dan terus menerus memancing emosi rakyat Indonesia.

PERANG ATAU DIPLOMASI ?

Ketika kasus Ambalat menguat, terbentuklah berbagai laskar perlawanan rakyat di Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan, yang siap berhadap-hadapan dengan tentara diraja Malaysia. Persoalan yang terus menerus mengusik rasa nasionalisme tersebut, bisa jadi akan menjadi akar perang terbuka Indonesia – Malaysia. Bahkan Panglima TNI telah menyatakan bahwa tentaranya siap untuk perang.
Bila benar terjadi perang maka Indonesia memiliki dua kekuatan yang sulit ditandingi oleh Malaysia. Pertama, TNI kita telah memiliki sejarah panjang dalam berbagai pertempuran baik melawan Penjajahan Belanda maupun pemberontakan didalam negeri seperti DI/TII di Jawa, PRRI/Permesta di Sumatera, RMS di Sulawesi, GAM di Aceh, OPM di Irian Jaya, Operasi Seroja di Timor Timur dll. Tentara Indonesia telah ditempa oleh sejarah yang panjang dengan pahit getirnya perang. Meski dengan persenjataan yang minim, tentara Indonesia telah teruji dalam berbagai pertempuran.
Faktor kedua adalah militansi rakyat. Sejarah Indonesia dibangun oleh kekuatan rakyat. Ketika Indonesia merdeka justru belum memiliki tentara. Perlawanan dibangun dari kekuatan rakyat Laskar-laskar perlawanan rakyat akan bermunculan seperti kata Soekarno “setiap 10 tentara di raja Malaysia masuk ke Indonesia, seratus orang Indonesia akan melawannya. Seratus tentara Malaysia masuk ke Indonesia, seribu rakyat akan melawannya”. Kekuatan ini tidak dimiliki oleh Malaysia. Bahkan, 2 juta TKI Indonesia di Malaysia saat ini, bila perang terbuka terjadi, akan menjadi kekuatan penghancur terhadap Malaysia yang sangat dahsyat. Jangan anggap remeh TKI. Mereka akan menjadi kekuatan yang luar biasa dan tidak terpikirkan oleh Malaysia. Tentu dengan sedikit sentuhan operasi Intelejen, maka Malaysia akan kewalahan menghadapi mereka. Mereka bisa menjadi bara api dalam sekam yang akan membakar apa saja di Malaysia, jika pematiknya dinyalakan.
Saya memiliki keyakinan itu, karena mereka para TKI, para tetangga-tetangga saya, orang-orang Indonesia yang mengadu nasib di negeri jiran tersebut. Orang-orang yang disiksa, dianiaya, orang-orang yang tidak berdaya saat ini, akan menjadi kekuatan luar biasa sesuai dengan kesejarahan mereka. Pendek kata mereka adalah BONEK (Bondho Nekat) – berani menghadapi apapun hanya bermodal tekad yang kuat.
Belum lagi kekuatan rakyat dari dalam negeri Indonesia. Lihat saja, setiap ada masalah dengan Malaysia, orang Indonesia, para blogger baik bernada caci maki maupun hujatan mengisi situs-situs internet yang memuat tentang permasalahan tersebut. Bahkan kalangan Hacker yang selama ini identik dengan perilaku negatif di dunia internet, telah menunjukkan kebencian terhadap Malaysia. Hari ini (Rabu, 2/9/2009) saat saya menulis, 116 situs milik Malaysia, telah dihabisi oleh para Peretas Indonesia (Hacker) (sumber : TV One, Metro TV). Sebuah bukti, perang telah dimulai betapapun masih ditingkat dunia maya. Saya yakin, ini tidak akan berhenti dan akan terus berlangsung sampai Malaysia, menunjukkan itikad baik menjalin kerjasama dengan Indonesia.
Kalau saja Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, hari ini menyatakan perang terhadap Malaysia. Maka puluhan ribu orang akan secara sukarela siap perang dan mati, betapapun mereka tanpa bekal kemampuan militer sedikitpun. Ini terbukti ketika terjadi perang di Afganistan, Irak, dan terakhir di Palestina. Ribuan orang mendaftar sebagai sukarelawan yang siap berperang, meskipun mereka tidak memiliki sedikitpun ketrampilan dalam perang. BONEK – Bondho Nekad – bermodalkan tekad belaka. Adalah kata kuncinya rakyat Indonesia ...................
Kekuatan rakyat akan menjadi suport yang luar biasa bagi TNI dalam berhadap-hadapan dengan Malaysia. Meski alat pertahanan Indonesia banyak yang telah usang, semangat itulah yang akan membuat Indonesia mampu melawan Malaysia.
Tapi perang selalu menyakitkan. Saya percaya, pilihan paling sulit pemimpin negara adalah menyatakan perang terhadap negara lain. Harus ada alasan yang sangat kuat untuk menyatakan perang terhadap negara lain. Diantara masalah yang muncul dengan malaysia, masalah Ambalat adalah masalah yang paling berisiko menimbulkan perang terbuka Indonesia – Malaysia.
Maka langkah diplomasi yang seimbang merupakan langkah paling logis dan beresiko paling rendah. Diplomasi berarti ada kesejajaran kedua belah pihak untuk saling berbicara dan berdialog. Saat ini upaya diplomasi masih berat sebelah. Seolah – olah hanya Indonesia yang butuh menyelesaikan masalah sedangkan Malaysia selalu saja jual mahal. Ingat ketika kasus Ambalat memanas. Pemerintah kita, Parlemen kita mondar – mandir, Jakarta – Kuala Lumpur. Untuk apa ? Buat apa Jero Wacik – menteri Pariwisata dan Kebudayaan Indonesia, harus klutusan ke Kuala Lumpur, sekedar untuk menunjukkan kemarahan bangsa Indonesia ketika tari pendet dicuri Malaysia. Penyelesaian masalah tidak akan muncul jika tidak ada itikad baik dari kedua belah pihak.
Dubes Indonesia di Malaysia, seperti Dai Bachtiar, tidak punya nyali sama sekali dalam menghadapi hantaman persoalan yang bertubi-tubi. Warning pertama Indonesia cukup dengan memanggil kembali Dai Bachtiar ke Indonesia dan mengusir Dubes Malaysia di Indonesia, menghentikan pengiriman TKI dan mengalihkan ke Timur Tengah, Australia dan Negara Asia lain selain Malaysia. Barangkali bila pemerintah tidak segera mengambil langkah yang serius, justru rakyat Indonesia yang akan mengusir Dubes Malaysia di Indonesia untuk pulang kampung.
Indonesia sendiri saat ini butuh seorang pemimpin yang mampu mengatakan pada Malaysia “kamu telah merampok kekayaan budaya kami. Kamu telah menyiksa rakyat kami. Kamu telah berusaha mengambil Ambalat. maka itu cukup bagi kami untuk menyatakan perang terhadap Malaysia..........”.

TNI DAN POLISI HARUS BERSATU MELAWAN TERORISME

TNI DAN POLISI HARUS BERSATU MELAWAN TERORISME


Melalui proses heroic seperti di film-film, Densus 88 POLRI akhirnya melumpuhkan dan menembak mati seorang teroris di temanggung Jawa Tengah, yang hari ini diumumkan oleh Mabes Polri sebagai IBROHIM, penata bunga di Hotel JW Marriot. Meskipun saat penyergapan yang dilakukan Densus 88 beredar kabar bahwa yang disergap adalah Noordin M. Top. Keberhasilan lain adalah operasi di Jati Asih Bekasi Jawa Barat dalam waktu yang bersamaan dengan menembak mati 2 orang teroris.
Sebuah prestasi yang perlu mendapat apresiasi dari masyarakat umum, meskipun gembong teroris, Noordin M. Top belum juga tertangkap. Perang melawan terorisme adalah perang yang panjang. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang memburu Osama Bin Laden di Afganistan, dengan waktu yang panjang dan biaya yang super besar, toh hasilnya sampai hari ini belum juga tertangkap. Osama Bin Laden masih juga mampu mengendalikan seluruh jaringan Al Qaidah di seluruh dunia. Malah yang banyak terbunuh adalah rakyat biasa, anak-anak dan wanita.
Prestasi dari pasukan densus 88 sebenarnya akan lebih optimal jika mampu berkolaborasi dengan TNI khususnya angkatan Darat. TNI angkatan Darat memiliki pengalaman yang cukup panjang dalam memburu dan mengejar teroris. Mulai dari pembajakan WOYLA, operasi intelejen di malaysia pada saat konflik dengan malaysia, pengemboman gereja di Malang, Pengeboman Borobudur sampai perlawanan Nursidi di Lampung. Hanya mungkin aturan-aturan yang berubah sejak reformasi membuat TNI terpinggirkan dan tidak memiliki peran yang berarti dalam pengamanan dalam negeri. Reformasi telah membuat TNI kembali ke Barak dan tidak memiliki kekuatan dalam masyarakat. Sedangkan Densus 88 merupakan sebuah organisasi yang relatif baru dan sedang mencari bentuk. Akibatnya, potensi yang luar biasa yang dimiliki TNI tidak dipakai. Seluruh pengamanan dalam negeri menjadi tanggung jawab Polisi. Sehingga polisi memiliki overload tanggung jawab. Dari nangkap maling sampai ngurusi terorisme.
TNI memiliki jaringan intelejen sampai tingkat kecamatan dan desa, bahkan diera Soeharto, TNI mampu menyusup kehampir semua organisasi kemasyarakatan. Contoh operasi intelejen yang sukses adalah Operasi penumpasan G 30 S PKI seperti yang terjadi di Kediri, dilakukan oleh Ansor/banser – sebuah organisasi kepemudaan milik NU berhadap-hadapan langsung dengan orang-orang PKI. TNI tidak terlibat secara fisik tapi mampu mengkondisikan perlawanan rakyat melalui organisasi tersebut.
Disamping itu TNI angkatan Darat memiliki kemampuan intelejen yang tidak diragukan lagi di jaman Orde Baru. Meskipun terkadang mencederai kebebasan berpendapat, toh operasi intelejen yang dilakukan TNI waktu itu, paling tidak, memberikan rasa aman yang luar biasa bagi rakyat.
Karena itu, Presiden SBY telah mengintruksikan keterlibatan TNI dalam pemberantasan terorisme. Namun, itu akan menjadi kendala jika TNI tidak mendapat dukungan yang kuat di Parlemen dalam kerangka memperluas tugas dan tanggung jawab TNI. Persoalannya, apakah penggabungan densus 88 dan TNI akan berhasil efektif. Ini sangat tergantung pada konsensus rakyat dan parlemen. Pengalaman pahit TNI di era Reformasi, barangkali membuat TNI lebih banyak menunggu ketimbang aktif melawan terorisme.
Sekarang, saatnya pemerintah, Parlemen dan dukungan rakyat diperlukan untuk menggabungkan dua kekuatan besar dalam mengamankan negeri yang kita cintai ini. TNI memiliki sejarah yang panjang melawan terorisme bila digabungkan dengan Densus 88 akan menjadikan organisasi itu sangat kuat, berwibawa dan akan ditakuti oleh para teroris yang masih berkeliaran di Indonesia.

MENGENANG MBAH SURIP DAN WS RENDRA

DUNIA KESENIAN ; KEMISKINAN, GLAMOUR DAN KEPOPULERAN

“Sekali berarti sesudah itu mati” (Chairil Anwar : Deru campur Debu). Barangkali puisi Chairil Anwar itu mampu menggambarkan perjuangan hidup sejati dari seorang mbah Surip. Tidak ada seorang biasa, rakyat jelata, yang mampu menarik simpati begitu banyak masyarakat indonesia, selain mbah Surip. Daya pikatnya justru terletak pada kesederhanaan, ketawanya dan kepolosannya dalam menyikapi kehidupan. Mbah Surip sebagai gambaran seniman sejati, yang hidup diantara himpitan raksasa ekonomi yang siap menelan dan menelanjangi siapa-pun yang tak sanggup bertahan di ibukota. Hasil yang ia capai selama 2 bulan terakhir adalah proses perjalanan panjang selama lebih dari 20 tahun.
Saya mengikuti prosesi pemakaman Mbah Surip melalui siaran televisi. Dari awal hingga akhir. Saya sempat bertanya dalam hati, Lho mana WS Rendra ?, Ia tuan rumah. Prosesi pemakaman Mbah Surip di bengkel Theater miliknya WS Rendra, tapi ia tidak muncul. Apa beliau sakit lagi ?. Sebab sebelumnya di TV juga pernah dikabarkan WS Rendra terserang penyakit Jantung, itupun sekitar bulan Juni yang lalu.
Ternyata Malam ini, saat saya menulis artikel tentang Mbah Surip, Ditelevisi rumah terdengar Breaking News. WS Rendra meninggal dunia menyusul Mbah Surip. Beliau meninggal dunia pukul 21.30 WIB tanggal 6 Agustus 2009. Innalilahi wa innailaihi rojiun.

DUNIA KESENIAN SAYA SEMASA MAHASISWA

Saat saya menjadi mahasiswa di IKIP Surabaya, dunia sastra saya coba geluti. Entah kenapa saya tertarik pada sastra khususnya puisi. Padahal saya tidak sedang kuliah di bidang sastra. Saya berjuang mati-matian membuat puisi mungkin karena kemiskinan yang mendera hidup saya. Bahkan sampai pernah saya tidak tidur 2 hari 2 malam untuk melahirkan sebuah puisi. Ketika puisi jadi, saya jual ke koran, ternyata nggak laku juga. Waktu itu, sastra memiliki ruang yang cukup disetiap koran baik terbitan surabaya maupun Jakarta. Paling banter dimuat di koran lokal dan itupun gratis, tidak ada bayarannya. Saya ingat hanya sekali saya mendapat bayaran puisi di Harian Suara Karya, itupun tidak seberapa. Yang paling menjadi langganan puisi saya hanyalah koran kampus “Gema”. Justru tulisan-tulisan yang lain yang terkadang laku dijual di koran. Di IKIP Surabaya, bertebaran penyair dan sastrawan muda yang bergelut mencari identitas diri. Mungkin karena pengaruh dari beberapa dosen IKIP Surabaya waktu itu adalah sastrawan seperti Prof. Budi Darma, Wawan Setiawan, Alm. Prof. Suripan Sadi Hutomo.
Saat saya banyak belajar puisi secara otodidak, saya mengenal karya-karya WS Rendra. Nama yang cukup disegani dikalangan penyair di akhir tahun 1980-an. Disamping waktu itu, nama-nama lain yang menguasai dunia kepenyairan di Indonesia seperti Sutardji Calsum Bahri, Subagyo Sastro Wardoyo, MH. Ainun Najib dll. Bacaan wajib yang ingin mengenal sastra adalah majalah HORISON, majalah kalangan sastrawan pimpinan HB Jasin. Saya biasanya membaca diperpustakaan, karena tidak mampu membelinya. Semua penyair pasti mengenal WS Rendra, karya-karyanya cenderung kritik sosial sering dianggap penganut paham sosialisme. Sebuah kata yang paling ditabukan diera Soeharto. Biasanya dihubung-hubungkan dengan LEKRA (Lembaga Kesenian Rakyat) diera tahun 1960-an yang berafiliasi ke PKI. Sehingga WS Rendra barangkali penyair yang paling sering berurusan dengan pihak berwajib.
Dunia kepenyairan adalah dunia kemiskinan. Tidak ada penyair di Indonesia yang akan mapan secara ekonomi. Kalau kita pelajari sejarah hidup Chairil Anwar, penyair yang mati muda dengan karya yang luar biasa, maka kebesaran nama dan karyanya tidak sebanding dengan kondisi ekonominya yang sampai meninggal dunia, miskin dalam arti sesungguhnya. Tidak seperti kesenian musik maupun seni rupa dan sekarang dunia seni peran, sastrawan khususnya penyair tidak memiliki ruang yang cukup untuk hidup dari berkesenian. Paling sering diminta bantuan teman membuatkan puisi untuk memikat hati pacar yang ditaksirnya. Biasanya bayarannya adalah sebungkus rokok. Dengan berkembangnya teknologi digital, sekarang banyak komunitas pencinta puisi bertebaran di internet. Dikomunitas kembang mawar, dengan ikon, membuat puisi itu mudah, anda dapat bergabung dan menjadi bagian dari mereka.
Sehingga ketika saya lulus kuliah dan mulai bekerja menjadi guru, dunia sastra saya tinggalkan dan tenggelam dalam kesibukan administratif sebagai guru. Sekarang kalau saya diminta menulis puisi, susahnya setengah mati. Maka blog ini sebenarnya adalah proyeksi kerinduan pada dunia tulis menulis. Disamping alasan lain, saya menemukan kesenangan lain yaitu berupa puisi visual melalui video. Kalau anda berkunjung ke Youtube maka disana anda akan menemukan sebagian kecil dari alasan lain saya meninggalkan sastra. Yang pasti, saya teringat perkataan Prof. Budi Darma, banyak penyair kampus, yang akhirnya kehabisan nafas dan meninggalkan dunia sastra. Saya adalah salah satunya.
Karena kesukaan pada dunia puisi, biasanya, dalam video-video saya (kegiatan lembaga, sekolah, organisasi) sering saya insert-kan puisi-puisi yang biasanya saya ambil dari TV. Dari karyanya WS Rendra, KH. Mustofa Bisri, Winarno Suratman, bahkan puisinya SBY di HUT RI tahun lalu maupun Sutrisno Bachir sering saya bajak untuk diinsert-kan di video editan saya. Yang terakhir saya gunakan karya WS Rendra untuk insert closing video “Masa Orientasi Siswa Baru SMA Kandangan” bulan Juli lalu.

MBAH SURIP DAN WS RENDRA

Tentu saja kita tidak dapat membandingkan antara Mbah Surip dengan WS Rendra. Pertama, karena Mbah Surip memulai dunia kesenian baru dipertengan tahun 80-an. Sedangkan waktu itu, Nama WS Rendra sudah sangat dikenal dikalangan seniman. WS. Rendra telah menjadi ikon penyair angkatan tahun 1960. Semasa menjadi mahasiswa WS Rendra telah melahirkan karya-karya yang diakui bahkan oleh HB Jasin, kritikus sastra yang paling berpengaruh dijamannya. Kedua, Mbah Surip memulai hidup dengan menggelandang selama dua puluh tahun lebih untuk dapat mencapai puncak perjuangan selama 2 bulan saja. WS Rendra melalui dunia seni peran dan sastra telah mampu hidup mapan di Jakarta – satu diantara ribuan sastrawan yang berhasil.
WS Rendra seperti juga alm. Hari Rusli, sangat peduli pada nasib seniman-seniman yang masih terpinggirkan dan belum dikenal dimasyarakat. Saya kira, kebanyakan seniman memiliki naluri yang sama terhadap sesamanya yang belum beruntung. Dibengkel Teater, banyak seniman numpang hidup. Apakah sekedar meminta jatah makan atau benar-benar ingin bergelut hidup didunia kesenian. Bahkan rumah MH Ainun Najib di Jakarta juga sangat terbuka terhadap seniman-seniman yang masih kere dan belum mampu menghasilkan sesuatu untuk menopang hidupnya.
Mbah Surip adalah sosok seniman sejati, yang hidup menggelandang dari satu tempat ke tempat lain. Dan kebanyakan seniman memang pernah menjalani hidup seperti itu. Yang membedakan mbah surip dengan lainnya adalah kepolosan, ketulusan dan kesederhanaan. Perjuangan hidup yang luar biasa, dan tidak setiap orang mampu menjalaninya apalagi mereka yang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi. Melihat sosoknya yang penuh tawa, siapapun pasti akan betah berteman dengan mbah surip. Tentu saja, saya hanya sekedar bersimpati. Perjuangan sejati dan pergumulan hidup mbah surip selama 20 tahun sebagai seniman, tidak ada yang tahu kecuali mereka yang dekat yaitu komunitas kesenian di Jakarta yang pernah didatangi Mbah Surip.
Yang dapat saya petik dari perjalanan hidup mbah Surip adalah ketekunan dalam menjalani apa yang diyakini untuk menjadi hidup yang berarti bagi orang lain. Maka mbah surip telah memenuhi tugas sebagai manusia “Sekali berarti Sesudah Itu Mati”.
Selamat Jalan Mbah Surip Selamat Jalan WS Rendra..... Dunia berkesenian telah kehilangan seniman sejati. Yang satu penuh canda tawa, gimbal, semaunya. Yang satu serius, intelektual, berteman dengan banyak pejabat maupun mantan pejabat. Keduanya kembali kehadirat-Nya. Barangkali disana engkau dapat melepas lelahmu... tidak lagi “ampun pemerintah”.

TUMBANGNYA DOMINASI SEKOLAH NEGERI

BSNP melansir tingkat kelulusan ujian Nasional yang mencengangkan. SMA Swasta memiliki tingkat kelulusan 97 % sedangkan SMA Negeri 91 %. Sebuah penjungkirbalikan fakta yang selama ini diyakini dan memang telah teruji bahwa sekolah-sekolah negeri selalu unggul dalam berbagai hal termasuk kelulusannya. Tahun ini fakta tersebut ditumbangkan. Sekolah-sekolah Swasta dengan segala keterbatasan personalia, sarana dan prasarana, mampu melesat meninggalkan sekolah negeri yang masih dibuai oleh kebesaran masa lampau. Mengapa hal itu bisa terjadi ?
WARISAN MASA LAMPAU
Sekolah-sekolah negeri baik SD, SMP maupun SMA diera sebelum reformasi merupakan sekolah anak emas negara. Seluruh pembiayaan, personalia dan manajemen pendidikan dibawah pembinaan dan kendali ketat pemerintah. Sementara sekolah Swasta harus berjuang mati-matian untuk bertahan hidup. Meski ada satu dua sekolah swasta waktu itu cukup mapan, namun jumlahnya tidak imbang dengan banyaknya sekolah swasta yang hidupnya kembang kempis. Pengalaman saya waktu itu, untuk dapat bertahan hidup, sekolah swasta harus memiliki kemampuan survive. Jangankan mengaji guru dengan layak, membeli kapur tulis saja memerlukan perjuangan yang luar biasa. Jangan ditanya tentang fasilitas pendukung pendidikan. Tidak ada bantuan pembiayaan dari pemerintah, tidak ada pengawasan yang ketat dan kontrol dari pemerintah. Sekolah swasta harus berjalan sendiri dengan pembiayaan murni dari masyarakat dan yayasan. Hal ini sangat kontradiktif dengan sekolah negeri yang mendapat suntikan pembiayaan dari pemerintah.
Era itu telah berlalu, Reformasi memberi berkah tersendiri bagi sekolah swasta. Pemerintah, ditingkat SD/MI dan SMP/MTs, memberi bantuan yang sama baik negeri maupun swasta. Bantuan BOS, Dana Grant pengembangan sekolah, buku-buku dan tunjangan khusus bagi guru swasta. Yang terakhir dengan pengakuan swasta untuk mengikuti sertifikasi guru, merupakan hal yang tidak pernah terpikirkan oleh guru swasta ditahun 90-an.
Perlakuan yang sama, memberi motivasi yang luar biasa bagi sekolah swasta untuk menumbangkan fakta selama ini bahwa sekolah swasta kalah unggul dengan sekolah negeri.
Sementara sekolah-sekolah negeri, masih terobsesi dengan kebesaran masa lampau yang itu tidak ada artinya sama sekali. Gaji PNS yang besar, fasilitas sekolah yang paling modern, yang sayangnya tanpa didukung dengan motivasi internal yang kuat untuk terus berkembang dan tumbuh.
Ada banyak faktor kenapa tahun ini baik SD/MI, SMP/MTs maupun SMA/MA, sekolah swasta lebih unggul dalam hal kelulusannya dibandingkan dengan sekolah negeri. diantaranya ;
1. Motivasi kerja guru
2. manajemen pendidikan
3. Perlakuan yang adil swasta - negeri
MANAJEMEN PENDIDIKAN : KORUPSI DAN KINERJA SEKOLAH
Harus diakui sebenarnya, sekolah swasta memiliki latar belakang yang sangat beragam. Sementara sekolah negeri, memiliki manajerial yang lebih bagus baik dari sudut rekrutmen guru, Kepala Sekolah maupun staf administasinya. Banyak sekolah swasta yang asal comot guru karena tidak mampu menggaji seperti PNS disekolah negeri. Sementara untuk promosi kepala sekolah ala kadarnya tidak seperti di sekolah negeri yang memiliki prosedur standar dalam promosi kepala sekolah. Pendek kata tidak ada yang istimewa dari sekolah swasta.
Yang membedakan sekolah swasta dan negeri adalah pengelolaan sekolah yang lebih efisien disekolah swasta ketimbang disekolah negeri. Sekolah-sekolah negeri, seperti yang kita tahu, lebih banyak korupsi didalamnya ketimbang disekolah swasta. Korupsi disekolah negeri sudah sedemikian akut dan membahayakan bagi masa depan pendidikan. Tapi, nampaknya sampai saat ini masih adem ayem saja. Banyak kepala sekolah menjadi koruptor (dengan tanpa mengurangi rasa hormat pada sebagian kecil Kepala sekolah yang jujur), mempermainkan dana BOS, 'dakon anggaran sekolah', dana BOS buku, dana grant pengembangan sekolah, belum lagi tarikan dari wali siswa dengan berbagai alasan yang terkadang, orang paling bodoh sekalipun, mengerti bahwa itu hanyalah akal-akalan sekolah.
Tapi kepala sekolah tidak berdiri sendiri, dibelakang itu, ada dinas pendidikan kabupaten/kota yang menjadi raja-raja kecil, menuntut upeti dari setiap dana grant khususnya. Pendek kata, seperti kata ICW (Indonesian Corruption Wacth) kebocoran anggaran negara disekolah negeri mencapai angka 30 %. Padahal saat ini sekolah negeri setingkat SMP/MTs yang telah masuk katagori SSN saja, APBS (Anggaran Pendapatan Belanja Sekolah) telah mencapai angka 1 milyar lebih. Sebuah angka yang fantastis untuk ukuran unit kerja. Manajemen pendidikan tidak efektif karena banyak kebocoran anggaran. Pembiayaan pendidikan yang overload dan mengada-ada.
Sementara sekolah swasta yang tidak memiliki link sekuat sekolah negeri ditingkat dinas pendidikan mampu mengelola lebih efisien pembiayaan yang diberikan pemerintah maupun dari wali siswa. Saya memiliki teman, kepala sekolah swasta, yang harus dibui karena ngakali dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Padahal trik-trik ngakali seperti itu banyak terjadi disekolah negeri. Tapi seolah tidak terjamah dan didiamkan saja.
Akibat kondisi yang demikian, mempengaruhi kinerja sekolah. Banyak guru yang tahu korupsi disekolahnya, lebih memilih diam. Tapi diamnya guru, berarti melemahkan motivasi kerja dalam memacu prestasi anak didik. "Buat apa ngoyo, lha wong uangnya banyak dikorup kepala sekolah kok". Padahal inti pendidikan terletak pada guru, kemampuan untuk membangun motivasi anak didik memaksimalkan potensi yang dimiliki, sangat tergantung dari bagaimana guru mengelola kelasnya. Tidak ada yang lebih kuat meningkatkan prestasi belajar siswa, selain dari motivasi internal siswa itu sendiri untuk berubah dan mencapai perkembangan diri yang optimal.
MOTIVASI GURU : KESEJAHTERAAN VS KEBANGGAAN SEKOLAH
Hal lain yang membedakan swasta dan negeri adalah motivasi guru dalam menjalankan profesinya. Guru negeri yang mayoritas PNS, masih terfokus pada peningkatan kesejahteraan hidupnya yang memotivasi kerja mereka. Semakin baik sekolah memberikan kesejahteraan, akan semakin termotivasi guru tersebut menjalankan profesinya. Demikian juga sebaliknya, semakin rendah kesejahteraan yang diterima guru semakin rendah motivasi kerjanya. Guru berubah menjadi pedagang. "Seberapa anda memberi saya, maka saya beri sesuai harga yang anda berikan kepada saya". Ketika pemerintah memberikan tunjangan profesi guru, maka mereka yang mendapatkan tunjangan tersebut, memiliki kinerja yang luar biasa, sedangkan yang belum, lebih santai. dalam bahasa mereka "yang penting datang tepat waktu. mengajar. Pulang". Jangan ditanya tentang kualitas proses yang dijalankannya.
Guru disekolah swasta nampaknya memiliki motivasi lain, pertama karena gaji yang diterima tidak sebanding dengan rekan mereka yang di sekolah negeri, jumlah guru swasta yang tersertifikasi jauh lebih sedikit ketimbang guru negeri. Pendek kata, mereka tidak mungkin dapat bermimpi memiliki kesejahteraan yang setara dengan guru negeri. Saya melihat, bahwa guru swasta perlu memaksimalkan potensinya karena mereka memerlukan itu. Kelangsungan hidup sekolah swasta sangat tergantung dari prestasi mereka. Kalau sekolah tersebut tidak berprestasi, maka habislah sekolah mereka. berarti juga habis masa depan dan kehidupan guru tersebut. Mereka butuh mempertahankan sekolah, karena tanpa mereka sekolah akan ambruk dan bangkrut karena kehabisan siswa. Interaksi manajemen sekolah dengan guru khususnya jauh lebih informal dari pada disekolah negeri. Guru swasta lebih mudah berdiskusi dengan kepala sekolah untuk peningkatan kualitas sekolah mereka. Meskipun fasilitas yang disediakan sekolah lebih terbatas, namun, saya pikir inilah yang menjadikan mereka pekerja luar biasa dan hasil perjuangan mereka, dirasakan sekarang. Sekolah swasta menghabisi sekolah negeri.